Pages

Rabu, 26 November 2014

Tugas Akhir Komunikasi Bisnis : Pengaruh Merek Terhadap Loyalitas dan Sikap Konsumen

Abstrak

Merek adalah identifikasi sebuah produk yang ditumpahkan ke sebuah nama, logo, desain atau hal – hal lain yang dapat mewakili atribut, manfaat, nilai, budaya, kepribadian, dan pemakai produk tersebut. Pandangan konsumen terhadap sebuah merek,tidak lepas dari bagaimana perusahaan menciptakan pandangan tersebut kepada konsumen. Menurut beberapa penelitian pemberian merek pada suatu produk dapat menarik loyalitas konsumen dan mengubah sikap konsumen. Loyalitas konsumen merupakan salah satu hal penting yang dapat mendorong suatu perusahaan mencapai tujuannya. Loyalitas konsumen membawa banyak sekali keuntungan bagi perusahaan, misalnya meningkatkan penjualan perusahaan, mengurangi biaya penjualan, dan dapat mempengaruhi orang lain untuk menikmati produk yang sama. Loyalitas konsumen tersebut dapat saja berubah diikuti dengan perubahan sikap konsumen jika suatu saat merasa merek produk perusahaan tersebut menjadi kurang baik di mata konsumen atau merasa ada merek dari produk lain yang lebih baik di mata konsumen. Adalah sebuah tanggung jawab yang besar bagi sebuah perusahaan menjaga merek mereka agar tetap baik di mata konsumen, karena merek identik dengan produk tersebut.

Kata Kunci:Merek, Konsumen, Produk, Loyalitas Konsumen,    Sikap Konsumen.             


I.`Pendahuluan


Era globalisasi yang telah mempengaruhi segala aktivitas ekonomi di dunia memberikan peluang yang besar dan tantangan yang tinggi pula bagi semua perusahaan. Keadaan ini menciptakan pasar yang lebih luas bagi pelaku ekonomi, namun di sudut pandang berbeda keadaan ini juga menciptakan persaingan yang semakin kuat dan kejam, mengingat para konsumen juga mendapatkan informasi dan komunikasi yang semakin canggih (Tony dan Tumpal, 2005).

Istilah loyalitas pelanggan menunjukkan pada kesetiaan pelanggan pada objek tertentu, seperti merek, produk, jasa, atau toko. Pada umumnya merek seringkali dijadikan sebagai objek loyalitas pelanggan. Loyalitas merek mencerminkan loyalitas pelanggan pada merek tertentu (Rully,2006). Pelanggan mempunyai banyak alasan mengapa dia harus menjadi pelanggan yang setia pada merk tertentu. Dan menjadikan sebuah merek pada produk seperti itu tidaklah mudah bagi suatu perusahaan.

Merek yang paling kuat menyajikan lebih daripada sekedar daya tarik rasional: merek tersebut mengandung kekuatan emosional (Kotler,2005:83). Maksudnya,yaitu pada saat merek menyentuh emosional konsumen dan membawa konumen jauh ke dalamnya, bukan hanya sekedar memperlihatkan atribut-atribut tertentu saja.

Merek mempunyai peranan yang penting bagi loyalitas dan sikap konsumen, karena merek dari sudut pandang konsumen adalah sebuah nilai, janji, kepribadian, serta harapan. Merek pada produk tertentu mempunyai kekuatan untuk menarik loyalitas konsumen, karena mempunyai karakteristik tertentu yang digemari oleh konsumen tertentu pula. Adalah sebuah tanggung jawab perusahaan untuk tetap menjaga nama baik merek tersebut di mata konsumen.


II. Pengertian Merek


Di masa lalu, banyak perusahaan mengeluarkan merek untuk salah satu produk mereka. Banyak sekali, perusahaan di antara mereka yang mendapat efek yang kurang baik dari keberadaan merek yang mereka beri untuk produk tersebut, bahkan tidak sedikit perusahaan yang menyadari penyebabnya. Hal-hal seperti itu disebabkan oleh pemberian merek yang tidak tepat terhadap produk tersebut, mungkin saja merek tersebut terdengar lucu, pengucapan yang sulit, atau tidak mempunyai arti.

Pemberian nama merek, telah menjadi masalah perusahaan yang sangat penting dalam strategi produk. Pemberian nama merek adalah sesuatu yang dilakukan perusahaan diikuti investasi jangka panjang berupa periklanan, promosi, penjualan, dan pengemasan (Yunita,2001).

Merek adalah nama, istilah, tanda, simbol atau rancangan atau kombinasi hal – hal tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari seseorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing (Kotler, 2005:82).

Merek bisa berupa nama, merek dagang, logo atau simbol lain. Merek menjadi alat untuk mengidentifikasikan penjual atau pembuat merek. Selain itu, merek sebenarnya merupakan janji penjual untuk secara konsisten memberikan gambaran, manfaat dan jasa tertentu pada pembeli. Merek – merek terbaik memberikan jaminan kualitas, lebih dari sekedar simbol .Merek mempunyai enam pengertian, yakni (Kotler, 2005:82) :

  1. Merek mengingatkan pada atribut atribut tertentu, contoh mercedes menyatakan sesuatu yang mahal, terancang baik, tahan lama, bergengsi tinggi, nilai jual kembali yang tinggi, cepat dan lain-lain.
  2. Merek menggambarkan manfaat suatu produk, merek lebih dari atribut, karena pelanggan tidak membeli atribut melainkan membeli manfaat. Contoh atribut tahan lama pada produk Mercedes menunjukkan manfaat fungsional untuk tidak perlu membeli mobil baru dlm periode tertentu.
  3. Menyatakan sesuatu tentang nilai produsen, Mercedes berarti kinerja tinggi, keamanan, gengsi, dan lain-lain.
  4. Mewakili budaya tertentu, Mercedes mewakili budaya jerman : terorganisai, efisien dan kualitas tinggi.
  5. Mencerminkan kepribadian tertentu, jika Mercedes diumpamakan seseorang, maka Mercedes mencerminkan seorang pimpinan yang masuk akal.
  6. Merek menunjukkan jenis konsumen yang membeli atau menggunakan produk tersebut. Pemakainya adalah orang-orang yang menghargai nilai, budaya, dan kepribadian produk tersebut.


