Pages

Tampilkan postingan dengan label IIlmu Sosial dan Budaya Dasar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IIlmu Sosial dan Budaya Dasar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Februari 2008

MAKALAH IsBD : KELUAR DARI OPEC

Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Alloh swt, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Indonesia dalam Globalisasi “. Dalam makalah ini penulis membahas  dampak globalisasi terhadap bahasa dan kebudayaan Indonesia. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, serta sebagai sumbangsih pemikiran terhadap pudarnya kebudayaan oleh globalisasi yang seharusnya menjadi pandangan hidup orang Indonesia. Dan semoga makalah ini dapat menjadi sebuah pijakan berpikir untuk perubahan kearah yang lebih baik.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung hingga terselesaikannya penulisan makalah ini. Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan. Namun, besar harapan kami agar tulisan ini diterima dan nantinya bermanfaat oleh semua pihak.
Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.



Surabaya,  Mei 2008

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang
         Setiap bangsa di dunia memiliki ciri khas dan pandangan hidup yang berbeda dengan bangsa lain. Pandangan hidup merupakan suatu dasar atau landasan untuk membimbing kehidupan bermasyarakat. Karena manusia adalah makhluk social, pandangan hidup yang teguh merupakan pelindung seseorang, Dengan memegang teguh pandangan hidup yang diyakini , seseorang tidak akan bertindak sesuka hatinya.
         Berbeda dengan bangsa lain, bangsa Indonesia mendasarkan pandangan hidup pada suatu asas cultural yang melekat pada bangsa itu sendiri. Nilai-nilai cultural yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan hasil karya bangsa Indonesia itu sendiri yang menggambarkan keragaman suku yang ada di Indonesia ini sesuai dengan pancasila sila ke-3 yang berbunyi “persatuan Indonesia” .
   Keragaman ini tidak lantas membuat bangsa Indonesia menjadi terpecah belah, namun malah sebaliknya. Terdapatnya banyak perbedaan di Indonesia malah membuat bangsa ini menjadikan perbedaan tersebut sebagai alat pemersatu. Hal ini di perkuat dengan adanya semboyan “bhinneka tunggal ika” yang mempunyai makna “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”.
         Sejalan dengan perkembangan zaman, kehidupan berbangsa dan bernegara tidak bisa terhindar dari pengaruh arus globalisasi yang sudah mendunia ini. Kemajuan teknologi semakin berkembang dan canggih yang dapat mempermudah penyampaian informasi tanpa batas, sehingga kebudayaan dari luar mudah masuk dan secara tidak langsung dapat mempengaruhi pola hidup masyarakat sehingga semakin lama kebudayaan bangsa sendiri semakin terabaikan.
Hal ini diperkuat oleh masyarakat Indonesia pada umumnya dan generasi muda khususnya, yang kebanyakan kurang mencintai budaya dan bahasa nasional. Mereka beranggapan bahwa dengan memakai produk asing dan menggunakan bahasa asing akan menimbulkan kebanggaan tersendiri dan memperoleh pengakuan dunia modern. Dengan banyak nya generasi muda saat ini yang banyak meniru perilaku bangsa luar dan mengabaikan budaya Indonesia, bukan tidak mungkin suatu saat nanti budaya bangsa lama kelamaan akan hanya menjadi sebuah kenangan saja.
1.2.   Rumusan masalah
1.      Mengapa merk dan gaya berpakaian luar negeri lebih diminati oleh sebagian besar orang Indonesia ?
2.      Mengapa kebanyakan orang Indonesia lebih bangga menggunakan bahasa inggris dari pada bahasa Indonesia ?
1.3.   Tujuan Penulisan

1.4.   Manfaat penulisan
1. Bagi Mahasiswa
Agar mahasiswa tahu dan sadar bahwa globalisasi memberikan dampak yang buruk jika tidak didahului dengan rasa cinta tanah air

2. Bagi masyarakat
Agar masyarakat menyadari bahwa memaknai globalisasi tidak hanya terbatas pada budaya dan bahasa, tetapi masih banyak hal lain yang kita adopsi di negara kita,teknologi misalnya, tanpa harus meninggalkan bahasa dan budayanya sendiri.

