Pages

Sabtu, 03 Januari 2015

Essay Komunikasi Bisnis : Segmentasi pasar untuk produk baru, perlukah?


I.               Pendahuluan
Para ahli pemasaran telah banyak mengemukakan berbagai ragam strategi pemasaran yang tentunya dapat digunakan oleh para pemasar untuk meningkatkan penjualan mereka. Dalam pemilihan strategi pemasaran itu sendiri, sebuah perusahaan harus dengan jeli memilih srategi apa yang akan ditetapkan dalam memasarkan produk mereka demi mendapatkan hasil yang paling maksimal. Jika terdapat kesalahan sedikit saja, maka tak jarang perusahaan tersebut akan menanggung kerugian besar, baik itu berupa tingkat penjualan yang menurun, penurunan nilai produk di mata konsumen, dan sebagainya.
Strategi yang sering bahkan harus digunakan dalam pemasaran adalah segmenting, targeting, dan  positioning. Perusahaan diharuskan memilah-milah konsumen dalam beberapa kategori untuk kemudian dipilih yang paling cocok dengan produk yang mereka tawarkan. Kemudian dengan beberapa cara mulai membentuk dan mengkomunikasikan manfaat utama yang membedakan produk dengan para pesaingnya di dalam pasar (Kotler 1997:221). Strategi yang biasa disingkat menjadi STP ini telah terbukti sebagai dua strategi yang paling relevan dalam pemasaran (Kotler and Trias de Bes 2004:20). Dengan memfokuskan diri pada segmen pasar tertentu dan melakukan positioning dengan benar, perusahaan tentu akan lebih mudah memasarkan produknya pada konsumen.
Segmentasi pasar merupakan langkah awal dari pemetaan konsumen sebuah produk baru, dimana sebuah pemasar harus membagi konsumen dalam beberapa kategori menurut dasar-dasar tertentu. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk membahas segmentasi pasar sebuah produk baru yang akan diluncurkan kepada konsumen. Adapun kerangka berfikir dari studi ini adalah sebagai berikut: bagian kedua akan menunjukkan alasan mengapa segmentasi pasar perlu dilakukan untuk sebuah produk yang baru dilempar ke pasaran. Sedangkan bagian ketiga akan memaparkan sedikit tentang dasar segmentasi pasar yang dapat dipilih oleh pemasar. Selanjutnya pada bagian keempat akan mendiskusikan pengaruh segmentasi pasar terhadap penjualan produk. Dan kesimpulan akan disajikan pada bagian terakhir studi ini.
2. Pentingnya Segmentasi Pasar Untuk Produk Baru
Segmetasi pasar merupakan langkah awal dan yang paling mendasar dari prsoes pemasaran suatu produk baru (Nugroho, 2007). Hal ini penting dilakukan untuk menentukan target pasar, serta menentukan positioning oleh perusahaan sehingga terbentuklah suatu kelompok konsumen yang pada akhirnya menjadi loyal teradap produk tersebut. Dengan kata lain, keberhasilan suatu produk tergantung pada kejelian dalam mengklasifikasikan konsumen.
3. Dasar Segmentasi yang Dapat Diplih Pemasar
Segmentasi demografis membagi pasar dalam kelompok-kelompok berdasarkan variabel-variabel demografis seperti usia, ukuran keluarga, siklus hidup keluarga, jenis kelamin, penghasilan, pekerjaan, pendidikan, agama, ras, genersi, kewarganegaraan, dan kelas sosial (Kotler, 1997:227). Sebagai contoh, Extra Joss yang menetapkan pasar dengan menganalisa faktor demografis, Extra joss memilih bermain di wilayah konsumen yang berpenghasilan menengah ke bawah. Dengan begitu, Extra Joss berhasil meningkatkan omzet penjualan hingga Rp 10 miliar dalam waktu 3 tahun.
4. Pengaruh Segmentasi Pasar Terhadap Penjualan
Segmentasi pasar yang tepat saji mempengaruhi ketepatan dalam penentuan pasar sasaran serta positioning yang tepat pula. Dengan ketepatan semacam itu, tidak dapat diragukan bahwa sebuah produk akan meraup penjualan yang tinggi. Mungkin memang tidak mempengaruhi secara langsung, dan mungkin masih banyak “faktor X” yang turut serta dalam peningkatan penjualan. Namun, tanpa segmentasi pasar yang jeli melihat situasi pasar, penjualan pun tidak akan meksimal.
Referensi :
Kotler, P. 1997, Manajemen Pemasaran Edisi 9: Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol, Edisi Bahasa Indonesia Jilid I, PT Prenhallindo, Jakarta.
Kotler, P. & Trias de Bes, F. 2004, Lateral Marketing: Berbagai Teknik Baru untuk Mendapatkan Ide-ide Terobosan, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Nugroho, S 2007, Strategi Segmentasi Pasar, Tersedia di http://ppmfebugm.com/remarks/Strategi%20Segmentasi%20Pasar.html

Palupi,D. H. & Kartajaya, H. 1999, Bermain dengan Persepsi: 36 Kasus Pemasaran Asli Indonesia Seri 2, Elex Media Komputindo, Jakarta.