III. Konsep Loyalitas Merek dan Sikap Konsumen

Bagaimana kita memahami loyalitas konsumen, kita juga semestinya membutuhkan pemahaman tentang dasar-dasar pembelajaran konsumen, alasan kenapa kita membutuhkannya karena teori pembelajaran memfokuskan pada perilaku konsumen dan konsistensinya sepanjang waktu, penjelasan tersebut memberikan gambaran bahwa pembelajaran, kebiasaan, dan loyalitas merupakan konsep yang saling berhubungan (Rully,2006). Dalam konsep proses membangun sebuah hubungan emosional dengan sebuah merek, hal yang penting ialah membangun kepercayaan pada merek. (Paul, 2002:109)

Penelitian yang mengambil objek tentang loyalitas pelanggan telah menggunakan  berbagai ukuran keprilakuan (behavioral measurements). Loyalitas berdasarkan ukuran keprilakuan didefinisikan sebagai pembelian ulang (repeat purchase), proporsi pembelian, serangkaian pembelian, dan probabilitas pembelian (Dick dan Basu,1994).

Menurut Dick dan Basu (1994), hubungan antara sikap relatif dan pembelian ulang menghasilkan empat tipe loyalitas pelanggan. Keempat tipe loyalitas pelanggan itu adalah true loyalty (loyalitas sesungguhnya), latent loyalty (loyalitas yang tersembunyi), spurious loyalty (loyalitas palsu), dan no loyalty (tidak adanya loyalitas).
                                  Repeat Patronage
                                  High                           Low
                   
Loyalty
Latent Loyalty
Spurious Loyalty
No Loyalty
              High
Relative
Attitude            
              Low
       
Gambar III.1. Hubungan Sikap Relatif pada Pembelian Ulang
Sumber: Dick dan Basu(1994)


Gambar tersebut menjelaskan loyalitas yang sejati dan benar-benar (true loyalty) terjadi karena pembelian ulang yang tinggi dan diikuti oleh sikap relative yang tinggi. Hal ini terjadi karena konsumen sudah mengetahui adanya perbedaan pada kualitas produk tersebut dibanding dengan kualitas dari produk pesaing lain, sehingga konsumen memiliki tingkat pembelian yang tinggi. Spurious loyalty terjadi saat konsumen memiliki pembelian yang tinggi sedangkan sikap relatifnya tergolong rendah. Hal itu disebabkan oleh  hanya ada satu merek tersebut saja yang tersedia dan ditawarkan di pasar. No loyalty, terjadi di saat konsumen memiliki sikap relatif yang rendah dan diikuti oleh  pembelian ulang yang rendah juga. Penyebab terjadinya tidak adanya loyalitas adalah perasaan tidak adanya perbedaan merek produk tersebut dengan merek yang lain pada konsumen. Laten loyalty, yaitu pembelian ulang rendah meskipun mempunyai sikap relatif yang tinggi. Penyebab hal tersebut adalah pengaruh situasional yang mempengaruhi tingkat pembelian konsumen tersebut.

IV. Tantangan Loyalitas dan Sikap Konsumen Menghadapi Pengaruh Keberadaan Merek

Pertanyaan yang paling pertama terucap ketika produk akan dipasarkan untuk  pertama  kali adalah, apakah produk ini menggunakan merek atau tidak? Mungkin pada awalnya,tidak banyak produk yang menggunakan merek, dan konsumen hanya mengandalkan integritas penjual tersebut. Tetapi, apa jadinya bila sekarang masih ada produk yang tidak mempunyai merek, mungkin konsumen akan berpikir  beberapa kali untuk membeli produk tersebut.

Sebuah hal yang harus dipetimbangkan penjual sehingga memberi merek buat produknya, karena penggunaan sebuah merek dapat menarik pembeli-pembeli menjadi konsumen yang mempunyai loyalitas yang tinggi dan menjadikan penjual menerima banyak keuntungan. Loyalitas konsumen membuat seorang penjual tidak perlu takut lagi menghadapi persaingan dari beribu-ribu penjual yang lainnya (Kotler,2005:89).

Mengingat pertumbuhan pasar global yang makin pesat, produsen sudah semestinya membuat merek yang bisa diterima secara global. Dengan begitu, sikap konsumen dapat menerima dan dapat menumbuhkan rasa loyalitas terhadap merek tersebut.

Menurut Kotler (2005:95-96), selain melalui internet dan TV, beberapa untuk menarik perhatian para konsumen terhadap merek, maka pemasar melakukan 11 hal, yaitu:
-     Hubungan masyarakat dan siaran pers
-     Kesediaan menjadi sponsor pada acara tertentu
-     Klub dan komunitas konsumen
-     Kunjungan pabrik
-     Pameran dagang
-     Pemasaran acara
-     Membangun fasilitas umum
-     Pemasaran tujuan sosial
-     Nilai yang tinggi untuk uang
-     Kepribadian pendiri atau selebriti
-     Pemasaran melalui ponsel
Perilaku konsumen yang selalu konsisten terhadap suatu merek tertentu dalam jangka yang panjang menggambarkan loyalitas konsumen dan sikap yang baik dari konsumen terhadap merek dari produk tertentu. Konsumen yang loyal inilah yang menjadi sebuah pentuk pedoman bagi kinerja sebuah perusahaan. Oleh karena itu, loyalitas konsumen pada merek menjadi salah satu perncanaan pasar strategic dalam jangka panjang dan menjadi basis penting bagi pengembangan keunggulan bersaing yang berkelanjutan (Rully,2006).


V. Kesimpulan

Karakteristik merek mempunyai peran penting dalam menentukan pelanggan percaya atau tidak terhadap suatu merek. Pemberian merek dapat menjadi sebuah hal yang efektif untuk dapat mempengaruhi loyalitas dan sikap konsumen.

Kepercayaan konsumen pada merek menggambarkan komponen yang sangat penting dari sebuah loyalitas merek. Loyalitas merek akan membawa kembali konsumen untuk mengkonsumsi produk yang sama di masa depan dan memungkinkan mereka akan merekomendasikan produk tersebut pada orang lain. Selain itu loyalitas terhadap merek akan membawa penjual jauh dari kekhawatiran terhadap persaingan.

Setiap penjual, tentu saja menginginkan konsumen memiliki true loyalty, yaitu pelanggan mempunyai sikap relatif yang tinggi dan diikuti oleh pembelian ulang yang tinggi pula. Karena itu, penjual melakukan banyak usaha untuk bisa menarik perhatian konsumen pada merek.
Referensi

Anggraini, Y., 2001. ‘Dampak Merek Asing pada Persepsi dan Sikap Konsumen Terhadap Produk’, Telaah Bisnis, 2(2)99-114.