BAB II
                               PEMBAHASAN

OPEC sebenarnya sebuah organisasi bergengsi ketika OPEC mampu mengendalikan harga minyak dengan kuotanya, namun saat ini OPEC sepertinya tidak banyak mempengaruhi harga minyak. Juga ketika Indonesia sudah menjadi net importir Indonesia masih tercatat sebagai anggota OPEC. Tetapi, menjadi net exportir bukanlah syarat keanggotaan OPEC. Jadi sepertinya asalkan anggotanya masih mengeksport minyak maka bisa menjadi anggota. Indonesia saat ini pun sebenarnya juga masih mengeksport minyak namun juga mengimpor minyak, baik dalam bentuk minyak mentah maupun BBM (refined).
OPEC merupakan kartel negara-negara yang menginginkan harga minyak tetap tinggi, sehingga posisi Indonesia yang juga sekaligus mengimpor minyak, malah berdampak negatif.
Indonesia terikat kewajiban membayar iuran cukup besar yang dikaitkan dengan volume produksi minyak. Meski Indonesia juga mendapat keuntungan ketika melakukan negosiasi dengan anggota OPEC lainnya. Namun mengkhawatirkan rencana tersebut merupakan upaya pemerintah mengalihkan perhatian publik dari isu kenaikan harga BBM. Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sedang mempertimbangkan keluar dari keanggotaan OPEC.
Indonesia kini tidak lagi murni mengekspor minyak, tetapi juga negara pengimpor minyak dalam jumlah cukup besar. Rencana keluar dari OPEC merupakan keputusan rapat kabinet di Kantor Presiden yang juga mengambil keputusan akan menaikkan harga BBM bersubsidi secara terbatas.
Namun, Indonesia mempertimbangkan kembali menjadi anggota OPEC, setelah produksi minyak meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
Pokok masalahnya adalah warga Indonesia itu tidak mau diajak maju dan tidak mau berkorban sedikit saja seperti persoalan pembagian gas gratis. Tinggal beli kompor sama gas 15000 tiap minggu saja tidak mau padahal pendapatannya akan meningkat karena menggunakan kompor gas karena lebih cepat matang bagi yang jualan gorengan atau masakan lain. Kembali ke permasalahan semula, memang subsidi minyak harus dikurangi atau mungkin dihilangkan karena itu akan membuat negara makin miskin saja.Yang harus dilakukan pemerintah sekarang adalah mengurangi rasa sayang yang berlebihan kepada rakyatnya dengan menaikkan harga minyak semaksimal mungkin atau paling tidak mengurangi subsidi BBM karena negara kita perlu uang untuk membuka sesuatu yang spesial di mata dunia seperti pembutan pesawat terbang jadi Indonesia tidak perlu impor pesawat lagi dari luar.
Sebaiknya tidak keluar karena apa?
1. Indonesia mendapat keuntungan di OPEC untuk impor minyak karena negosiasi bisa lebih mudah
2. Indonesia masih berpeluang untuk meningkatkan produksi minyak
3. Indonesia sudah mendapat status anggota penuh, jika misal keluar dari keanggotaan OPEC untuk kembali masuk akan susah.
4. Isu keluar dari OPEC sebenarnya hanya cara pemerintah untuk mengalihkan isu kenaikan BBM
Indonesia saat ini memang sedang kesulitan berat dalam pengelolaan sumberdaya energi. Saat ini kebutuhan energi didalam negeri hampir 40% masih didominasi oleh minyak bumi. Sedangkan sisa lainnya dipenuhi dari batubara (yang mulai meningkat sejak 1980an), Gas lebih banyak dijual karena biasanya gas itu dijual dengan sistem kontrak. Karena sistem kontrak ini, maka harga gas tidak bisa serta-merta naik seperti harga minyak.
Harga minyak yang saat ini disekitar 120USD/barrel sudah tidak realistis. Karena harga minyak saat ini pun sudah menggunakan “future trading” atau sistem ijon. Membeli untuk kebutuhan tiga bulan mendatang. Dan karena “ketakutan” tidak mendapat jatah di masa mendatang inilah yang menyebabkan harga minyak menanjak. Demikian juga dengan batubara yang ikutan melonjak. Tapi lagi-lagi gas yang menjadi andalan eksport Indonesia tidak bisa menolong kenaikan harga energi ini.
Fluktuasi harga minyak saat ini banyak yang menduga akibat beberapa faktor antara ain supply minyak yang terganggu akibat produksi Shell di Nigeria, nilai US dollar yang melemah, serta kebutuhan (demand) dimasa mendatang yang tidak pasti atau keraguan mendapatkan pasokan energi primer.


BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
3.2 Saran

BAB II
PEMBAHASAN

Seperti telah diuraikan dalam bab pendahuluan sebelumnya, globalisasi memiliki dampak yang sangat luas sekali dan berpengaruh tidak hanya pada satu atau dua bidang saja. Dampak globalisasi dapat berpengaruh dalam berbagai bidang, misalnya dalam bidang ekonomi, sosial budaya, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dalam pembahasan ini penulis membatasi permasalahan yang akan dibahas.
Dalam bab ini yang akan dibahas adalah dampak dari globalisasi terhadap budaya dan bahasa, yaitu sejauh mana globalisasi ini mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia berkaitan dengan dua hal tersebut. Dalam pembahasan mengenai kedua ruang lingkup permasalahan dari dampak globalisasi, yaitu budaya dan bahasa, penulis mengambil satu contoh  untuk masing-masing permasalahan.
Untuk pembahasan mengenai dampak globalisasi terhadap budaya, penulis mengambil contoh penggunaan merek dagang luar negeri yang lebih banyak diminati oleh masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. Sedangkan untuk pembahasan mengenai dampak globalisasi terhadap bahasa, penulis mengambil contoh bahasa Inggris yang sekarang ini semakin banyak digemari oleh generasi muda bangsa ini untuk dipelajari dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Pembahasan lebih lanjut tentang permasalahan tersebut akan dijelaskan dalam bab ini.

