Pages

Kamis, 15 Februari 2007

Makalah Makroekonomi : BI Rate Naik-Turun

BAB I
PENDAHULUAN



Sejak pergantian kepemimpinan tahun 2004, Indonesia selalu mendapat sorotan dunia terutama tentang perekonomiannya. Perekonomian yang semakin membaik dan makroekonomi yang meningkat pesat tidak lepas dari berbagai kebijakan yang ditetapkan pemerintah demi tercapainya kemakmuran dan kesejahteraan bangsa.
Dari berbagai peristiwa tersebut, sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi, peneliti menganggap bahasan ini adalah topik yang menarik untuk diteliti. Pertama, telah lepasnya Indonesia dari belenggu berbagai macam krisis terutama dalam bidang moneter yang terjadi sejak 1998, dimana tingkat inflasi sempat mencapai 80%.
Kedua, perekonomian Indonesia yang melangkah pasti menuju kemapanan mencerminkan semakin kokohnya perkembangan bangsa di era reformasi demokrasi ini.
Ketiga, suku bunga yang semakin menurun untuk merangsang tingkat investasi dan pertumbuhan ekonomi. Tahun lalu, Bank Indonesia menyiapkan tiga skenario pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan sebesar 6,3 persen yang ditargetkan pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2007 jadi batas atas skenario pertumbuhan bank sentral.“Ada tiga skenario dengan kisaran 5,3-6,3 persen. Kami menilai pertumbuhan 6,3 persen itu ada pada batas atas perkiraan Bank Indonesia,“ kata Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah dalam rapat kerja dengan Komisi Keuangan dan Perbankan Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta, Senin 11 September 2006. Skenarionya yaitu :
1.      Skenario pertama, adalah skenario pesimistis dengan kisaran 5,3-5,7 persen.
2.      Skenario kedua, yakni skenario medium dengan kisaran 5,7-6,0 persen
3.      Skenario ketiga, yakni skenario optimistis dengan kisaran 6-6,3 persen.
Pemerintah optimistis target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3 persen akan tercapai. Pertumbuhan itu bisa tercapai karena stabilitas ekonomi makro cukup terjaga. Bank Indonesia dan pemerintah terus menjaga kondisi makro ekonomi. Perlu upaya lebih keras dan terencana, terutama dalam memperbaiki iklim investasi, meningkatkan efisiensi dan produktivitas, serta mendorong ekspor. Pemerintah juga akan terus berupaya memacu peningkatan investasi hingga di atas 10 persen tahun ini. Peningkatan investasi bisa terjadi karena ada :
·         Pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perpajakan dan Kepabeanan,
·         RUU Penanaman Modal,
·         Perbaikan Undang-Undang Ketenagakerjaan,
·         Realisasi pembangunan infrastruktur.
Menurut Kepala Badan Pusat Statistik, Rusman Heriawan, target pertumbuhan ekonomi 6,3 persen bisa tercapai dengan syarat ada penguatan tiga sektor kunci. "Ketiga sektor itu berhubungan dengan penciptaan lapangan kerja lebih permanen," katanya. Sektor-sektor tersebut adalah :
·         Industri pengolahan,
·         Sektor perdagangan,
·         Sektor pertanian.
Mei 2007, Bank Indonesia kembali menurunkan BI Rate atau suku bunga acuan 25 basis poin ke level 8,75 persen. BI Rate diturunkan karena indikator ekonomi menunjukkan perbaikan, stabilitas makro-ekonomi dan keuangan terjaga, serta tercapainya ekspektasi target inflasi BI pada akhir tahun. Bulan April lalu BI Rate tetap berada di level 9 persen setelah sebelumnya mengalami penurunan sebanyak sembilan kali sejak Juli 2006. (Data Terlampir)