Rabu, 31 Desember 2014

Essay Komunikasi Bisnis : Segmentasi pasar dan positioning produk baru


I.               Pendahuluan
Para ahli pemasaran telah banyak mengemukakan  berbagai ragam strategi pemasaran yang tentunya dapat digunakan oleh parapemasar untuk meningkatkan penjualan mereka. Dalam pemilihan strategi pemasaran itu sendiri, sebuah perusahaan harus dengan jeli memilih srategi apa yang akan ditetapkan dalam memasarkan produk mereka demi mendapatkan hasil yang paling maksimal. Jika terdapat kesalahan sedikit saja, maka tak jarang perusahaan tersebut akan menanggung kerugian besar, baik itu berupa tingkat penjualan yang menurun, penurunan nilai produk di matakonsumen, dan sebagainya.
Strategi yang sering bahkan harus digunakan dalam pemasaran adalah segmentasi pasar dan positioning. Perusahaan diharuskan memilah-milah konsumen dalam beberapa kategori untuk kemudian dipilih yang paling cocok dengan produk yang mereka tawarkan. Kemudian dengan beberapa cara mulai membentuk dan mengkomunikasikan manfaat utama yang membedakan produk dengan para pesaingnya di dalam pasar (Kotler 1997, 221). Segmentasi pasar dan positioning  telah terbukti sebagai dua strategi yang paling relevan dalam pemasaran (Kotler and Trias de Bes 2004, 20). Dengan memfokuskan diri pada segmen pasar tertentu dan melakukan positioning yang benar, perusahaan tentu akan lebih mudah memasarkan produknya pada konsumen.
PT Bintang Toejoe, selaku produsen produk kesehatan berlabel Extra Joss, talah menerapkan strategi tersebut terhadap produk barunya pada tahun 1993, Extra Joss.  Oleh karena itu studi ini bertujuan untuk membahas segmentasi pasar dan positioning yang dilakukan oleh Extra Joss. Adapun kerangka berfikir dari studi ini adalah sebagai berikut: bagian kedua akan menunjukkan dasar segmentasi yang dilakukan oleh Extra Joss. Sedangkan bagian ketiga akan memaparkan sedikit strategi positioning yang Extra Joss lakukan. Selanjutnya pada bagian keempat akan mendiskusikan pengaruh kedua strategi tersebut pada penjualan produk. Dan kesimpulan akan disajikan pada bagian terakhir studi ini.

Referensi :
Palupi,D. H. & Kartajaya, H. 1999, Bermain dengan Persepsi: 36 Kasus Pemasaran Asli Indonesia Seri 2, Elex Media Komputindo, Jakarta.
Kotler, P. 1997, Manajemen Pemasaran Edisi 9: Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol, Edisi Bahasa Indonesia Jilid I, PT Prenhallindo, Jakarta.
Kotler, P. & Trias de Bes, F. 2004, Lateral Marketing: Berbagai Teknik Baru untuk Mendapatkan Ide-ide Terobosan, Penerbit Erlangga, Jakarta.
NN 2005, Cara Mengidentifikasikan Segmen Pasar, available at:   http://www.rsi.sg/indonesian/ruangbisnis/view/20050421172600/1/.html
Nugroho, S. 2007, Strategi Segmentasi Pasar, Available at: http://ppmfebugm.com/remarks/Strategi%20Segmentasi%20Pasar.html

Senin, 15 Desember 2014

Tugas Komunikasi Bisnis : Stagnasi Peran Intermediasi Perbankan: Apakah Tingkat Suku Bunga SBI Turut Berperan?

Abstrak
Sebagai salah satu lembaga keuangan yang turut perperan sebagai agent of development, bank memiliki kewajiban untuk dapat melakukan perannya sebagai lembaga intermediasi keuangan dengan baik. Namun  pada kenyataaannya, saat ini di Indonesia, bank-bank masih belum dapat melakukan peran intermediasinya dengan baik. Banyak aset produkstif bank yang mengendap dalam obligasi-obligasi pemerintah dan SBI. Seretnya peran intermediasi bank ini tidak hanya disebabkan oleh banyaknya aset produktif perbankan yang diinvestasikan dalam SBI dan obligasi-obligasi pemerintah, namun masyarakat sendiri masih kurang tertarik untuk melakukan pinjaman kepada bank karena tingkat suku bunga yang masih dirasa tinggi. Melihat fenomena tersebut, bagaimana tingkat suku bunga SBI turut berperan dalam stagnasi peran intermediasi perbankan? Mengingat banyaknya aset produktif dari bank yang diinvestasikan pada SBI. Hal ini membuat image bank berubah. Banyak kritikan ditujukan kepada sektor perbankan karena dianggap tidak mampu menyalurkan kredit sesuai yang diharapkan kalangan pengusaha. Kritikan pedas terhadap intermediasi perbankan muncul ditengah-tengah turunnya suku bunga SBI yang telah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir, khususnya setelah suku bunga SBI menyentuh angka keramat dibawah 10%. Jumlah  peningkatan pemberian kredit investasi yang tidak mengalami kenaikan sebanyak peningkatan kredit konsumsi dan kredit modal kerja membuat banyak kalangan menilai bahwa intermediasi perbankan belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan dan suku bunga kredit dianggap masih tinggi.

Kata Kunci: Intermediasi, Perbankan, SBI, Indonesia.


I.       Pendahuluan

Banyak literatur yang menyebutkan bahwa tugas utama sebuah bank adalah sebagai perantara kredit. Hal ini didukung oleh Simorangkir (2000: 9) yang mendefinisikan bank sebagai lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang. Pendapat tersebut memberi arti bahwa sebagai pemberi jasa dalam hal lalu lintas pembayaran dan peredaran uang, bank harus dapat menjalankan peran intermediasinya dengan baik.