Globalisasi dan budaya
Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya aspek budaya. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Baik nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan/psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan.
   Berkembangnya mode yang berskala global, seperti pakaian, film dan lain lain merupakan salah satu ciri berkembangnya globalisasi kebudayaan. Mode merupakan salah satu poin yang berkembang sangat pesat dan dapat dilihat secara kasat mata di Indonesia yang merupakan negara dengan aliran informasi tinggi sebagai sarana penyalur globalisasi.

·               Budaya berpakaian masyarakat Indonesia jaman dahulu
Kebaya adalah blus tradisional yang dikenakan oleh wanita Indonesia dan Malaysia yang terbuat dari bahan tipis yang dikenakan dengan sarung, batik, atau pakaian rajutan tradisional lainnya seperti songket dengan motif warna-warni. Dipercaya kebaya berasal dari Tiongkok ratusan tahun yang lalu. Lalu menyebar ke Malaka, Jawa, Bali, Sumatera, dan Sulawesi. Setelah akulturasi yang berlangsung ratusan tahun, pakaian itu diterima di budaya dan norma setempat.
Sebelum 1600, di Pulau Jawa, kebaya adalah pakaian yang hanya dikenakan keluarga kerajaan di sana. Selama masa kendali Belanda di pulau itu, wanita-wanita Eropa mulai mengenakan kebaya sebagai pakaian resmi. Selama masa ini, kebaya diubah dari hanya menggunakan barang tenunan mori menggunakan sutera dengan sulaman warna-warni.
·               Pengaruh globalisasi terhadap fashion Indonesia
Seiring berkembangnya zaman dan semakin pesatnya pesat dan cepatnya pertumbuhan globalisasi di Indonesia, pakaian adat Indonesia tidak lagi digemari oleh masyarakat Indonesia. Fashion dunia saat ini sedang trend sebagai imbas globalisasi yang begitu cepatnya berputar dalam masyarakat Indoneia, inilah penyebab utama semakin tersisihnya kebaya dan batik sebagai pakaian tradisional Indonesia. Merek-merek luar negeri lebih dominan dan lebih di gemari oleh konsumen pakaian dalam dunia fashion daripada merek dalam negeri. Merek luar seakan memiliki prestige tersendiri bagi si pemakai. Sungguh ironi bagi Indonesia yang memiliki begitu banyak keanekaragaman budaya serta banyaknya penduduk yang seharusnya dapat menjadi sumber kreativitas yang tak terbatas.
Penampilan menyiratkan kepribadian bisa dijadikan ungkapan yang tidak asing di telinga tetapi memang tidak selamanya benar. Segala aktifitas kehidupan manusia menjadi obyek fashion mengingat pakaian dan perlengkapanya sudah menjadi kebutuhan mendasar sejak manusia dilahirkan bahkan bisa menjadi simbol identitas. Merek luar yang lebih popular di kalangan Indonesia pun lama-kelamaan akan menjadi gaya hidup yang dapat menggerus rasa nasionalisme dan kebanggaan akan budaya Indonesia. Oleh karena itu, penjualan produk dalam negeri pun menurun.
     Alasan-alasan mengapa masyrakat Indonesia lebih menyukai produk serta merek luar negeri adalah:
1.   Otak masyarakat sudah terkontaminasi dengan pikiran bahwa merek Indonesia itu jelek, merek luar lebih bagus mutunya daripada merek lokal. Mutu pakaian Indonesia sangat kalah jauh dibanding merek dalam negeri. Padahal, merek-merek luar itu sebenarnya dibuat dan diolah di Indonesia, baru dikirim ke luar untuk diberi merek.
2.   Harga merek luar dan merek lokal bersaing ketat sedangkan mutu merek lokal sangat rendah. Sehingga masyarakat berpikir lebih baik membeli merek luar yang terjamin mutunya dengan harga yang relatif sama dengan merek lokal yang bersifat mudah rusak dan sementara. Indonesia tidak memiliki strategi harga pasar.
3.   Merek luar biasanya dikaitkan dengan harga yang melambung tinggi, sehingga hanya orang-orang dengan berpenghasilan tinggi saja yang mampu membeli merek luar tersebut. Hal inilah yang menimbulkan prestige luar biasa pada siapa saja yang menggunakan merek luar. Padahal, banyak merek luar yang telah dibajak pedagang lokal untuk meningkatkan penjualan.
4.   Tidak ada proteksi merek lokal oleh pemerintah Indonesia. Pembajakan sendiri telah menjadi budaya di Indonesia. Tidak hanya merek luar saja yang dibajak, merek lokal pun juga telah dibajak oleh pihak tak bertanggung jawab. Bagaimana kita mau berkembang jika merek lokal buatan anak negeri saja juga dibajak. Padahal, merek lokal itulah yang nantinya menjadi ikon yang mengingatkan kita kepada bangsa Indonesia.
5.   Tidak banyak merek-merek fesyen yang dikhususkan untuk anak-anak hadir di Indonesia. Apalagi yang desainnya dibuat oleh perancang lokal. Kebanyakan merek pakaian anak memang berasal dari mancanegara. Untuk urusan ini, Indonesia tampaknya memang tertinggal. Padahal, banyak perancang lokal berprestasi dan ikut ajang fesyen internasional. Masalahnya, desainer umumnya fokus pada kebutuhan orang dewasa. Padahal, peluang memasarkan produk, termasuk dengan target market anak-anak, terbuka lebar di negara dengan penduduk banyak seperti Indonesia.
6.   Pemikiran bahwa pemakaian kain batik, kebaya, serta pakaian adat lainnya dianggap ketinggalan jaman serta pemakainnya yang tidak praktis serta tidak nyaman. Kurangnya inovasi di fashion Indonesia telah mengurangi minat konsumen untuk membeli pakaian yang mencerminkan budaya Indonesia.
Globalisasi dan Bahasa
Bahasa adalah sebuah alat bagi manusia untuk bisa berinteraksi (komunikasi) dengan manusia yang lain. Bahasa menunjukkan pula ciri suatu bangsa dan budaya di sebuah negara. Seiring perkembangan hidup manusia yang bergerak ke arah yang lebih maju, bahasa secara langsung akan ikut berkembang mengikuti perkembangan hidup manusia sesuai dengan kebutuhan manusia itu sendiri.