Dick, A.S. and Basu, K. 1994. ‘Costumer Loyalty: Toward an Integrated Conceptual Framework’, Journal of the Academy of Marketing Science, 22(2):99-113.

Kotler, P., 2003. Marketing Management. Eleventh edition, New Jersey, Prentice Hall Inc.

Paul, T., 2002, Advanced Brand Management: from vision to valuation, Singapore, John Wiley & Son, Pte Ltd.

Rully, A.T.,2006. ‘Brand Trust Dalam Konteks Loyalitas Merek: Peran karakteristik Merek, Karakteristik Perusahaan, Dan Karakteristik Hubungan Pelanggan-Merek’, Jurnal Manajemen, 6(1):63-76.

Sitinjak, T. dan Silitonga, T., ‘Pengaruh Citra Merek dan Sikap Merek Terhadap Ekuitas Merek, Jurnal Ekonomi Perusahaan, 12(2):166-182.

Kamis, 20 November 2014

TUGAS AKHIR SEMESTER KOMUNIKASI BISNIS : Pengaruh Manajemen Sumber Daya Manusia Terhadap Perkembangan Perusahaan Kecil dan Menengah

Abstrak

          Makalah ini membahas tentang efektifitas model manajemen sumber daya manusia di perusahaan kecil dan menengah, juga kaitannya dengan proses menghadapi era globalisasi. Bagaimana prosedur sumber daya manusia dalam suatu manajemen di perusahaan kecil dan menengah itu berjalan, apa perbedaannya dengan perusahaan-perusahaan berskala besar, hal-hal tersebut juga di bahas disini. Bagaimana konflik di perusahaan kecil dapat timbul juga akan dibahas disini.

Kata kunci :  manajemen, ukm, sumber daya manusia
           
1.         Pendahuluan

Era globalisasi ada didepan mata. Indonesia sebentar lagi akan didatangi perusahaan-perusahaan asing yang besar dan sangat banyak, apakah sumber daya manusia Indonesia sudah mampu untuk mengimbangi perkembangan era globalisasi nantinya, itu tergantung dari bagaimana tiap-tiap dari mereka dibina oleh waktu dan pengalaman. Tentunya bagaimana mereka dibina nantinya akan berdampak besar bagi berkembangnya kualitas mereka sebagai sumber daya manusia.

Ekonomi Indonesia sebagian besar dipegang oleh usaha-usaha berskala kecil. Hal tersebut dapat disimpulkan dari perkembangan ekonomi makro di Indonesia yang terdiri dari kegiatan-kegiatan perusahaan-perusahaan berskala kecil yang jauh lebih banyak daripada perusahaan raksasa dan multinasional. Ini sangat menarik untuk diangkat karena perusahaan-perusahaan kecil inilah yang nantinya harus bertahan di era globalisasi. Bagaimana manajemen sumber daya manusia di tiap-tiap perusahaan tersebut berjalan, bagaimana manusia-manusia-nya terdidik oleh pengalaman, dan terbentuk untuk menjadi lebih maju. Tentunya keberhasilan mereka nantinya di era globalisasi, tergantung dari bagaimana sistem mereka berjalan, bagaimana mereka menjalankan manajemen-manajemen dalam departemen yang mereka miliki secara maksimal. Pembelajaran tentang siklus hidup dan pertumbuhan mengindikasikan bahwa kemampuan manajerial internal merupakan faktor yang sangat signifikan dalam pertumbuhan suatu perusahaan.

            Manajemen sumber daya manusia merupakan salah satu departemen yang memegang peranan di dalam suatu perusahaan. Bagaimana tenaga kerja dikembangkan hingga potensi mereka tergali dan kerja mereka menjadi maksimal di dalam perusahaan. Pada bagian berikutnya akan di paparkan bagaimana manajemen sumber daya dalam suatu perusahaan itu berkerja secara efektif, dan kaitannya dengan karakteristik-karakteristik manajemen sumber daya yang berada di perusahaan-perusahaan kecil. Akan dipaparkan bagaimana suatu manajemen sumber daya manusia pada perusahaan kecil memiliki strategi pengembangan yang berbeda dengan perusahaan berskala besar, dan bagaimana suatu  perusahaan menghadapi konflik pesaing dan kunci perusahaan tersebut dalam mengatasinya. Pada bagian akhir akan disajikan kesimpulan dari makalah secara keseluruhan.

2.         Konsep pengembangan sumber daya manusia
           
            Bila membahas tentang konsep pengembangan sumber daya manusia, Steward dan McGoldrick (1996) berpendapat bahwa tidak ada pandangan yang sepenuhnya benar terhadap konstitusi sebuah pengembangan sumber daya alam. Menurut mereka konstitusi tersebut mengandung tidak hanya unsur strategi melainkan juga penerapan, mereka juga berpendapat bahwa pengembangan sumber daya manusia itu implisit dalam proses pengaturan dan pengawasan, pengembangan sumber daya manusia juga mengacu pada kepemimpinan, kebudayaan, pengalaman berorganisasi, pertumbuhan, dan perubahan.

            Pernyataan diatas menurut Hill dan Steward (2000), memberikan pandangan bahwa pengembangan sumber daya manusia di perusahaan berskala kecil tidak efektif. Tetapi bila memberikan dimensi yang lain seperti ketidak pastian yang datang dari lingkungan eksternal perusahaan kepada perusahaan tersebut, kita bisa mengubah sedikit pandangan diatas.

3.         Praktek personal manajemen yang efektif

Praktek personal manajemen yang efektif ialah salah satu kebutuhan bisnis kecil untuk berkembang dan tumbuh seiring dengan meluasnya bisnis. Mayoritas bisnis yang cepat berkembang di Amerika Serikat kini merekrut kurang dari 100 orang, penelitian tentang personil lapangan yang kini di adakan masih terfokus di bisnis yang lebih besar dimana pekerjanya mecapai lebih dari 100 orang. Pekerja-pekerja tersebut adalah orang yang bekerja menurut spesialisasinya secara penuh.(Hornsby and Kuratko, 1990)

            Survey yang di lakukan oleh Hess (1987) memperlihatkan bahwa pelaku bisnis berskala kecil menilai manajemen sebagai hal sekunder. Ini dapat dibuktikan secara konkrit dengan adanya studi tentang fungsi personalia di perusahaan yang menemukan bahwa area yang mencakup akuntansi, keuangan, produksi, dan marketing memegang peranan yang lebih penting dari pada manajemen perusahaan itu sendiri.