Namun, seperti kebanyakan negara berkembang lainnya, peran intermediasi di masyakat masih belum dapat terlaksana dengan baik. Hal ini mengimplikasikan bahwa banyak bank-bank yang ada di negara berkembang lebih mengacu pada profit oriented, bukan sebagai lembaga intermediasi di bidang keuangan. Hal ini dikuatkan oleh pendapat dari Djanarko (2002) yang menganalisis bahwa peran intermediasi bank saat ini telah sangat berkurang karena berdasarkan penelitiannya hampir 43% aset dari bank diinvestasikan pada SBI dan sebagian obligasi pemerintah sedangkan kredit yang disalurkan kepada masyarakat hanya sekitar 37%.

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang seharusnya mulai melakukan perbaikan dalam mengelola sistem perbankannya. Penggiatan atas pinjaman-pinjaman bank yang dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan produktif harus mulai dipikirkan. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk membahas peran intermediasi bank-bank di Indonesia dan penyebab-penyebab seretnya peran intermediasi perbankan akhir-akhir ini. Ada pun kerangka berfikir dari studi ini sebagai berikut: bagian kedua meninjau seberapa besar peran intermediasi yang telah dilakukan oleh bank-bank di Indonesia melalui perbandingan antara jumlah kredit yang telah disalurkan dengan jumlah dana yang berhasil dihimpun. Pada bagian ketiga akan dipaparkan mengenai perilaku maksimasi laba yang dilakukan oleh sektor perbankan. Selanjutnya, pada bagian keempat akan mendiskusikan penyebab penurunan peran intermediasi bank serta langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah. Dan kesimpulan akan disajikan pada bagian terakhir studi ini.

2.      Jumlah Kredit yang Disalurkan oleh Perbankan dan Jumlah dana yang Berhasil dihimpun Perbankan Periode Tahun 2004 – 2006

Minimnya jumlah kredit yang disalurkan perbankan kepada masyarakat bukan berarti penurunan persentase jumlah kredit yang disalurkan oleh bank. Berikut akan ditampilkan grafik yang menunjukkan gap antara jumlah dana yang dihimpun perbankan dengan jumlah kredit yang disalurkannya:

Dari grafik di atas, dapat dilihat bahwa pada periode Januari 2004 – Mei 2005 gap antara jumlah kredit yang disalurkan sektor perbankan kepada masyarakat cukup besar. Gap tersebut mengimplikasikan banyaknya dana yang menganggur di sektor perbankan (idle fund). Dikarenakan banyaknya jumlah idle fund[1] itulah dana yang berhasil dihimpun bank dari masyarakat kemudian banyak diinvestasikan pada SBI dan obligasi-obligasi pemerintah yang dianggap risk free rate.

Namun, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, bukan berarti bahwa jumlah kredit yang disalurkan oleh bank kepada masyarakat berkurang. Selama periode Januari 2004 – Mei 2005 dapat dilihat peningkatan dalam jumlah pemberian kredit. Sayangnya, kenaikan jumlah kredit tersebut lebih didominasi oleh kenaikan pada kredit modal kerja dan kredit konsumsi (Hartati: 2005). Lebih lanjut, menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Hartati (2005), kredit modal kerja yang disalurkan pada bulan Mei 2005 mencapai Rp 311,74 triliun atau meningkat 4,33%. Disusul dengan kredit konsumsi yang juga meningkat sebanyak Rp 6,13 triliun (3,66%) dari Rp 167,5 triliun menjadi RP 173,63 triliun. Sementara kredit investasi hanya meningkat Rp 2,44 triliun (2,01%) dari Rp 121,52 triliun menjadi Rp 123,96 triliun. Dengan tidak adanya investasi baru, artinya jumlah tambahan kesempatan kerja yang diciptakan juga sangat minim.



Sumber: Kamar Dagang dan Indsustri Indonesia
 
 


Dari grafik di atas, secara ekspilisit dapat dilihat bahwa trend suku bunga SBI mulai bulan Januari 2006 cenderung mengalami penurunan. Penurunan tingkat suku bunga SBI terus dilakukan pemerintah sampai pada tahun 2007 yang sekarang telah mencapai 8,5%. Penurunan ini dilakukan untuk menggiatkan kembali permintaan kredit investasi oleh para pelaku bisnis dan sekaligus untuk memperbaiki kinerja perbankan sebagai lembaga intermediasi keuangan. Seiring dengan hal inilah, pada akhir tahun 2006 bank-bank umum mulai menurunkan suku bunga kreditnya. Sayangnya penurunan ini hanya dialami oleh kredit modal kerja, sedangkan suku bunga kredit investasi dan kredit konsumsi justru mengalami kenaikan.

Seretnya peran intermediasi perbankan inilah yang membuat pemerintah di awal tahun 2004 sampai akhir tahun 2005 terus menaikkan suku bunga SBI. Keadaan bank yang over liquid membuat pemerintah harus turun tangan dalam menyerap ekses likuiditas yang di perbankan yang masih relatif besar. Namun, melihat kecenderungan bank-bank umum yang kemudian lebih suka menyimpan aset-aset produktifnya di SBIlah yang membuat Bank Indonesia menurunkan tingkat suku bunga SBI mulai dari awal tahun 2006 sampai sekarang.

