Pages

Minggu, 01 April 2007

Resume Pengantar Manajemen Richard L.Daft : Chapter 15 Perilaku Organisasi


Perilaku Organisasional
Organizational Behaviour (OB) adalah sebuah ranah antar disipilin ilmu (psikologi, sosiologi, antropologi, etika, ekonomi, termasuk manajemen sendiri) yang ditujukan pada studi terhadap sikap-sikap, perilaku dan kinerja manusia (seseorang) dalam organisasi.

Sikap (Attitude)
Sikap adalah sebuah evaluasi kognitif dan afektif yang pada awalnya mendorong seseorang untuk melakukan tindakan (motorik) tertentu.
Komponen sikap :  Kognisi (pikiran), afeksi (perasaan), perilaku. Terdiri dari :
1.                        Komponen kognitif (pikiran) dari suatu sikap à kepercayaan, opini, pengetahuan.
2.                        Komponen afektif (perasaan) à emosi atau perasaan (menikmati, membenci, menyukai, menyetujui).
3.                        Komponen motorik (perilaku) à maksud dan tujuan seseorang  untuk berperilaku dengan cara tertentu.
Contoh :
Seorang Drafter Sebuah Perusahaan
                           Kognitif à (Pemikiran) Dia telah mendapatkan pendidikan dan pengetahuan tetang menggambar teknik.
                           Afeksi à (perasaan) Saya memilih pekerjaan drafter sehingga saya menyukai pekerjaan tersebut.
                           Perilaku à (tindakan) Saya mengerjakan dengan secepat mungkin.
                           Sikap yang muncul à Mengerjakan pekerjaan drafter dengan senang dan cepat.

Sikap-sikap yang terkait dengan pekerjaan :
Dua Sikap yang terkait dengan kinerja tinggi adalah :
1.                        Job satisfaction à sikap positif seseorang terhadap pekerjaan. Para manajer percaya bahwa kepuasan kerja yang terjadi dapat meningkatkan kinerja karyawan
2.                        Komitmen Organisasional à menunjukkan kesetiaan dan terlibat secara mendalam dalam organisasi. Komitmen pada organisasi menimbulkan upaya berkontribusi lebih banyak pada keberhasilan organisasi.

Konflik antar sikap (disonansi kognitif)
n  Adanya sikap-sikap yang bertentangan satu dengan yang lain (tidak tercermin dalam perilaku)
Misal : Karyawan yang berkomitmen pada pekerjaan (hingga lembur) akan bertentangan dengan komitmen berkumpul dengan keluarga adalah penting.

Persepsi
Persepsi adalah proses kognitif yang digunakan seseorang dalam memahami lingkungan dengan menyeleksi, mengorganisir, mengumpulkan dan menafsirkan informasi.
Proses Persepsi :
1. Mengamati informasi melalui indera,
2. Menyaring informasi dan menyeleksi apa yang diproses,
3. Mengorganisir data terpilih ke dalam pola-pola untuk diinterpretasi dan direspon.

Distorsi-Distorsi Perseptual
Distorsi Perseptual adalah kesalahan dalam penilaian perseptual yang timbul dari ketidakakuratan dalam suatu bagian dari proses perseptual.
Beberapa kesalahan yang perlu dikenali :
Í Stereotyping à Memasukkan seseorang atau sekelompok ke dalam generalisasi seseorang atau sekelompok orang (bisa bermakna negatif / positif).
Í Efek halo à Terjadi ketika mengembangkan kesan keseluruhan tentang seseorang berdasarkan suatu karakteristik (menguntungkan/tidak).
Í Proyeksi à  Cenderung melihat karakter pribadi (kebutuhan, perasaan, nilai-nilai) ke dalam diri orang lain. Perlu kesadaran diri dan empati untuk mengurangi persepsi ini.
Í Pertahanan perseptual à Kecenderungan pengamat untuk melindungi diri sendiri dengan mengesampingkan ide-ide, obyek-obyek, orang-orang yang dianggap mengancamnya.
Í Persepsi menimbulkan atribusi (penilaian-penilaian dan kesimpulan-kesimpulan pada rangsangan).
Atribusi adalah penilaian mengenai apa yang menyebabkan perilaku seseorang-tentang orang tersebut atau situasi tertentu. Ada 2 pandangan/pemahaman:
´  Atribusi internal à Karakteristik orang tersebut menuntunnya pada perilaku (atasan marah karena tidak sabar dan arogan).
´  Atribusi eksternal à Adanya suatu situasi (diluar orang/situasi yang dinilai) menyebabkan perilaku seseorang (atasan marah karena saya bekerja lamban dan banyaknya keluhan konsumen).

Kepribadian dan Perilaku
Kepribadian adalah seperangkat karakteristik yang mendasari suatu pola perilaku yang relatif stabil sebagai respon pada ide-ide, obyek-obyek, atau orang-orang di lingkungannya
Faktor-faktor kepribadian (big five) :
1.                  Keterbukaan à Tingkat dimana seseorang mudah bergaul, merasa nyaman dalam hubungan interpersonal.
2.      Keramahtamahan à Tingkat dimana seseorang berhubungan dengan orang lain dengan kebaikan hati, kooperatif, memaafkan, pengertian, memberi rasa kepercayaan.
3.      Kehati-hatian à Tingkat dimana seseorang berperilaku secara  bertanggungjawab, gigih, dapat diandalkan dalam mencapai tujuan.
4.      Kestabilan emosi à Tingkat dimana seseorang bersikap tenang, antusias, merasa aman.
5.      Keterbukaan pada pengalaman à Tingkat dimana seseorang memiliki ketertarikan luas imajinatif, kreatif, bersedia mempertimbangkan ide baru.

Sikap2 dan Perilaku yang dipengaruhi kepribadian :
1.                        Lokus kontrol à Apakah mereka menempatkan penyebab utama pada diri sendiri atau pada penyebab dari luar.
  1. Lokus kontrol internal , mereka mengendalikan nasib diri sendiri.
  2. Lokus kontrol eksternal, mereka sebagai ‘bidak/wayang’ dari sebuah nasib.
2.                        Otoritarianisme à  Kepercayaan bahwa perbedaan kekuasaan dan status harus ada.

3.                        Machiavellianisme à Niccolo Machiavelli (abad 16) pengarang buku “The Prince” tentang mempertahankan dan memperbesar kekuasaan. Kecenderungan untuk mengarahkan sebagian besar perilaku  seseorang pada akuisi kekuasaan dan manipulasi terhadap orang lain untuk kepentingan pribadi.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blog Archive

Blogroll

Ini adalah aneka tugas kuliah yang saya kerjakan dan saya dapatkan saat kuliah Manajemen tahun 2006 hingga lulus. Hampir sepuluh tahun yang lalu. Koreksilah dahulu, cocokkan dulu dengan bahasannya dan jangan asal kopi-paste, karena bisa saja edisi bukunya berbeda sehingga soal-soalnya berbeda dan akhirnya jawabannya juga berbeda. Adanya gini, jangan minta lebih. Kalau mau perfect ya kerjakan sendiri. Tugas-tugas saya ini hanya sebagai penunjang yang fungsinya supporting, bukan sebagai tulang punggungnya. Gunakan dengan bijak, semoga bermanfaat.

About