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional telah menyemangati para pejuang kemerdekaan dalam menyalakan api perjuangan. Bahasa Indonesia mampu menyatukan berbagai kelompok etnis yang berbeda latar belakang sosial budaya dan bahasa dalam satu kesatuan bangsa. Semangat itu telah menjiwai para pejuang pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 di Jakarta. Dalam Sumpah Pemuda itu dinyatakan pengakuan terhadap satu tanah air dan satu bangsa Indonesia, serta menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Pernyataan ketiga itu mengandung makna: (1) pengutamaan bahasa Indonesia di atas kepentingan bahasa-bahasa lain dan (2) memberi peluang penggunaan bahasa asing untuk keperluan tertentu.
Kita ketahui bersama-sama bahwasanya saat ini kondisi masyarakat Indonesia maupun dunia sudah memasuki apa yang disebut era globalisasi. Pengertian globalisasi adalah proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi, dan budaya masyarakat. Termasuk di dalamnya "keharusan" semua bangsa di dunia hanya menggunakan satu bahasa universal yaitu bahasa Inggris. Artinya, bahwa secara implisit proses globalisasi akan membuat dunia menjadi seragam dan menghapus identitas maupun jati diri suatu bangsa. Kebudayaan lokal termasuk bahasa nasional (Indonesia) akan ditelan oleh kekuatan budaya besar atau kekuatan budaya global.
Bahasa Indonesia yang berposisi sebagai bahasa nasional sangat berperan penting dalam menentukan perkembangan bahasa itu sendiri. Namun, realita yang ada saat ini mengimperatifkan kenyataan perkembangan bahasa nasional di Indonesia, tingkat pemakaiannya dalam kehidupan sehari-hari semakin menunjukkan kemunduran. Hal ini disebabkan selain tingkat pemahaman yang kurang terhadap bahasa Indonesia, mayoritas masyarakat lebih memilih menggunakan bahasa asing (khususnya bahasa Inggris) untuk digunakan dalam tuturan sehari-hari. Penggunaan bahasa asing makin mendesak ruang penggunaan bahasa Indonesia. Kebanggaan masyarakat akan bahasa Indonesia sebagai lambang jati diri bangsa telah memudar di sebagian anggota masyarakat dan era globalisasi perlahan-lahan akan mengikis kecintaan masyarakat terhadap bahasa Indonesia. Sebagai contoh: sering kita lihat anak muda Indonesia lebih suka mengucapkan mal (baca : mol), daripada pusat perbelanjaan. Mereka berpandangan bahwa di era globalisasi, memakai bahasa asing dalam tuturan sehari-hari lebih menjanjikan, prestisius (keren), dan menguntungkan dalam segi ekonomi.
Hal ini juga dibuktikan dengan banyaknya fenomena-fenomena negatif yang masih terjadi di tengah-tengah masyarakat Indonesia antara lain sebagai berikut :
a. Banyak orang Indonesia memperlihatkan dengan bangga kemahirannya menggunakan bahasa Inggris, walaupun mereka tidak menguasai bahasa Indonesia dengan baik.
b. Banyak orang Indonesia merasa malu apabila tidak menguasai bahasa asing (Inggris) tetapi tidak pernah merasa malu dan kurang apabila tidak menguasai bahasa Indonesia.
c. Banyak orang Indonesia menganggap remeh bahasa Indonesia dan tidak mau mempelajarinya karena merasa dirinya telah menguasai bahasa Indonesia dengan baik.
d. Banyak orang Indonesia merasa dirinya lebih pandai daripada yang lain karena telah menguasai bahasa asing (Inggris) dengan fasih, walaupun penguasaan bahasa Indonesianya kurang sempurna.
Tanggung jawab terhadap perkembangan bahasa Indonesia terletak di tangan pemakai bahasa Indonesia sendiri. Baik buruknya dan maju mundurnya bahasa Indonesia merupakan tanggung jawab setiap orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia yang baik. Setiap warga negara Indonesia harus bersama-sama berperan serta dalam membina dan mengembangkan bahasa Indonesia itu ke arah yang positif. Usaha-usaha ini, antara lain dengan meningkatkan kedisiplinan berbahasa Indonesia pada era globalisasi ini, yang sangat ketat dengan persaingan di segala sektor kehidupan. Maju bahasa, majulah bangsa. Kacau bahasa, kacau pulalah bangsa. Keadaan ini harus disadari benar oleh setiap warga negara Indonesia sehingga rasa tanggung jawab terhadap pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia akan tumbuh dengan subur di sanubari setiap pemakai bahasa Indonesia. Rasa cinta terhadap bahasa Indonesia pun akan bertambah besar dan bertambah mendalam. Sudah barang tentu, ini semuanya merupakan harapan bersama, harapan setiap orang yang mengaku berbangsa Indonesia.
Oleh karena itu, selain peran aktif dari penutur dengan terus menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, peran yang sangat penting dalam mengantisipasi musnahnya bahasa Indonesia adalah pemerintah. Dalam hal ini, kebijakan-kebijakan strategis pemerintah terhadap upaya pelestarian bahasa-bahasa nasional di Indonesia, menjadi kata kuncinya. Sebagai pengatur regulasi, pemerintah harus bisa memopulerkan kembali pemakaian bahasa nasional kepada masyarakat penuturnya. Salah satu upaya menjaga agar bahasa Indonesia tidak tergeser oleh bahasa-bahasa asing (khususnya bahasa Inggris) ialah pengukuhan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia di tengah-tengah masyarakat pendukungnya, yaitu di seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Upaya menanamkan rasa kecintaan terhadap bahasa kebangsaan itu, antara lain, dilakukan melalui peningkatan mutu kampanye “penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar” ke seluruh lapisan masyarakat. Selain itu, menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi di tiap daerah-daerah. Pemerintah juga terus melakukan pengajaran kepada masyarakat tentang bahasa Indonesia karena pengajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan penguatan identitas lokal dan melindungi budaya-budaya daerah serta mengembangkan dan meningkatkan konsep pluralisme serta toleransi masyarakat. Sehingga, bahasa Indonesia akan mampu menjadi bahasa pengantar perdagangan bebas di bumi Indonesia pada era globalisasi. Upaya perluasan penggunaan bahasa Indonesia ke luar masyarakat Indonesia merupakan langkah memperbaiki citra Indonesia di dunia internasional melalui peningkatan mutu pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing yang pada gilirannya akan menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa perhubungan luas di dunia internasional.