Namun, usaha BI yang secara bertahap terus menerus berusaha menerapkan kebijakan penurunan suku bunga nampaknya kurang berhasil. Perbankan masih lebih suka menyimpan dananya dalam bentuk SBI daripada menyalurkannya ke sektor riil. Djanarko (2002) mengungkapkan bahwa, pada akhir tahun 2006, pertumbuhan kredit perbankan hanya 10,7 persen, terkecil dalam lima tahun terakhir, dengan nilai nominal Rp 78,2 triliun. Di sisi lain, minat perbankan untuk menyimpan dananya dalam bentuk SBI terus mengalami peningkatan. Sampai akhir 2006, dana perbankan yang disimpan dalam bentuk SBI outstanding sudah lebih dari Rp 202 triliun, meningkat dengan pesat dari sekitar Rp 72 triliun pada akhir 2005.

3.      Perilaku Maksimasi Laba Oleh Sektor Perbankan

Berdasarkan analisis regresi yang telah dilakukan oleh Alejandro dan Ugo (2006), dapat disimpulkan bahwa bank-bank umum lebih cenderung menghindari risiko. Akibatnya bank-bank umum cenderung mengurangi jumlah kredit yang dipinjamkan pada saat perekonomian sedang menuju ke masa ekspansi. Hal ini dapat dilihat jelas, terutama di negara-negara yang sedang berkembang. Bank-bank umum cenderung kurang responsif terhadap perubahan perekonomian dalam skala makro dan lebih ke arah profit-oriented, sehingga melupakan tugas sosial mereka sebagai penyedia jasa layanan kredit.

Pendapat Alejandro dan Ugo di atas juga dikuatkan oleh Nuryakin dan Warjiyo (2006) dalam penelitiannya yang menghasilkan kesimpulan bahwa bank juga termasuk industri yang berperilaku maksimasi laba. Kecenderungan ini, terdapat pada hampir semua bank di Indonesia. Perilaku ini didukung oleh peraturan dari Bank Indonesia yang menyatakan bahwa pemberian KUK oleh bank diserahkan kepada kebijakan atau kemampuan tiap bank (Peraturan Bank Indonesia no. 3/2/PBI/2001). Alhasil, setelah dikeluarkannya kebijakan ini, bank lebih cenderung untuk melakukan investasi-investasi portofolio dan investasi SBI daripada memberikan kredit untuk menunjang sektor-sektor riil.

Kecenderungan yang dilakukan oleh bank-bank umum untuk menyimpan asetnya pada SBI dan obligasi pemerintah bukanlah tanpa alasan. Tingginya pendapatan yang didapat oleh bank dari penanaman investasi pada SBI dan obligasi pemerintah yang hampir menyamai penerimaan dari pemberian jasa kredit oleh bank, membuat bank-bank umum lebih memilih untuk menginvestasikan dananya pada SBI dan obligasi pemerintah. Alasan lain yang membuat bank-bank umum memiliki preferensi untuk menanamkan asetnya pada SBI dan obligasi pemerintah adalah jaminan free-risk yang akan didapatkan oleh bank-bank umum ketika mereka menanamkan modalnya pada SBI dan obligasi pemerintah. SBI yang notabene merupakan investasi bebas risiko merupakan salah satu pilihan aman untuk berinvestasi dalam iklim bisnis yang masih tidak stabil. Inilah sebabnya mengapa bank sampai saat ini masih menetapkan suku bunga yang tinggi untuk penyaluran kreditnya kepada masyarakat.

4.      Penyebab Berkurangnya Peran Intermediasi Perbankan serta Langkah-Langkah yang Dilakukan oleh Pemerintah

Telaah lebih lanjut mengungkapkan bahwa, berkurangnya peran intermediasi perbankan tidak terlepas dari perilaku sektor riil. Lemahnya permintaan kredit dari sektor riil juga merupakan salah satu penyebab melemahnya peran intermediasi perbankan. Iklim bisnis yang kurang kondusif membuat para pengusaha harus berpikir dua kali untuk melakukan pinjaman kepada bank, karena tingkat suku bunga bank yang masih dianggap cukup tinggi. Perilaku ini membuat bank harus melakukan alternatif investasi lain yang dianggap dapat menambah pendapatan dari bank tersebut. Dan salah satu alternatif yang diberikan oleh BI untuk menyerap ekses likuiditas dalam sektor perbankan adalah melalui SBI.

Argumen perbankan yang menyatakan bahwa turunnya kemampuan mereka dalam menyalurkan kredit disebabkan oleh melemahnya permintaan kredit dari sektor riil tidak sepenuhnya dapat diterima, kerena jika dikaitkan dengan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), alasan bahwa sisi permintaan yang menjadi penyebab utama turunnya kemampuan perbankan dalam menyalurkan kredit, masih harus dipertanyakan. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa sejak krisis ekonomi pada pertengahan 1997, peran UMKM dalam perekonomian Indonesia terus mengalami peningkatan. Ini terjadi karena UMKM lebih mampu beradaptasi dan menyiasati gejolak perekonomian. Dalam kaitan dengan UMKM, sisi penawaran dalam bentuk terbatasnya pengetahuan perbankan mengenai struktur, karakteristik, dinamika, dan economic feasibility UMKM, tampaknya menjadi penyebab mengapa perbankan membatasi penyaluran kreditnya ke UMKM. UMKM juga sering diasosiasikan sebagai pelaku ekonomi yang sulit memenuhi persyaratan administrasi dan tidak mempunyai pengalaman untuk mengelola kredit. Karenanya, di mata perbankan, menyalurkan kredit ke UMKM hanya akan meningkatkan risiko kredit macet (Adam: 2007).