Studi Amba-Rao dan Pendse (1985) tentang pengaturan organisasi dari 78 perusahaan kecil yang memiliki rentang pekerja dari 25 orang pekerja hingga 300 orang pekerja, menemukan bahwa sebagian besar dari perusahaan tersebut kurang dalam pendekatan rasional dan sistematis dalam mengatur kerja perusahaan mereka. Studi ini juga menemukan bahwa tipikal pelaku bisnis berskala kecil yang memiliki pegawai hingga 50 orang, memegang sendiri bagian pesonalia perusahaan mereka. Hal ini mengindikasikan bahwa salah satu fungsi penting yang ada pada perusahaan di pegang oleh pemiliknya. Selain itu juga menunjukkan bahwa pemilik sangat tertekan dalam menghadapi situasi diluar jangkauan para personelnya. Ini menunjukkan dibutuhkannya saling pengertian yang lebih antar para karyawan apabila perusahaan ingin mengembangkan manajemen sumber daya  di perusahaan kecil.

4.         Resource Poverty

“Usaha kecil menciptakan kondisi khusus yang bisa dikategorikan sebagai apa yang disebut dengan resource poverty, yang memisahkan mereka dari bagian yang besar dalam lingkungan bisnis, dan membutuhkan pendekatan manajemen yang berbeda. Resource poverty terjadi karena berbagai kondisi yang unik pada perusahaan-perusahaan kecil.”

            Kondisi diatas menyebabkan prosedur perekrutan dan seleksi digunakan lebih sering dari pada prosedur-prosedur yang lain. Prosedur seperti ini telah digunakan di dalam organisasi sejak lama, sesuai dengan kebutuhan untuk menjalankan usaha. Lebih jelasnya lagi, pekerjaan tersebut sangat penting, karena ditujukan untuk mencari alasan kenapa perusahaan merekrut seseorang, dan menempatkannya di tempat yang paling tepat.

UKM memiliki sumber daya atau kecenderungan untuk mengimplementasikan strategi human resource dalam satu bagian. Strategi tersebut telah berkembang akibat pandangan yang berbeda dari perusahaan yang berskala besar. Ada beberapa data bahwa manajer sering kali mencoba untuk lebih mengacu pada desentralisasi sehingga memberikan pekerja tanggung jawab yang lebih besar. Sangat jelas bahwa mereka khawatir tentang pengelolaan secara selaras dalam usaha mereka menuju sukses. Survey oleh Gatewood dan Field (1987) menemukan bahwa dari 100 pemilik usaha kecil, sebagian besar tidak waspada terhadap masalah-masalah pribadi yang ada di perusahaan mereka. Hal ini perlu disikapi karena nantinya masalah-masalah yang kian timbul tentunya akan menghambat jalannya perusahaan dalam proses berkembang.

5.         Small Firm Research Unit

Banyak literatur yang jelas mengenai praktek manajemen sumber daya manusia di perusahaan-perusahaan berskala besar. Tetapi, hanya sebagian kecil literatur yang dapat membantu manajer di perusahaan berskala kecil. SRFU (Small Firm Research Unit) dibentuk dalam rangka memberikan jawaban dan solusi yang tepat untuk masalah diatas. Macmahon dan Murphy (1999) menjelaskan bahwa walaupun proyek secara umum mencakup area yang luas seperti marketing, keuangan, pengembangan produk dan teknologi informasi, hasil yang dipresentasikan disini menjelaskan penelitian tentang perilaku owner-manajer, dan human resource sebagai fasilitator yang cenderung tumbuh dan berkembang.

“Keinginan pemilik usaha untuk memegang kontrol seringkali menjadi halangan bagi perusahaan tersebut untuk tumbuh. Dalam hal ini, pemilik usaha ingin mengambil kembali kepemilikan usahanya, tetapi dengan tidak menjalankan penuh tanggung jawab dalam perusahaan tersebut. Ini memiliki efek jangka panjang, seiring tumbuhnya perusahaan, pemilik perusahaan akan menjadi terbebani oleh tugas, dan perusahaan akan cenderung mengarah ke kegagalan. Terkait dengan isu tersebut banyak pemilik usaha yang mendirikan usahanya hanya untuk mencapai gaya hidup tertentu. Ketika mereka mencapainya, maka pertumbuhan perusahaan tidak lagi akan dihiraukan, yang lainpun hanya akan membanggakan kemandirian mereka. Hal inilah yang dinamakan perilaku tidak rasional dalam bisnis.”

Selain perilaku pemilik perusahaan yang tidak rasional dalam menjalankan bisnisnya, kurangnya skill manajerial, ketakutan akan pesaing-pesaing yang baru muncul, dan ketidakmampuan dalam menghadapi konflik, menggambarkan bahwa pemilik perusahaan ialah kunci dalam kemampuan perusahaan bertahan hidup dan kemudian tumbuh berkembang.

6.         Pelatihan Manajemen

Pada umumnya perusahaan kecil sangat kurang mendalami keterampilan manajemen. Sangat kecil kemungkinan perusahaan berskala kecil memiliki pegawai yang berdedikasi penuh, atau staf pelatihan tersendiri. Di semua perusahaan, general manajer kebanyakan berkeinginan untuk memberikan pelatihan yang lebih jauh kepada personalia dan supervisor. Sebagian besar manajer tersebut merasa, bahwa mereka kekurangan wawasan terhadap apa saja yang menjadi kapabilitas sebuah manajemen, selain sumber daya manusia dan keuangan yang sudah sering disebutkan.

Tentunya efek dari pelatihan diatas akan membawa manajemen kepada tahap yang lebih maju. Pelatihan-pelatihan tersebut akan menjadikan setiap personel manajemen  individu yang lebih berkualitas, sehingga  dalam operasional manajemen nantinya akan mengalami perkembangan. Pelatihan yang ada sekarang telah membuktikan bahwa manajemen tidak hanya mengurusi masalah keuangan, dan sumber daya manusia, pelatihan yang ada sekarang juga memberikan pengetahuan secara rohani, lebih kepada pendekatan moril sehingga tidak hanya membentuk manajemen perusahaan menjadi lebih baik, tetapi juga kepada manajemen diri individu itu sendiri. Hal ini juga telah terbukti memberikan hasil yang jauh diluar ekspektasi manajer. Kemampuan dalam mengendalikan jiwa menjadi salah satu topik yang wajib diberikan moderator dalam workshop-workshop tentang manajemen training.