Jumat, 07 September 2007

ILMU BUDAYA DASAR (IBD)


IBDàSalah satu komponen MKU (Mata Kuliah Umum).
IBD identik àBasic humanities.
Humanities àdari kata Latin àhumanus” = manusiawi, berbudaya, dan halus (refined).

Dengan mempelajari IBD à Seseorang diharapkan menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya, dan lebih halus.

Basic Humanities tidak identik dengan the humanities / pengetahuan budaya yang mencakup keahlian filsafat dan seni yang dapat dibagi-bagi lagi ke dalam berbagai bidang keahlian seperti seni sastra, seni tari, dan seni rupa.

IBD bukanlah ilmu tentang berbagai budaya, melainkan pengertian dasar dan pengertian umumnya tentang konsep-konsep dan teori-teori budaya yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah kebudayaan.


Secara spesifik program MKU bertujuan:
1.            Berjiwa Pancasila sehingga segala keputusan serta tindakannya mencerminkan pengamalan nilai-nilai Pancasaila.
2.            Taqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, bersikap dan bertindak sesuai dengan ajaran agamanya dan tenggang rasa terhadap agama lain.
3.            Memiliki wawasan komprehensip dan pendekatan internal di dalam menyikapi permasalahan kehidupan baik social, ekonomi, politik, pertahanan keamanan maupun kebudayaan.
4.            Memiliki wawasan budaya yang luas tentang kehidupan bermasyarakat dan berperan serta meningkatkan kualitas, lingkungan alamiah dan pelestariannya.