BAB II
PEMBAHASAN



Target Pertumbuhan Perekonomian Indonesia Pertengahan 2007
Bank Indonesia (BI) akan kembali menurunkan suku bunganya (BI Rate) yang mungkin mencapai kurang dari 8 persen, karena berbagai indikator ekonomi sangat mendukung pergerakan tersebut.
"Penurunan BI Rate sangat memungkinkan, apalagi inflasi terus turun," kata Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk, Kostaman Thayib.
Meski demikian, lanjutnya inflasi year on year pada tahun ini yang diperkirakan mencapai 6 persen akan tercapai. Optimisme Bank Indonesia tentang suku bunga acuan BI (BI Rate) kurang dari 8 persen ke arah sana sangat memungkinkan karena ruang untuk penurunan suku bunga acuan tersebut masih cukup besar melihat dinamika pertumbuhan ekonomi.
Semula BI menargetkan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2007 besarnya 5,9 persen, kemudian direvisi menjadi 6 persen. Optimisme inilah yang menjadi salah satu landasan penurunan BI Rate. Selain itu, target inflasi tahun 2007 sebesar 6 persen plus minus 1 persen kami yakin akan tercapai. Indikator perekonomian lainnya yang menunjukkan perbaikan ialah penguatan nilai tukar rupiah disertai dengan volatilitas yang lebih rendah. Penguatan rupiah ini sejalan dengan surplus Neraca Pembayaran Indonesia yang didukung oleh kinerja ekspor yang membaik. Selain itu, melemahnya dollar AS secara global bersamaan dengan berlangsungnya proses konsolidasi ekonomi di Amerika Serikat serta masih tingginya ekses likuiditas global.
Kredit perbankan pada akhir Maret 2007 memang telah melebihi nilai pada periode yang sama tahun 2006. Pada bulan Maret kredit juga naik Rp 16,7 triliun sehingga menjadi Rp 843 triliun. Namun, perbankan masih harus terus didorong untuk menyalurkan kredit ke sektor riil.


Memberikan stimulus
BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2007-2008 masih sesuai dengan perkiraan semula, yaitu 6 persen pada tahun 2007 dan 5,7 persen-6,7 persen pada tahun 2008. Langkah BI menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin sudah tepat. Keputusan ini diambil berdasarkan evaluasi pencapaian sasaran inflasi ke depan yaitu masing-masing sebesar 6%±1% dan 5%±1% untuk tahun 2007 dan tahun 2008, identifikasi terhadap berbagai faktor risiko, serta evaluasi kondisi perekonomian terkini. Penurunan BI Rate perlu dilakukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dengan inflasi yang tahun ini ditargetkan sebesar 6,5 persen. Penurunan BI Rate tersebut diharapkan dapat memberikan stimulus lebih lanjut pada perekonomian secara keseluruhan.
Tingkat BI Rate diharapkan juga dapat memberikan ruang gerak lebih besar bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit ke level yang lebih rendah sehingga pembiayaan kepada sektor riil semakin meningkat dengan penurunan BI Rate tersebut, perbankan menyesuaikan dengan menurunkan suku bunga simpanan, kemudian baru menurunkan suku bunga kredit. Penurunan BI Rate secara otomatis akan berdampak pada penurunan suku bunga kredit. Suku bunga akan turun bukan hanya untuk kredit konsumer. Dengan penurunan BI Rate ini pasti bunga kredit akan turun. Akan tetapi, perlu diingat lagi bahwa persoalan rendahnya penyerapan kredit bukan hanya persoalan suku bunga yang tinggi sebab saat ini suku bunga kredit merupakan yang terendah dalam sejarah perbankan, namun karena memang sektor riil yang belum cukup bergerak..

Pertumbuhan Ekonomi Paling Optimistik 2007
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang paling optimistik pada 2007 adalah 6,2 persen, meski pemerintah tetap mengajukan angka 6,3 persen pada rancangan APBN Perubahan 2007.
Wapres Yusuf Kalla mengatakan, BI kembali menurunkan suku bunga acuan itu hingga di level 8,5 persen. Dengan turunnya kembali BI Rate, maka perbankan akan menyesuaikan tingkat bunga kreditnya yang pada gilirannya memicu ekonomi nasional tumbuh lebih cepat, katanya.
Bank yang baik bukan karena laporan neraca keuangannya baik namun perbankan yang bisa memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. Bank yang sehat bukan karena neraca keuangannya baik, tapi yang memberikan banyak manfaat kepada masyarakat. Perbankan diibaratkan sebagai jantung perekonomian bangsa. Karena itu maju-mundurnya dan berani-tidaknya, baik buruknya pertumbuhan ekonomi akan sangat tergantung pada perbankan.