7.         Kesimpulan

Makalah ini pada intinya mengacu pada apa yang dibutuhkan oleh pemilik usaha, nyatanya penilitian yang telah dilakukan memberikan hasil yang lebih rumit dibandingkan dengan apa yang sedang dilakukan oleh banyak pemilik usaha kecil saat ini. Seperti halnya di Eropa, usaha kecil menengah (UKM) sangat memegang perananan. Sebagian besar ekonomi makro dan mikro di Eropa terdiri dari mayoritas UKM, dan minoritas perusahaan berskala besar. Menyadari hal ini, UKM menyumbang potensi bahan riset manajemen yang sangat besar. Pengaruh operasional suatu manajemen bisa sangat dipengaruhi oleh bagaimana pemilik usaha, khususnya pada perusahaan kecil, memandang arah perusahaan tersebut kedepan, dimana ia akan meletakkan tonggak perusahaannya di lingkungan perekonomian tempat ia berdiam.

Posisi pemilik usaha pada perusahaan kecil dan menengah terbukti sangat penting dalam jalannya perusahaan, berbagai keputusan penting selalu dipegang oleh pemilik perusahaan. Walaupun pada akhirnya manajemen berjalan secara sentralisasi, keputusan yang riskan membuat manajer cenderung kepada desentralisasi, sehingga beban yang ditanggung oleh manajemen pada level rendah menjadi lebih besar. Hal ini perlu disadari oleh pemilik perusahaan karena akan sangat menghambat perusahaan untuk menjadi lebih maju, karena pengambilan keputusan akan lama sampai ke puncak manajemen. Tekait dengan isu diatas, berdampak pada penyeleksian personel yang akan ditempatkan di jajaran manajemen. Walaupun perusahaan kecil dan menengah umumnya menganggap hal ini sebagai hal yang sekunder, pada kenyataannya penyeleksian yang tepat akan berdampak besar pada kemajuan manajemen nantinya, sehingga pemilik usaha baiknya mulai mempertimbangkan untuk melakukan penyeleksian secara tepat.

Indonesia memiliki usaha kecil dan menengah yang tak terhitung jumlahnya, sayang sekali apabila sektor mikro di Indonesia ini dibiarkan terbengkalai. Pemerintah seyogyanya memberikan dukungan yang penuh terhadap usaha-usaha kecil yang sedang berkembang, karena bila tidak kita nantinya hanya akan menjadi korban dari era globalisasi, apabila dibiarkan lebih lanjut usaha-usaha kecil yang ada akan gulung tikar karena kalah bersaing dengan barang-barang luar negeri. Apakah pemerintah dapat tergerak bila mengetahui betapa pentingnya usaha-usaha mikro ini dalam kelangsungan ekonomi di Indonesia. Hal ini nantinya bisa dilihat dalam jangka waktu 5 sampai 10 tahun kedepan. Mengingat nampaknya kita tidak memiliki cukup waktu hingga pemerintah mulai memberikan perhatiannya terhadap industri-industri kecil dan menengah di negeri ini.

Referensi

Robbins, S.P. (1990), Teori Organisasi : Struktur, Desain, dan Aplikasi, Arcan, Jakarta.

Dessler, G. (2000), Manajemen Sumber Daya Manusia, Pearson Education International.

Hornsby, J.S., Kuratko, D.F. (1990), Human Resource Management in Small Business : Critical Issues for the 90’s, ABI/INFORM Global, pg. 9.

Rowden, Robert W. (2002), High Performance and Human Resource Characteristics of Successful Small Manufacturing and Processing Companies, Leadership & Organization Development Journal. Bradford. Vol.23, pg.79.

Hill, R., Stewart, J. (2000), Human Resource Development in Small Organizations, Journal of European Industrial Training. Bradford. Vol.24, pg. 105.

Cassell, C., Nadin, S., Gray, M., Clegg, C. (2002), Exploring Human Resource Management Practices in Small and Medium Sized Enterprises, Personnel Review. Farnborough. Vol.31, pg. 671.

Macmahon, J., Murphy, E. (1999), Management Effectiveness in Small Enterprises : Implication For HRD, Journal of European Industrial Training. Bradford. Vol.23,   pg. 25.

Kamis, 13 November 2014

Segmentasi Pasar Untuk Produk Baru


Abstrak
Segmentasi pasar merupakan strategi yang harus dilakukan oleh setiap perusahaan yang berencana meluncurkan produk baru agar dapat melakukan program-program pemasaran lain dengan tepat dan efisien. Selain itu, segmentasi pasar juga diperlukan sebagai peta penjualan produk. Untuk melakukan segmentasi, perusahaan perlu mengamati ciri-ciri konsumen. Untuk itu digunakan beberapa variabel sebagai dasar segmentasi, diantaranya adalah segmentasi geografis, segmentasi demografis, segmentasi psikografis, dan segmentasi perilaku. Segmentasi pasar pada akhirnya akan mewujudkan goal dari pemasaran, yaitu tercapainya penjualan yang tinggi dan profit perusahaan yang melambung.