Meskipun permintaan kredit yang dilakukan oleh UMKM telah cukup besar, namun bank-bank umum lebih memilih bermain secara safe. Resiko akan kredit macet merupakan salah satu faktor utama yang membuat bank lebih memilih untuk menginvestasikan dananya di SBI. Akibatnya, permintaan kredit yang dilakukan oleh UMKM-UMKM tersebut hanya akan terserap oleh BPR-BPR di wilayah setempat, padahal secara eksplisit dapat dilihat bahwa DPK[2] yang berhasil dihimpun oleh BPR tidak sebanyak DPK yang berhasil dihimpun oleh bank-bank umum.

Perilaku bank-bank umum yang cenderung menginvestasikan ekses likuiditasnya di dalam SBI juga akan berpengaruh kepada performa ekonomi secara makro. Kebijakan moneter yang dilakukan untuk mengerem laju inflasi dan nilai tukar rupiah melalui instrumen SBI tidak akan membuat produktivitas masyarakat mengalami kenaikan. Salah satu bukti riil terjadi pada bulan April 2005 dimana suku bunga SBI mengalami kenaikan dari 7,53% menjadi 7,7% dan efek yang disebabkan adalah anjloknya indeks gabungan saham di Bursa Efek Jakarta sebesar 23,142 poin, dan nilai tukar rupiah turun 85 poin (Sudjana: 2005).

Salah satu langkah yang dilakukan oleh pemerintah dalam menanggapi peran intermediasi bank yang semakin berkurang adalah dengan moral suassion. Moral suassion yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan memberikan himbauan kepada bank-bank umum untuk turut serta dalam memajukan perekonomian Indonesia dengan kembali menggiatkan aktivitas kreditnya khususnya kredit investasi.

Moral suassion ini, selain untuk menggiatkan fungsi intermediasi bank, juga diharapkan akan memberikan efek positif terhadap produktivitas masyarakat. Dengan adanya peningkatan yang dilakukan oleh bank dalam memberikan kredit investasi, maka para pengusaha meningkatkan produktivitasnya melalui pendirian-pendirian usaha baru. Selanjutnya, usaha-usaha baru tersebut akan menyerap tenaga kerja menganggur yang ada di Indonesia.

5.      Kesimpulan

Penurunan peran intermediasi bank yang terjadi selama tahun 2004 – 2006 terbukti dengan gap yang masih cukup besar antara DPK yang berhasil dihimpun dengan jumlah kredit yang disalurkan kepada masyarakat. Ekses likuiditas yang disebabkan oleh gap itulah yang lantas membuat bank-bank umum mengalihkan aset-aset produktifnya kepada SBI dan obligasi pemerintah. Usaha awal pemerintah yang dimaksudkan untuk menyerap ekses likuiditas ini ternyata menimbulkan dampak pada berkurangnya peran intermediasi yang dilakukan oleh perbankan. Bank lebih cenderung untuk menginvestasikan DPK yang berhasil dihimpunnya untuk kemudian diinvestasikan pada SBI dan obligasi-obligasi lain yang diterbitkan oleh pemerintah. Argumen bank yang menyatakan bahwa hal lain yang menyebabkan peran intermediasinya berkurang dianggap kurang relevan karena jika dikaitkan dengan peningkatan jumlah UMKM yang memerlukan kucuran dana kredit, maka alasan tersebut masih perlu dipertanyakan. Pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan moral suassion yang ditujukan untuk kembali menggiatkan penyaluran kredit investasi oleh bank-bank umum. Himbauan ini diharapkan dapat kembali menggiatkan fungsi intermediasi perbankan dan membuat dunia perbankan mulai melirik UMKM sebagai debitur potensial.

Refrensi
Adam, L., ‘Kemitraan Perbankan, Sebuah Alternatif’, Badan Pengkajian Ekonomi, Keuangan dan Kerjasama Internasional, Bisnis-Indonesia, Februari 2007,. [dikutib 17 Mei 2007] Tersedia di internet <URL:httpwww.bapekki.go.id>

Astiyah, S. & Husman, A. J., ‘Fungsi Intermediasi dalam Efisiensi Perbankan di Indonesia: Derivasi Fungsi Profit’, Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan 2006, Working paper n.3: 13-4.

Djanarko, ‘Kinerja Perbankan Belum Membaik’, Kompas Ekonomi, 12 Febuari 2002: 15

Gustari, I., ‘Meratapi Peran Intermediasi Bank’, Infobanknews.com, Info Bank, 27 Agustus 2003, [dikutib 17 Mei 2007] Tersedia di internet <URL:http://www.infobanknews.com/analisis strategi perbankan dan keuangan.htm>

Hartati, Sri, E., ‘Perkembangan Indikator Ekonomi dan Bisnis Indonesia Triwulan II 2005 dan Kecenderungan Pada Triwulan III 2005’, Bisnis dan Ekonomi Politik , vol. 6, no. 1: 94-5

Hidayat, K., ‘Suku Bunga Kredit Naik, Intermediasi Bank Kembali Seret’, Sinar Harapan News, Keuangan 1, 2003, [dikutib 17 Mei 2007] Tersedia di internet <URL:http://sinarharapan..com/keu1.htm>

Micco, A. & Panizza, U., 2006, ‘Bank Ownership and Lending Behaviour,’ Repec, Working paper n. 67: 2-5

Nuryakin, C. & Warjiyo, P., ‘Perilaku Penawaran Kredit Bank di Indonesia: Kasus Pasar Oligopoli periode Januari 2001 – Juli 2005’, Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan 2006, Working paper n. 2: 2-5

Simorangkir, O. P. Drs., 2000, Lembaga Keuangan Bank dan Non Bank, Ghalia      
          Indonesia, Bogor.