BAB III
Kesimpulan


Indikator ekonomi menunjukan pertumbuhan ekonomi yang signifikan masih akan terus berlanjut. Terutama berasal dari ekspor dan perbaikan permintaan domestik, khususnya investasi yang terus tumbuh sejalan dengan membaiknya persepsi bisnis. Sementara itu, dibidang perbankan BI menilai industri perbankan nasional menunjukan pertumbuhan yang membaik. Kredit meningkat sebesar Rp 8,9 triliun menjadi Rp826,3 triliun (bulan per bulan) pada bulan Februari. Sedangkan inflasi indek harga komoditas (IHK) pada bulan maret 2007, menurut BI relatif stabil 6.5 persen (tahun per tahun).

Permintaan Eksternal Jadi Andalan Pertumbuhan Ekonomi 2007
Dari berbagai pengamatan dan pendapat para tokoh, faktor pendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia 2007 yaitu :
Ä  Konsumsi masyarakat yang terjaga
Ä  Tercapainya stabilitas inflasi
Ä  Menurunnya tingkat bunga yang dianggapnya menjadi faktor pendukung pertumbuhan ekonomi,
Ä  Belanja barang yang meningkat sehingga memberi dorongan lebih besar pada pengeluaran pemerintah.
Ä  Pergeseran musim panen ke triwulan 2/2007 yang akan mendorong pertumbuhan pertanian pada triwulan 2/2007, terutama tanaman pangan.

Selain itu, penguatan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2007 disebabkan beberapa faktor :
ü  Kinerja ekspor dan investasi swasta yang meningkat yang terindikasi dari pertumbuhan inevetasi bangunan, yang tercermin dari peningkatan permintaan semen, besi, dan baja.
ü  Adanya peningkatan kredit investasi riil di berbagai sektor usaha, dan adanya peningkatan pembentukan modal tetap bruto (PMTB), yang berasal dari peningkatan investasi mesin.
ü  Melemahnya dollar AS secara global bersamaan dengan berlangsungnya proses konsolidasi ekonomi AS
ü  Tingginya ekses likuiditas global

Dengan penguatan ini, Indonesia dapat mengambil keuntungan, diantaranya :
ü  Mendorong aliran dana masuk ke dalam negeri (capital inflow) dan memberi kontribusi terhadap apresiasi.
ü  Terjadinya surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI)

Penurunan BI Rate Belum Bisa Mengangkat Sektor Riil
Namun dari sebuah laporan, didapat sejenis keraguan. Misalnya, para pengusaha di Jawa Tengah menilai penurunan BI rate yang mencapai level 8,5% belum bisa mengangkat usaha sektor riil ke titik yang menggembirakan. Pengusaha masih pesimistis sektor riil langsung cepat bisa terangkat dengan adanya penurunan BI rate, karena pertama kali yang bisa merasakan penurunan BI rate adalah sektor keuangan terlebih dahulu. Pertama kali yang bisa merasakan penurunan BI rate, hanya sektor keuangan seperti BPR, sedangkan sektor riil belakangan.
Selain itu, Menko Perekonomian Boediono memiliki feeling pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2007 akan lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi kuartal I-2007, yang berada di posisi 5,97 persen. Sebab, beberapa roda perekonomian mulai bergerak cepat. " Saya tidak mengerti. Perasaaan saya beberapa sektor sudah mulai menggelinding sedikit lebih cepat," kata Boediono di Gedung E Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Kamis (21/6/2007). Perasaannya ini, atas dasar situasi yang terjadi saat ini. Misalnya, masa panen tahun ini terjadi pada kurtal II-2007.
Kemudian indikasi lainnya yakni realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) yang saat ini sudah ada peningkatan dibanding kuartal sebelumnya. Ditambah lagi nilai ekspor juga menunjukan perbaikan. Artinya realisasi bulan-bulan berikutnya akan mulai terlihat. Walaupun beberapa kemajuan sudah mulai terlihat, namun belum bisa dipastikan angka pastinya.
Menurut Menkominfo Muhammad Nuh menyampaikan bahwa ada beberapa syarat yang harus dicapai kalau Indonesia ingin bangkit dari kondisinya saat ini ;
Ö Adanya motivasi,
Ö Adanya modal, dan
Ö Adanya dukungan lingkungan yang kondusif.
Dalam kesempatan lain, menurut MenKeu Sri Mulyani, Ekonomi itu bisa dilihat sebagai suatu pasar besar ada sisi suplai dan sisi permintaannya yang terdiri dari ;
Ö konsumsi rumah tangga,
Ö konsumsi pemerintah, investasi,
Ö ekspor dan impor terhadap seluruh produksi barang dan jasa,
Berbagai kondisi di atas diperkirakan akan menyebabkan pertumbuhan konsumsi swasta dan investasi swasta pada 2007 lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada 2006. Sementara dari sisi fiskal, pengeluaran pemerintah yang tepat waktu dan tepat sasaran diharapkan dapat memberikan stimulus terhadap pertumbuhan ekonomi secara efektif. Selain itu, implementasi beberapa agenda penting program Pemerintah di 2007 seperti program pembangunan infrastruktur.
Berbagai upaya pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi dan program untuk mempercepat realisasi pembangunan infrastruktur diperkirakan mampu mendorong investasi  tumbuh lebih tinggi. Suku bunga rendah diyakini akan mendorong peningkatan domestic demand (investasi dan konsumsi swasta) yang selama ini tersendat. BI akan senantiasa mencermati perkembangan makroekonomi secara seksama dengan tujuan akhir untuk mencapai target kestabilan harga.