Kata kunci: Segmentasi Pasar, Produk Baru

I.                Pendahuluan
Para ahli pemasaran telah banyak mengemukakan berbagai ragam strategi pemasaran yang tentunya dapat digunakan oleh para pemasar untuk meningkatkan penjualan mereka. Dalam pemilihan strategi pemasaran itu sendiri, sebuah perusahaan harus dengan jeli memilih strategi apa yang akan ditetapkan dalam memasarkan produk mereka demi mendapatkan hasil yang paling maksimal. Jika terdapat kesalahan sedikit saja, maka tak jarang perusahaan tersebut akan menanggung kerugian besar, baik itu berupa tingkat penjualan yang menurun, penurunan nilai produk di mata konsumen, dan sebagainya.
Strategi yang harus digunakan dalam pemasaran antara lain adalah segmenting, targeting, dan positioning. Strategi ini mengharuskan sebuah perusahaan utuk memilah-milah konsumen secara keseluruhan dalam beberapa kategori tertentu untuk kemudian dipilih yang paling cocok dengan produk yang mereka tawarkan. Kemudian dengan beberapa cara mulai membentuk dan mengkomunikasikan manfaat utama yang membedakan produk dengan para pesaingnya di dalam pasar (Kotler 1997:221). Strategi yang biasa disingkat menjadi STP ini telah terbukti sebagai strategi yang paling relevan dalam pemasaran (Kotler dan Trias de Bes 2004:20). Dengan segmentasi pasar yang akurat, perusahaan dapat memfokuskan diri pada segmen pasar tertentu dan melakukan positioning dengan benar, tentu saja hasil akhir yang diperoleh adalah nilai produk dan perusahaan yang meningkat di mata konsumen.
Segmentasi pasar merupakan langkah awal dari pemetaan konsumen sebuah produk baru, dimana seorang pemasar harus membagi seluruh konsumen yang ada dalam beberapa kategori menurut dasar-dasar yang telah ditentukan sebelumnya. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk membahas segmentasi pasar sebuah produk baru yang akan diluncurkan kepada konsumen. Adapun kerangka berfikir dari studi ini adalah sebagai berikut: bagian kedua akan menunjukkan alasan mengapa segmentasi pasar perlu dilakukan untuk sebuah produk yang baru dilempar ke pasaran. Sedangkan bagian ketiga akan memaparkan sedikit tentang dasar segmentasi pasar yang dapat dipilih oleh pemasar bedasar pada pembahasan oleh Philip Kotler. Selanjutnya pada bagian keempat akan mendiskusikan pengaruh segmentasi pasar terhadap penjualan produk. Dan kesimpulan akan disajikan pada bagian terakhir studi ini.
2. Pentingnya Segmentasi Pasar Untuk Produk Baru
Mungkin kita pernah bertanya-tanya, sebenarnya, apakah segmentasi pasar itu? Apa perlunya menggunakan segmentasi pasar dalam memasarkan produk? Menurut Fandy Tjiptono (dalam Budisuari, 2008), segmentasi pasar pada dasarnya adalah proses membagi pasar keseluruhan suatu produk atau jasa yang bersifat heterogen ke dalam beberapa segmen, di mana masing-masing segmennya cenderung bersifat homogen dalam segala aspek. Sedangkan Kotler (1997: 221) mendefinisikan segmentasi pasar sebagai bentuk mendefinisikan dan membentuk kelompok pembeli yang berbeda yang mungkin meminta produk dan/atau bauran pemasaran tersendiri. Dari kedua definisi tersebut di atas, kita dapat memandang bahwa segmetasi pasar tersebut sebagai metode untuk memecah kesatuan konsumen menjadi beberapa bagian atau segmen-segmen yang telah disesuaikan dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh pemasar untuk menentukan pasaran yang tepat untuk produknya.
Segmentasi pasar untuk sebuah produk baru harus dilakukan paling awal sebelum kegiatan pemasaran yang lain. Seperti dikatakan oleh Nugroho (2007), Segmetasi pasar itu sendiri merupakan langkah awal dari serangkaian proses pemasaran suatu produk baru. Dan dijalaskan oleh Kartajaya dkk. (2002:49-50), bahwa segmentasi adalah langkah awal yang menentukan hidup perusahaan. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, segmentasi pasar sangat penting untuk strategi pemasaran selanjutnya dalam STP, yaitu untuk menentukan target pasar suatu produk (targeting), serta penonjolan keunggulan produk (positioning) yang tepat oleh perusahaan, sehingga terbentuklah suatu kelompok konsumen yang diharapkan akan menjadi loyal terhadap produk tersebut. Namun, loyalitas konsumen bukan merupakan tujuan utama pemasaran, dimana dalam beberapa produk, loyalitas tersebut tidak dapat tercapai karena faktor-faktor tertentu.
Keberhasilan suatu produk tergantung pada kejelian dan kreatifitas pemasar dalam mengklasifikasikan konsumen. Seperti dikatakan oleh Kartajaya dkk. (2002:49-50), peluang pasar ada pada orang yang memiliki kemampuan melihat lebih jauh dalam rangka memanfaatkan peluang-peluang yang muncul di pasar. Oleh karena itu, segmentasi pasar merupakan hal pokok yang harus dilakukan untuk memasarkan sebuah produk karena nenyangkut hidup mati produk itu sendiri. Tanpa adanya segmentasi pasar, kegiatan pemasaran akan salah sasaran dan menjadi sangat tidak efisien. Coba bayangkan bila sebuah produk baru dengan sembarangan masuk ke dalam salah satu segmen pasar yang sebenarnya tidak sesuai dengan karakter produk tersebut, kemungkinan terbesar adalah kegagalan pemasar dalam memasarkan produknya.
Memang aneh didengar, bahwa sukses atau tidaknya sebuah produk sangat tergantung pada ketepatan segmen konsumen yang digarap, itu berarti segmentasi sangatlah dibutuhkan untuk kemudian dilanjutkan dengan targeting dan positioning. Target pasar yang itu sendiri bisa diambil dari salah satu dari segmen yang tersedia, atau malah seluruh segmen digarap sekaligus sesuai dengan besarnya ukuran pasar, pertumbuhan pertumbuhan pasar, keunggulan kompetitif yang dimiliki perusahaan, serta persaingan yang dihadapi perusaahan (Kartajaya dkk. 2002:130). Hal ini bukan berarti aspek pemasaran lainnya menjadi tidak begitu penting untuk dilakukan, sehingga bisa dikesampingkan begitu saja. Tidak, bukan begitu. Namun demikian, sebagai salah satu strategi pemasaran, segmentasi pasar tidak bisa tidak dilakukan, karena pemahaman terhadap karakteristik konsumen akan memudahkan perusahaan untuk mendesain program-program pemasaran seperti produk, harga, distribusi dan promosi yang sesuai (Nugroho 2007). Ini menunjukkan bahwa kesemua kegiatan dalam pemasaran itu merupakan serangkaian proses yang saling berhubungan satu sama lain.
3. Dasar Segmentasi yang Dapat Diplih Pemasar
Segmentasi pasar dapat dilakukan dengan mengamati ciri-ciri konsumen. Dalam hal ini, Kotler (1997:227) membagi ciri-ciri tersebut dalam empat variabel segmentasi pasar, yaitu segmentasi geografis, segmentasi demogrfis, segmentasi psikografis, dan segmentasi perilaku. Keempat variabel tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan segmentasi pasar. Dengan begitu, urusan mengklasifikasikan konsumen dapat dengan mudah dilakukan.