Tujuan IBD

            Pembentukan dan pengembangan kepribadi-an serta perluasan wawasan perhatian, pengetahuan, dan pemikiran mengenai berbagai gejala yang ada dan timbul dalam lingkungan, khususnya gejala-gejala yang berkenaan dengan kebudayaan dan kemanusiaan agar daya tanggap, persepsi, dan penalaran budaya dapat diperhalus.

LATAR BELAKANG IBD


Latar belakang (dasar hukum) IBD diberikan di perguruan tinggi. Selain melihat konteks budaya Indonesia, juga sesuai dengan program pendidikan di PT.
1.             Rapat rektor Universitas/Institut negeri se-Indonesia 11-13 Oktober 1971 di Tugu menyim-pulkan pentingnya pemberian mata kuliah Basic Social Science (ISD) dan Basic Humanities (IBD).
2.             Rapat kerja pengajar 25-28 Oktober 1971 yang diselenggarakan Dirjen Dikti Departemen P & K diputuskan ISD dan IBD akan diberikan di semua fakultas dalam lingkungan universitas/institut negeri di seluruh Indonesia yang kemudian ditegaskan dalam Surat Direktur Pendidikan Tinggi No. 1338/DPT/A/71.
3.             Surat Keputusan Dirjen Dikti Depdikbud RI No. 32/DJ/Kep/1983.

Latar belakang IBD dalam konteks budaya, negara, dan masyarakat Indonesia berkaitan dengan permasalahan sbb.:
1.            Bangsa Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa dengan segala keanekaragaman kebudayaan.
2.            Proses pembangunan menimbulkan dampak positif dan negatif berupa terjadinya perubahan dan pergeseran sistem nilai budaya sehingga dengan sendirinya mental manusia pun terpengaruh.
3.            Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menimbulkan perubahan kondisi kehidupan manusia, menimbulkan konflik dengan tata nilai budayanya.
Catatan: Keresahan manusia muncul akibat adanya benturan-benturan nilai teknologi modern dengan nilai tradisional.

KEBUDAYAAN


Menurut Antropologi kebudayaan:                             
Keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

Kuntjaraningrat: Kebudayaan (culture) berasal dari bahasa Sansekerta buddayah à budi/akal.
Jadi kebudayaan: Hal-hal yang bersangkut paut dengan akal.

J.J. Honigman à “The World of Man” membedakan adanya  tiga gejala kebudayaan:
1.            Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide (gagasan), nilai-nilai/norma dan peraturannya.
2.            Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3.            Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Ki Sarino Mangun Pranotoà Budaya manusia itu terwujud karena adanya perkembangan norma hidupnya atau lingkungannya.
Norma hidup terwujud dalam bentuk:
1.      Alam pikir
2.      Alam budi
3.      Alam karya
4.      Alam tata susila
5.      Alam seni.

Ki Hajar Dewantaraà Manusia pada hakikatnya makhluk budaya.

UNSUR-UNSUR UNIVERSAL KEBUDAYAAN

1.        Bahasa
2.        Sistem pengetahuan
3.        Organisasi sosial
4.        Sistem peralatan hidup dan teknologi
5.        Sistem mata pencaharian hidup
6.        Sistem religi
7.        Kesenian


KEBUDAYAAN BERSAHAJ/TRADISIONAL PRIMITIF

Bersahaja à saha=dengan + ja=lahir à tabiat dari lahir
Primitif + asal yang pertama/yang dahulu sekali (bentuk & sifat-sifat makhluk sebelum manusia modern sekarang).

Dari segi kebudayaan:
Corak kebudayaan pada bangsa yang terpencil sekali yang belum mengenal teknologi modern dan belum mencapai tingkat perkembangan dalam agama, ilmu, dan seni.

CIRI-CIRI KEBUDAYAAN BERSAHAJA

1.        terpencil
2.        bergantung pada alam
3.        statis
4.        kurang dan kabur deferensiasi

CIRI-CIRI KEBUDAYAAN MODERN

1.        hubungan yang ramai
2.        bergantung pada ilmu dan teknik                       
3.        sifat progresif/dinamis
4.        banyak dan beragam deferensiasi
   

PERUBAHAN KEBUDAYAAN


1.        PRUBAHAN ALAM
Alam selalu berubah. Lingkungan berubah membawa perubahan cara berpikir, hubungan antarindividu dan status sosial.

2.        PROSES SOSIAL
Gerak perubahan manusia dalam kehidupannya membawa kepada gerak masyarakat dan kebudayaan. Kebudayaan dari dalam disebut evolusi.


CARA-CARA PERUBAHAN KEBUDAYAAN

1.        KONGRUENSI        
Suatu unsur budaya asing masuk dalam suatu budaya tertentu untuk mengisi kekosongan, karena unsur budaya yang dimasuki belum ada. Misalnya budaya teknologi dan elektronika.