LAMPIRAN

Kronologis Fluktuasi BI Rate
(Berdasarkan keputusan Rapat Dewan Gubernur)
Periode
BI Rate
7 Juni 2007
8.50%
8 Mei 2007
8.75%
5 April 2007
9.00%
6 Maret 2007
9.00%
6 Feb 2007
9.25%
4 Jan 2007
9.50%
7 Des 2006
9.75%
7 Nov 2006
10.25%
5 Okt 2006
10.75%
5 Sept 2006
11.25%
8 Agust 2006
11.75%
6 Juli 2006
12.25%
6 Juni 2006
12.50%
9 Mei 2006
12.50%
5 April 2006
12.75%
7 Maret 2006
12.75%
7 Feb 2006
12.75%
9 Jan 2006
12.75%
6 Des 2005
12.75%
1 Nov 2005
12.25%
4 Okt 2005
11.00%
6 Sept 2005
10.00%
9 Agust 2005
8.75%
5 Juli 2005
8.50%

Sumber : www.bi.go.id

DAFTAR PUSTAKA


John, Jason. , 15 Juni 2007, 15:10 WIB. BI Rate Berpeluang Menyentuh 7.5%

No. 9/21/PSHM/Humas, Pernyataan Gubernur Bank Indonesia:
Bank Indonesia Menurunkan BI Rate 25 bps Menjadi 8,50%.

Sari, Suryani Ika. Kamis, 07 Juni 2007 | 13:14 WIB, Bank Indonesia Kembali Turunkan BI Rate 25 Basis Point


. 06 December 2006. Konsensus Ekonomi 2006 & 2007.

://seputarekonomi.blogspot.com/

Antaranews. BI: Pertumbuhan Ekonomi 2007 Paling Optimistik 6,2 %

www.antaranews.com

 

Danareksa.com. 15 Mei 2007, 12:55 WIB. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I/2007 6,0 Persen

www.DANAREKSA.com

 

Edward, Djony. BI Rate turun jadi 8,75%


0 komentar:

Posting Komentar

 

Blog Archive

Blogroll

Ini adalah aneka tugas kuliah yang saya kerjakan dan saya dapatkan saat kuliah Manajemen tahun 2006 hingga lulus. Hampir sepuluh tahun yang lalu. Koreksilah dahulu, cocokkan dulu dengan bahasannya dan jangan asal kopi-paste, karena bisa saja edisi bukunya berbeda sehingga soal-soalnya berbeda dan akhirnya jawabannya juga berbeda. Adanya gini, jangan minta lebih. Kalau mau perfect ya kerjakan sendiri. Tugas-tugas saya ini hanya sebagai penunjang yang fungsinya supporting, bukan sebagai tulang punggungnya. Gunakan dengan bijak, semoga bermanfaat.

About