Segmentasi geografis mengharuskan pembagian pasar menjadi unit-unit geografis yang berbeda seperti negara, negara bagian, wilayah, propinsi, kota atau lingkungan (Kotler, 1997:227). Contohnya adalah pasar komoditi pertanian. Pasar ini dibedakan antara lain meliputi pasar sentra produksi dengan pasar eceran. Atau pasar lokal dengan pasar pusat. Dalam pasar-pasar tersebut terdapat perbedaan yang menjadi ciri khas dari masing-masing pasar. Seperti di pasar sentra produksi, harganya relatif lebih murah karena konsumennya terdiri atas para pengecer dan juga pada pasar ini harga tidak ditambah biaya transportasi. Tetapi pada pasar eceran, pengecer yang membeli barang di pasar sentra produksi di tambah biaya transportasi yang di bebankan pada harga jual kembali komoditi tersebut, sehingga harga menjadi lebih tinggi.
Sementara itu, segmentasi demografis membagi pasar dalam kelompok-kelompok berdasarkan variabel-variabel demografis seperti usia, ukuran keluarga, siklus hidup keluarga, jenis kelamin, penghasilan, pekerjaan, pendidikan, agama, ras, generasi, dan kewarganegaraan, (Kotler, 1997:227). Sebagai contoh, Extra Joss yang menetapkan pasar dengan menganalisa faktor demografis, Extra Joss memilih bermain di wilayah konsumen yang berpenghasilan menengah ke bawah dengan menjual produk berbentuk serbuk yang dijual dengan harga Rp.400-Rp.500 per sachet. Jauh lebih murah daripada minuman kesehatan sejenis yang saat itu harganya berkisar Rp.1200-Rp.1500. Dengan bergerak pada segmen ini, Extra Joss mampu meningkatkan omzet penjualan hingga Rp 10 miliar dalam waktu 3 tahun.
Segmentasi psikografis mengacu pada gaya hidup, kelas sosial, kepribadian konsumen, sikap, nilai-nilai yang dianut, aktifitas, hobi, opini, dan orientasi politik (Kotler, 1997:228; Masasi Team, 2007). Dalam segmentasi ini, kita bisa mengambil contoh dari air minum bermerek “EQUIL”. Air minum ini tergolong premium, karena telah mengikuti standar internasional, diantaranya adalah EEC Directives on Natural Mineral Water dan Codex Alimentaries Commission, keduanya adalah lembaga standarisasi di bawah WHO dan FAO. Standar itu antara lain air minum harus layak minum secara alami, didapat dari sumber yang alami, air tidak boleh diberi treatment tertentu-kecuali karbonasi (penambahan CO2) untuk sparkling natural mineral water, dan air harus dibotolkan langsung dari sumbernya. Air minum Equil dipatok dengan harga 10 ribu-20 ribu per 380 ml. Botolnya menyerupai botol anggur, sehingga terkesan classy dan modern. Selain itu Equil dipasarkan di tempat-tempat khusus seperti hotel-hotel mewah dan pasar swalayan tertentu. Dengan demikian tampak jelaslah bahwa air minum premium ini membidik segmen kalangan atas yang selalu berorientasi pada kualitas.
Segmentasi perilaku terbentuk dari kejadian, manfaat, status pemakai, tingkat pemakaian, status kesetiaan pemakai, tahap kesiapan pembeli, sikap pembeli terhadap suatu produk, bagaimana produk tersebut dipakai, kapan produk akan dipakai, dengan siapa dan untuk siapa, seberapa sering dan seberapa banyak produk itu dipakai (Kotler, 1997:228; Masasi Team, 2007). Contoh yang dapat diambil untuk mewakili segmentasi ini adalah hasil riset yang pernah dilakukan sebuah lembaga riset, menunjukkan bahwa orang akan berbelanja di hypermarket atau supermarket yang berada sekitar radius 5 kilometer dari tempat tinggal atau kantor mereka, atau kurang lebih setengah jam perjalanan. Hasil riset tentang perilaku konsumen ini, semakin memantapkan pelaku bisnis hypermarket dan supermarket untuk terus melebarkan sayapnya dengan menambah outlet dan juga semakin memanjakan konsumennya dengan berbagai kenyamanan yang tidak bisa didapatkan di pasar tradisional. Fasilitas yang ditawarkan antara lain beberapa hypermarket dan supermarket seperti Carrefour, Hero, dan Giant yang semakin giat membangun outlet-outlet, harga kompetitif, bekerja sama dengan distributor dalam pemberian diskon pada item-item tertentu, pengadaan undian berhadiah, kupon berhadiah, lapangan parkir yang luas, tempat belanja luas dan nyaman, jasa layanan antar ke rumah palanggan, dan lain sebagainya.
4. Pengaruh Segmentasi Pasar Terhadap Penjualan
Segmentasi pasar secara langsung maupun tidak langsung turut serta dalam peningkatan penjualan produk. Kartajaya (2002:130) menyatakan bahwa srtategi segmentasi telah menjadi bagian yang paling penting dalam menentukan kesuksesan suatu perusahaan. Apa artinya? Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa pemahaman terhadap karakteristik konsumen akan memudahkan perusahaan untuk menyesuaikan desain program-program pemasaran seperti kemasan produk, harga, bentuk distribusi dan pemilihan media promosi dengan segmen yang dipilihnya (Nugroho 2007).
Segmentasi pasar yang tepat saji mempengaruhi ketepatan dalam penentuan pasar sasaran serta positioning. Dengan ketepatan semacam itu, tidak dapat diragukan bahwa sebuah produk akan meraih total penjualan yang tinggi tentu dengan dibarengi program-program lain yang tepat pula. Mungkin memang tidak mempengaruhi secara langsung, dan mungkin masih banyak “faktor X” yang turut serta dalam peningkatan penjualan seperti keadaan ekonomi suatu wilayah dan lain sebagainya. Namun, tanpa segmentasi pasar yang jeli dan kreatif dalam melihat peluang pasar, penjualan pun tidak akan maksimal.
Kita dapat melihat bagaimana pada saat krisis PT Perumka dengan kreatif membidik segmen pasar yang belum pernah ada sebelumnya, yaitu dengan meluncurkan kereta api berjuluk KA Argo, diantaranya adalah Argo Bromo dan Argo Lawu. Kereta api baru ini melayani angkuta jarak jauh dengan mengunggulkan fasilitas yang tidak kalah dengan pesawat, ketepatan jadwal, dan waktu tempuh yang lebih singkat dibandingkan KA ekonomi. Pemilihan segmen ini didasarkan pada kenaikan harga dolar saat itu yang menyebabkan tarif pesawat naik, banyaknya kecelakaan pesawat, sehingga konsumen yang mementingkan ketepatan jadwal dan perjalanan yang nyaman dan aman akan beralih KA Argo. Dalam waktu singkat, KA argo telah menjadi primadona perjalanan dan tingkat penjualan tiketnya pun hampir 100%.
5. Kesimpulan
Segmentasi pasar perlu dilakukan oleh setiap perusahaan yang berencana meluncurkan produk baru agar dapat melakukan program-program pemasaran lain dengan tepat dan efisien. Selain itu, segmentasi pasar juga diperlukan sebagai peta penjualan produk. Dimana produk dipasarkan, siapa penggunanya, kapan produk harus dipasarkan, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang dapat dijawab dengan segmentasi pasar. Untuk melakukan segmentasi, perusahaan perlu mengamati ciri-ciri konsumen. Untuk itu digunakan beberapa variabel sebagai dasar segmentasi, diantaranya adalah segmentasi geogeafis, segmentasi demografis, segmentasi psikografis, dan segmentasi perilaku. Segmentasi pasar pada akhirnya akan mewujudkan goal dari pemasaran, yaitu tercapainya penjualan yang tinggi dan profit perusahaan yang melambung.