2.        FUSI
Apabila unsur budaya asing dan sejenis diterima oleh budaya tertentu membentuk unit baru. Contoh: keroncong

3.        SIMBIOSIS
Bila unsur budaya asing dengan unsur budaya penerima sejenis dapat hidup berdampingan. Misalnya: Dalam istilah-istilah keagamaan.

4.        SINKRITISME
Bila dua unsur budaya saling bertemu, unsur budaya asing dengan unsur budaya tertentu menjadi satu kesatuan yang sebenarnya unsur-unsur budaya tersebut saling berlawanan. Contoh: terkun, Nduslam.

5.        AKULTURASI
Unsur budaya asing diterima disesuaikan dengan unsur budaya penerima. Contoh: Sistem pendidikan di Indonesia.

6.        ASIMILASI
Bila unsur budaya asing yang diterima  diserap menjadi bagian yang integral dari budaya penerima sehingga tidak dirasakan lagi sebagai unsur budaya asing. Misalnya: jagung, lombok, tembakau.

PROSES PENERIMAAN PERUBAHAN KEBUDAYAAN

1.         Terbiasanya masyarakat memiliki hubungan (kontak) dengan kebudayaan dan dengan orang-orang yang berasal dari luar masyarakat tersebut.
2.         Jika pandangan hidup dan nilai-nilai yang dominan ditentukan oleh nilai agama, maka penerimaan unsur baru disensor dulu.
3.         Corak struktur sosial masyarakat (sistem otoriter).
4.         Suatu unsur diterima jika sebelumnya sudah ada unsur kebudayaan itu.
5.         Apabila unsur yang baru memiliki skala kegiatan yang terbatas dan dapat dengan mudah dibuktikan kegunaannya.

ISI HUMANIORA INDONESIA


Manusia Indonesia modern nanti di samping menguasai semua alat dan sarana kemajuan untuk pembangunan negara, harus membentuk diri sebagai  manusia pembangunan bermoral dan bermental tinggi serta mempertahankan citra keselarasan dengan alam dunia maju.

UNSUR TERPENTING


Unsur manusia à unsur rasa yang terungkap dalam budi bahasa dan seni.

MANUSIA HUMANIORA SEBAGAI MANUSIA PEMBANGUNAN
Ilmu dan teknik dapat didatangkan dari luar, namun jiwa hanya dapat dibina dari dalam. Kegagalan kemajuan negara barat modern disebabkan karena goyahnya pegangan. Tuhan, manusia, dan bumi merupakan kesatuan yang harmonis.

-          Pada zaman renaissance à manusia mulai melepaskan Tuhan.
-          Pada zaman industri à unsur manusia digeser dengan mesin.
Contoh: Amerika dan Jepang sukses dalam pembangunan, namun mereka tidak dapat mengendalikan senjata atomnya.

Pembangunan RI à Moral Pancasila
Menjamin keselarasan  (trilogi)

-          Selaras dengan Tuhan
-          Selaras dengan manusia
-          Selaras dengan alam sekitarnya.

Sikap kritis ini bila dimiliki dalam pembangunan, dapat menyelamatkan kita dari malapetaka yang mengancam dunia. Ia kritis sebagai konsumen, kritis membaca, melihat film, mendengarkan musik, karena inilah justru khas latihan humaniora.HUMANIORA DALAM KONFLIK KEBUDAYAAN

            Dalam konflik kebudayaan, nilai-nilai kebudayaan yang satu ditentang oleh cita-cita kebudayaan yang lain. Hal ini perhatian orang kembali pada unsur-unsur manusiawi yang paling hakiki dan abadi sifatnya. Orang selalu menggali lagi dasar humaniora. Memilih mana yang lebih sesuai untuk mempertinggi martabat manusia.
Contoh:
1.         Pada abad sebelum Kristus dalam kebudayaan Yunani Romawi ada konflik antara falsafah dan sastra.
2.         Pada zaman Gereja purba ada konflik antara ilmu pengetahuan dengan dasar “kafir” dengan dasar Kristen.
3.         Pada abad 17-18 yaitu orang modern memerangi orang kolot.
4.         Pada abad 19 pertentangan antara agama dan ilmu.
5.         Sekarang timbul konflik antara ilmu eksata yang bergelora dalam super teknik modern dengan tenaga atomnya menghadapi himbauan ilmu-ilmu sosial.

Keunggulan sains membuat jurang kaya-miskin di sluruh dunia. Teknik yang menciptakan .

Keunggulan sains membuat jurang kaya-miskin di sluruh dunia. Teknik yang menciptakan lombaan senjata  mengancam dunia dengan kepunahan. Teknik tanpa etik menjadi bahaya.

HUMANIORA MELANGSUNGKAN NILAI MANUSIA ABADI
Negara kita adalah negara agraris yang juga mempunyai cita-cita keharmonisan, keakraban, kekeluargaan, dan persatuan dengan alam yang terungkap dalam paham:
Keselarasan à selaras dengan alam-kosmos, dengan sesama, dan dengan Tuhan penguasa segala.
         Orang barat à bahasa, sejarah, dan falsafah membentuk moral dan mental.