Sudjana, A.,’Mencermati Kinerja Perbankan Kita’, Pikiran Rakyat, [dikutib 26 Juni 2007] Tersedia di Internet <URL: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0505/23/mencermati_kinerja_perbankan_kita.htm>

Winarno, Sigit, S.E. & Ismaya, Sujana, S.E., 2003, ‘Kamus Besar Ekonomi’, CV Pustaka Grafika, Bandung.

Zetha, E. & Tabunan, Tulus, DR., ‘Laporan Ekonomi Bulanan Oktober 2006’, Kamar Dagang dan Industri Indonesia, [dikutib 26 Juni 2007] Tersedia di internet <URL:http://www.kadin-indonesia.or.id>



* Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga Jl. Airlangga no. 4 Surabaya
[1] uang menganggur atau uang yang belum digunakan, misalnya karena kelebihan alat-alat likuid dalam suatu bank (Winarno: 2003, 250)
[2] Dana Pihak Ketiga

Minggu, 07 Desember 2014

Resume Akuntansi Keuangan Menengah : Financial and Management Accounting


Accounting’s role of helping decision makers by measuring, processing and communication information is usually divided into the categories of management accounting and financial accounting. Although there is considerable overlap in the functions of management accounting and financial accounting, the two can be distinguished by who the principal users of their information will be. Management accounting provides internal decision makers who are charged with achieving the goals of profitability and liquidity with information about financing, investing and operation activities. Managers and employees who conduct the activities of the business need information that tell them how they have done in the past and what they can expect in the future. For example, Woolworths needs an operating report on each outlet that tells how much was sold at that outlet and what cost were incurred, and it needs a budget  for each outlet that projects the sales and cost for  the next year. Sometimes the term ‘cost accounting’ is used instead of management accounting. Financial accounting generates report and communicates them to external decision makers so that they can evaluate how well the business has achieved its goals. These reports are called financial statements. Woolworths, for instance, will send its financial statements to its owners, its banks and other creditors, and government regulators. Financial statements report directly on the goals of profitability and liquidity and are used extensively both inside and outside a business to evaluate the business’s success. Its important for every person involved with a business to understand financial statements. They are a central feature of accounting and are the primary focus of this book.
  
Summary of main points in preceding excerpt :
The role of accounting can be divided into 2 categories :
1. Management accounting, information for decision-makers inside the company about what has happened in the past and what to expect in the future.
2. Financial accounting, information for decision-makers outside the company. Usually in the form of financial statements.
The purpose of accounting is to provide information  for the purposes of assessment and decision making.

Main idea in one sentence:
Accounting is providing information for decision-makers either inside or outside a company.
  
Another trade-off society faces is between efficiency and equity. Efficiency means that society is getting the most it can from its scarce resources. Equity means that the benefits of those resources are distributed fairly among society’s members. In other words, efficiency refers to the size of the economic pie, and equity refers to hoe the pie is divided. Often, when government policies are being designed, these two goals conflict.
  
Main idea/summary :
Efficiency/equity trade off

These can conflict 

Rabu, 03 Desember 2014

Tugas Essay Manajemen Pemasaran : PERANG TARIF HARGA OPERATOR


Belakangan ini persaingan tarif telepon selular sudah semakin marak. Tawaran-tawaran menarik dari operator, mulai tarif murah per menit, perdetik bahkan sepuasnya (asalkan sambungan tidak putus ditengah jalan, jika demikian pelanggan akan memulai tarif baru dari awal ) agaknya semakin membingungkan konsumen untuk menentukan tarif mana yang sebenarnya lebih murah.
Seperti diketahui, harga adalah satu-satunya faktor dari 4P (bauran pemasaran) yang dapat dirubah dan dirasakan pengaruhnya dengan seketika. Tidak seperti faktor yang lain seperti, produk, distribusi atau promosi, harga adalah satu-satunya faktor bauran pemasaran yang menghasilkan pemasukan ke perusahaan (creating revenue), sedan 3P yang lain (produk, place, promotion) adalah biaya (costs ). Jadi jelas sangatlah nikmat untuk berkompetisi lewat harga, apalagi jika operator besar dengan modal yang besar pula karena terbukti efisien (tepat sasaran, setidaknya pada jangka pendek) dan hasilnya anda bisa lihat seketika.
Biasanya sebelum konsumen membeli suatu produk baru, mereka akan melalui beberapa tahapan seperti, pengenalan (awareness), ketertarikan (interest), pertimbangan (evaluation), pencobaan (trial) dan pemakaian/penolakan (adopt/reject). Agaknya dengan iklan-iklan tersebut pelaku pasar hendak mencari jalan pintas untuk mendorong konsumen hingga ke tahap interest (ketertarikan) dalam waktu singkat, sedang yang harus disadari masih ada beberapa tahap lagi yang sangat krusial seperti, evaluasi, pencobaan dan pengambilan, yang mana perlu usaha extra dari sekedar menawarkan harga murah.
Perang harga tersebut mungkin saja dinikmati oleh konsumen tapi sebenarnya jika dibiarkan lebih lanjut hal ini bisa mengarah ke situasi-situasi tertentu, suatu keadaan dimana kedua belah pihak tidak akan diuntungkan. Pelaku bisnis tentunya akan dipaksa beroperasi dengan margin rendah karena pasar yang sangat kompetitif. Kebanyakan konsumen yang diuntungkan justru konsumen lama bukan konsumen baru, hal ini dikarenakan mereka sudah lebih kenal (aware) dengan brand tersebut.
Konsumen tentunya tidak dapat melihat perbedaan (differensiasi) yang mendasar diantara produk yang ditawarkan operator karena semua hanya berbeda pada harga saja. Sehingga mudah ditebak, konsumen akan menjadi tidak loyal dan hanya membeli sewaktu ada promosi saja.