Daftar Pustaka
Budisuari, M. A. 2008, ‘Pemasaran pelayanan kesehatan gigi pada institusi kesehatan, khususnya di puskesmas’, Majalah Tempo, [Online] Tersedia di: http://www.tempo.co.id/medika/online/tmp.online.old/lap-1.htm

Hermawan, M., Kartajaya, H., Taufik & Yuswohady 2002, MarkPlus on Strategy: 12 Tahun Perjalanan MarkPlus&Co Membangun Strategi Perusahaan, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Kartajaya, H. & Palupi, D. H. 1999, Bermain Dengan Persepsi: 36 Kasus Pemasaran asli Indonesia Seri 2, PT Elex Media Komputindo, Jakarta.

Kotler, P. 1997, Manajemen Pemasaran Edisi 9: Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol, Edisi Bahasa Indonesia Jilid I, PT Prenhallindo, Jakarta.

Kotler, P. & Trias de Bes, F. 2004, Lateral Marketing: Berbagai Teknik Baru untuk Mendapatkan Ide-ide Terobosan, Penerbit Erlangga, Jakarta.


Nugroho, S. 2007, Strategi Segmentasi Pasar, Tersedia di: http://ppmfebugm.com/remarks/Strategi%20Segmentasi%20Pasar.html

Sinaga, R. V. 2003, Geliat Bisnis Hipermarket dan Supermarket:
Ramai-ramai Buka Outlet Baru
, Tersedia di: http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/promarketing/2003/0408/prom1.html

Taufiq 2003, ‘Pengaruh konsentrasi pasar komoditi beras terhadap harga beras di Kabupaten Ogan Komering Ilir’, Jurnal Kajian ekonomi dan Bisnis, vol. 5, No. 2, pp. 81-90.


Pernyataan Anti Plagiat

Dengan ini menyatakan bahwa:
1. Pekerjaan/tugas yang saya sampaikan adalah pekerjaan saya sendiri;
2. Segala sesuatu yang terkandung dalam tugas tersebut yang berasal dari pekerjaan orang lain, baik yang berasal dari  buku; artikel jurnal ilmiah; koran-majalah popular; catatan kuliah; maupun tugas dari mahasiswa lain, yakni telah dirujuk dengan tepat sehingga secara jelas saya dapat menunjukkan bahwa hal itu diperoleh dari orang lain dan secara jelas teridentifikasi atas pekerjaan tersebut; dan
3. Saya mengakui dan menegaskan bahwa plagiat/ penjiplakan adalah suatu pelanggaran akademis yang serius sehingga saya dapat terkena sanksi akademis terberat yang mengancam kelulusan saya.
Surabaya         :           8 Juli 2008                                      Tanda-tangan,
Nama               :                        
Nim                 :           040610611                             
Tugas MK       :           Pembuatan Essai                        

Selasa, 11 November 2014

Akuntansi Biaya : STANDARD COSTING

Standard cost adalah biaya produksi yang ditentukan dimuka dari satu unit tunggal
atau sejumlah produk tertentu, selama periode tertentu.
Standard cost adalah planned cost of a product di bawah kondisi operasi saat ini
atau kondisi operasi yang diantisipasikan
Standard cost mempunyai 2 komponen:
-  physical standard
- price standard
Standard adalah seperti norma. Apa saja yang dianggap normal, biasanya dapat
dianggap sebagai standard
Suatu standard harus dipikirkan sebagai norma untuk input produksi, seperti
unit bahan baku, jam kerja, dan % kapasitas yang digunakan.
Standard cost membantu dalam planning dan controlling operasi. Ia memberikan
gambaran tentang cost dan profit yang mungkin terjadi akibat keputusan tertentu. 
Standard cost digunakan untuk:
1. Menyusun budget
2. Kontrol biaya, dengan memotivasi karyawan dan mengukur efisiensi operasi
3. Penyederhanaan prosedur perhitungan harga pokok produksi dan mempercepat
    pelaporannya.
4. Pembebanan biaya ke bahan baku, WIP dan Finished Goods
5. Menyusun kontrak penawaran dan menentukan harga jual
Setting Standard
Perhitungan suatu standard cost, memerlukan physical standard. 
Dua jenis physical standard adalah basic dan current.
Basic standard adalah suatu yardstick terhadap mana, baik kinerja yang
diharapkan maupun kinerja sesungguhnya dibandingkan.
Current standard, ada 3 jenis:
- Expected actual standard, mencerminkan tingkat aktivitas dan
  efisiensi yang diperkirakan . Ia mendekati hasil sesungguhnya
- Normal standard, mencerminkan tingkat aktivitas dan efisiensi normal 
  Ia merupakan tantangan, tetapi dapat dicapai
- Theoretical standard, mencerminkan tingkat aktivitas dan efisiensi 
   ideal atau maksimum. Sasarannya perlu diarahkan, bukannya
   kinerja yang saat ini bisa dicapai.
Keberhasilan standard cost system tergantung pada reliability, accuracy dan
acceptance of the standard. O.k.i. dalam setting standard pertimbangan perlu
diberikan pada human behavior.
 

Blogroll

Ini adalah aneka tugas kuliah yang saya kerjakan dan saya dapatkan saat kuliah Manajemen tahun 2006 hingga lulus. Hampir sepuluh tahun yang lalu. Koreksilah dahulu, cocokkan dulu dengan bahasannya dan jangan asal kopi-paste, karena bisa saja edisi bukunya berbeda sehingga soal-soalnya berbeda dan akhirnya jawabannya juga berbeda. Adanya gini, jangan minta lebih. Kalau mau perfect ya kerjakan sendiri. Tugas-tugas saya ini hanya sebagai penunjang yang fungsinya supporting, bukan sebagai tulang punggungnya. Gunakan dengan bijak, semoga bermanfaat.

About