PEMBINAAN HUMANIORA LEWAT SENI SASTRA – MUSIK – DRAMA

Pendidikan humaniora tidak mengarah pada kejuruan, pada keterampilan tertentu, melainkan menuju pada pendewasaan pribadi sebagai manusia dan warga negara, bukannya sebagai pekerja pada bidang tertentu. Maka dari itu pendidikan humaniora memusatkan perhatian pada kelangsungan dan perkembangan seni-seni dan keahlian, yang pada nilai-nilai paling tinggi bagi umat manusia.
Muluk, namun tidak praktis untuk mencari pekerjaan. Sebaliknya perguruan tinggi yang hanya mempersiapkan siswanya untuk mencari pekerjaan, tidak akan sampai “mendewasakan” orang menjadi pribadi sebagai manusia dan warga negara akan menjadi robot dan kerdil.

MANUSIA DAN KEPRIBADIAN

Kepribadian  à pribadi: watak, diri manusia, karakter (personality, character self)
Macam : 1. menarik, halus
                    2. kasar, keras
Konsep kepribadian:
1.      Corak tingkah laku sosial
a.         tampak
      - cara berjalan
                     - cara berbicara
b.        tidak tampak
- nilai-nilai
                        - norma-norma
                        - pandangan hidup          
2.      Corak gerak-gerik badan manusia
3.      Tingkah laku manusia terhadap alam
4.      Totalitas psikophisik yang kompleks
5.      Organisasi psikophisik yang dinamik à penyesuaian diri dengan lingkungan

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPRIBADIAN

Faktor:
o   dalam à bawaan
o   luar    à lingkungan

Aliran-aliran:
1.        Nativisme (J.J. Rousseau,  Schoupen Hour)
      Kepribadian seseorang dipengaruhi dari unsur bawaan atau bakat sejak lahir.
2.        Empirisme ( John Locke)
Kepribadian seseorang dipengaruhi oleh pengalaman setelah manusia lahir.
Teorià Tabularasa à manusia lahir seperti kertas putih.
3.        Convergensi (W. Stern)
Kepribadian seseorang dipengaruhi dari dalam dan dari luar.
bakat seni + fasilitas ada à seniman

MANUSIA DAN CINTA KASIH

Pengertian kasih sayang
Kasih sayang à perasaan sayang/ cinta/suka kepada seseorang.

Rumah tangga à kasih sayang à kasih mengasihi bukan lagi                                                                  bercinta-cintaan.

Dalam kasih sayang masing-masing pihak dituntut:
1.        tanggung jawab
2.        pengorbanan
3.        kejujuran
4.        saling percaya
5.        saling pengertian
6.        saling terbuka

Apabila salah satu unsur kasih sayang hilang maka retaklah keutuhan rumah tangga.

PROSES PEMBERIAN CINTA KASIH ORANG TUA  KEPADA ANAK

1.        Orang tua bersifat aktif à anak pasif.
Orang tua memberikan kepada anak beberapa moral dan material sebanyaknya, sedangkan anak menerimanya saja (manja)

2.        Orang tua pasif à anak aktif.
Anak berlebihan memberikan kasih sayang sedangkan orang tua tidak memberikan perhatian (anak nakal/frustrasi)

3.        Orang tua pasif à anak pasif.
Keduanya tanpa saling memperhatikan dan membawa hidup sendiri-sendiri ( orang tua memberi materi saja).

4.        Orang tua aktif à anak aktif.
      Orang tua dan anak saling memberikan kasih sayang             sebanyaknya.
Hubungan intim, mesra, saling mencintai dan saling menghargai.


DAFTAR PUSTAKA


Dison, L. 1999. Ilmu Budaya Dasar: Surabaya: Bina Ilmu.
Habib Mustopo, M. 1983. Ilmu Budaya Dasar. Surabaya. Usaha Nasional.
Hartoko, Dick. 1987. Memanusiakan Manusia Muda, Tinjauan Humaniora. Yogyakarta: Kanesius.
Kuntjaraningrat.1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta:  Aksara Baru.

Spicer,E.H. (Edit.).1952. Human Problems in Technological Change. New York: Russel Sage Foundation.
 

Blogroll

Ini adalah aneka tugas kuliah yang saya kerjakan dan saya dapatkan saat kuliah Manajemen tahun 2006 hingga lulus. Hampir sepuluh tahun yang lalu. Koreksilah dahulu, cocokkan dulu dengan bahasannya dan jangan asal kopi-paste, karena bisa saja edisi bukunya berbeda sehingga soal-soalnya berbeda dan akhirnya jawabannya juga berbeda. Adanya gini, jangan minta lebih. Kalau mau perfect ya kerjakan sendiri. Tugas-tugas saya ini hanya sebagai penunjang yang fungsinya supporting, bukan sebagai tulang punggungnya. Gunakan dengan bijak, semoga bermanfaat.

About