Pelaku bisnis operator telekomunikasi yang tepat hendaknya berani mengambil inisiatif untuk mendifferensiasikan produknya, membuat segmentasi yang jelas, membangun ekuitas brandnya, di pasar yang ’akan menuju ke arah komoditas ini’ sehingga mendapat keuntungan dari margin yang lebih besar dari pelaku pasar yang lain. Mereka tidak hanya memperhatikan investasi pada harga saja tapi juga tidak melupakan investasi lain untuk membangun kekuatan merek. Dengan demikian mereka akan memiliki konsumen yang lebih loyal dan tidak termotivasi karena harga saja.

Senin, 01 Desember 2014

Resume Manajemen Keuangan 2 : SUMBER DANA JANGKA MENENGAH


Sewa Guna Usaha (Leasing)
Kontrak leasing adalah perjanjian dimana pemilik aset memindahkan hak pakai atas aset yang dimilikinya kepada pemakai dengan imbalan serangkaian pembayaran dengan jumlah dan jangka waktu yang disepakati.
               
                Lessor : pemilik aset
                Lessee : pemakai aset
Jenis Kontrak Leasing
          Finance (Capital) Lease adalah kegiatan Sewa Guna Usaha, dimana Penyewa Guna Usaha pada akhir masa kontrak mempunyai hak opsi untuk membeli objek sewa guna usaha berdasarkan nilai sisa yang disepakati bersama
          Operating Lease adalah kegiatan Sewa Guna Usaha dimana Penyewa Guna Usaha tidak mempunyai hak opsi untuk membeli objek sewa guna usaha
Ciri-ciri capital lease adalah sebagai berikut:
          Teramortisasi secara penuh (fully amortized), yang artinya total lease payment sama dengan biaya pengadaan aktiva plus keuntungan lessor
          Tidak menyediakan jasa perawatan
          Tidak dapat dibatalkan

Ciri-ciri operating lease adalah sebagai berikut:
          Tidak teramortisasi secara penuh {notfully amortized), artinya total lease payment lebih kecil dari biaya pengadaan aktiva
          Usia kontrak lease lebih pendek dari usia ekonomis aktiva yang diperkirakan
          Lessor mengharapkan keuntungan dari me-leasing aktivanya beberapa kali
          Ada klausul "cancellation" atau dapat dibatalkan. Klausul ini memberi hak kepada lessee untuk membatalkan kontrak lease sebelum jatuh tempo
Bentuk leasing:
          Direct leasing
          Sale and lease back
          Leveraged lease
Keuntungan leasing
          Fleksibel/luwes
          On/Off Balance Sheet
          Capital Saving
          Adanya hak opsi bagi lessee pada akhir masa lease
          Cara yang menguntungkan bagi perusahaan kecil untuk memenuhi atau memodernisasi usaha
          Menahan pengaruh inflasi
Kerugian Leasing
          Sumber pembiayaan yang relatif mahal
          Masalah prestise 
To lease or to borrow?
Sebuah perusahaan membutuhkan mesin baru dengan harga Rp 200.000,00 dan  mempunyai umur ekonomis 10 tahun. Terdapat dua alternatif pembelanjaan mesin tersebut, yaitu dengan leasing atau dengan meminjam. Jika dibelanjai dengan leasing, pihak lessor menghendaki seluruh nilai mesin disusut selama 10 tahun dan keuntungan sebesar 8%. Biaya leasing dibayar di muka. Jika mesin dibeli dengan melakukan pinjaman, mesin tersebut disusut dengan metode garis lurus selama 10 tahun tanpa nilai sisa. Perusahaan memperoleh investment tax credit sebesar Rp 20.000,00 pada saat investasi dilaksanakan. Perusahaan dapat meminjam dengan bunga 10% dan pajak pendapatan perusahaan 50%. Biaya operasi baik dibelanjai dengan leasing maupun pinjaman dianggap sama.
a. Alternatif Leasing.
Besarnya pembayaran biaya leasing tiap tahun:
                                           9            X
                Rp 200.000,00 =
å -------------------
                                            t=0  ( 1 + 0,08 )t
               
                                Rp 200.000,00 =  X  +  6,2469 X
                                Rp 200.000,00  =  7,2469 X
                                          X  = Rp 27.598,00
(Atau dapat dihitung dengan rumus Present Value of annuity Due)
Perhitungan nilai sekarang arus kas keluar alternatif leasing

(1)                    (2)                  (3)                          (4)           
          End of           lease                          tax                 cash outflow         PV. of cash
          year            payment                 shield               after taxes                        outflow        
                                                                                               (1) – (2)                             5%
          -----------------------------------------------------------------------------------------------
          0              Rp 27.598                      0                   Rp 27.598            Rp 27.598
          1 – 9             27.598          Rp 13.799                         13.799                   98.081
          10                      0                      13.799                  ( 13.799  )            (         8.471  )
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 ------------------
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   Rp 117.208
                                                                                                                                                                                                                                                                                                          
Keterangan:
          Discount rate = 5% , berasal dari suku bunga pinjaman setelah pajak , yaitu: 10% x ( 1 – 0,50).
          Tax shield = Rp 13.799, berasal dari:  50% x ( Rp 27.598 ).
b. Alternatif  Pinjaman
Besarnya jumlah investasi:
Harga mesin                                         Rp 200.000,00
Investment tax credit                                 20.000,00
                                                                --------------------
                                                                Rp 180.000,00



Jumlah angsuran pinjaman dan bunga tiap tahun:
                               9          X 
Rp 180.000,00  = å  ----------------
                              t=0  ( 1 + 0,10 )t

Rp 180.000,00  =  X  +  5,7590 X
Rp 180.000,00  = 6,7590 X
                         X    = Rp 26.631
(Atau dapat dihitung dengan rumus Present Value of annuity Due)
- Jadwal pembayaran utang:

Akhir                      Pembayaran             Pokok pinjaman                             Bunga tiap
tahun                     pokok dan bunga     pada akhir tahun                               tahun

0                              Rp 26.631                             Rp 153.369                             Rp          0
1                                    26.631                                   142.075                                   15.337
2                                    26.631                                   129.652                                   14.208
3                                    26.631                                   115.652                                   12.965
4                                    26.631                                   100.954                                   11.599
5                                    26.631                                     84.418                                   10.095
6                                    26.631                                     66.229                                     8.442
7                                    26.631                                     46.221                                     6.623
8                                    26.631                                     24.212                                     4.622
9                                    26.631                                              0                                  2.421
Perhitungan nilai sekarang arus kas keluar alternatif pinjaman:
-----------------------------------------------------------------------------------------------
                   ( 1 )               ( 2 )         ( 3 )                     ( 4 )           ( 5 )  ( 6 )  
Akhir     Pembayaran     Bunga Penyusutan       Tax shield      Arus kas    PV arus kas
tahun      pinjaman                                                setelah             keluar
                                                                                     pajak                                       5%
                                                                                 (2+3)0,5       ( 1 – 4 )                                          
----------------------------------------------------------------------------------------------
0             Rp.26.631   Rp     0         Rp      0          Rp       0     Rp 26.631     Rp  26.631
1                    26.631      15.337     20.000                  17.669          8.962           8.535
2                    26.631      14.208     20.000                 17.104          9.527           8.641
3                    26.631      12.965     20.000                 16.483        10.148           8.766
4                    26.631      11.599     20.000                 15.800        10.831           8.911
5                  26.631      10.095     20.000                    15.048        11.583           9.076
6                    26.631        8.442     20.000                  14.221        12.410           9.261
7                    26.631        6.623     20.000                  13.312        13.319           9.466
8                    26.631        4.622     20.000                  12.311        14.320           9.692
9                    26.631        2.421     20.000                  11.211        15.422           9.941
10                    0                    0      20.000                     10.000       (10.000)        (6.139)
                                                                                                                         ---------------
                                                                                                                                     Rp 102.781
Term Loan
          Karakteristik umum :
ü  Mempunyai jangka waktu antara 1 – 5 tahun.
ü  Dilunasi secara berkala,  triwulanan, semesteran ataupun tahunan.
ü  Umumnya dijamin dengan chattel mortgage agreement atas barang-barang modal atau atas property. Umumnya penyedia term loans adalah bank komersial, perusahaan asuransi, dan kadang-kadang dana pensiun.
          Contoh Perhitungan Term Loans:
ü  Suatu kredit jangka menengah sebesar Rp. 1,2 milyar diberikan dengan tingkat bunga 18% per tahun selama jangka waktu 2 tahun, dan harus dilunasi dengan cara anuitas. Pelunasan dilakukan setiap  semester,  dimulai dengan semester pertama masa yang akan datang. Jika bunga dinyatakan digandakan setiap semester. Angsuran per semester yang ditanggung oleh debitur adalah:
Rp. 1,2 milyar  =                 

Rp. 1,2 Milyar  = 3,2397 X
                                X                  =  Rp. 370,4 juta.
                                                                                                                                                                                                                             (Atau dapat dihitung dengan rumus Present Value of ordinary annuity)



 

Blogroll

Ini adalah aneka tugas kuliah yang saya kerjakan dan saya dapatkan saat kuliah Manajemen tahun 2006 hingga lulus. Hampir sepuluh tahun yang lalu. Koreksilah dahulu, cocokkan dulu dengan bahasannya dan jangan asal kopi-paste, karena bisa saja edisi bukunya berbeda sehingga soal-soalnya berbeda dan akhirnya jawabannya juga berbeda. Adanya gini, jangan minta lebih. Kalau mau perfect ya kerjakan sendiri. Tugas-tugas saya ini hanya sebagai penunjang yang fungsinya supporting, bukan sebagai tulang punggungnya. Gunakan dengan bijak, semoga bermanfaat.

About