Pages

Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 September 2006

TEKNIK MENYUSUN DAFTAR PUSTAKA

Catatan dari Pak Tubiono :
Dalam bahasa Inggris daftar pustaka disebut bibliography. Kepustakaan bermaksud memberikan daftar tabulasi dari semua karya yang dijadikan sumber referensi tulisan dalam skripsi, tesis, disertasi, dan karya ilmiah lainnya. Melalui daftar itu, pembaca karangan ilmiah dapat mengetahui keseluruhan sumber-sumber yang digunakan dalam tulisannya tanpa membolak-balik halaman.
Pembaca yang ahli segera dapat menduga kuantitas dan kualitas pembahasan dalam karangan ilmiah tersebut. Bagi orang yang bermaksud m,enyelidiki lebih jauh pernyataan yang terdapat dalam karangan ilmiah tersebut, kepustakaan dapat digunakan sebagai sumber referensi yang langsung.



A. Bentuk/Susunan Daftar Pustaka
  1. Masing-masing kepustakaan ditulis dengan jarak baris satu spasi tunggal.
  2. Jarak antara masing-masing kepustakaan adalah 2 spasi tunggal.
  3. Huruf pertama dari baris pertama masing-masing kepustakaan diketik tepat pada garis tepi kiri tanpa indensi, sedangkan baris berikutnya digunakan indensi 10 karakter.
  4. Nomor urut tidak dicantumkan.

B. Nama Penulis
  1. Nama penulis disusun menurut abjad.
  2. Nama keluarga menempati urutan huruf dalam abjad (nama dibalik susunannya).
  3. Jika penulisnya lebih dari 2 (3) orang, penulisannya sama dengan penulisan pada footnote.
  4. Jika seorang penulis menulis lebih dari satu karya dan karya itu digunakan sebagai bahan bacaan, nama penulis berikutnya diganti dengan garis yang tidak terputus sepanjang 10 karakter.
  5. Nama cina tidak perlu dibalik.
  6. Semua gelar akademik dihilangkan.
  7. Nama yang terdiri dari 2 unsur diperlakukan seperti nama marga.
  8. Penulis yang terdiri 2 orang dapat dibubuhkan kata “dan”.

C. Judul buku
  1. Judul buku yang sudah dipublikasikan diketik dengan huruf miring atau digarisbawahi.
  2. Judul artikel ditulis dalam tanda petik.
  3. Jilid/edisi/nomor penerbitan ditulis setelah judul buku.
  4. Jika nama penulis tidak dicantumkan, judul buku dapat menggantikan urutan abjad.
Contoh:
DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah, Sabarti dkk.1986. Kalimat Efektif. Jakarta: Universitas Terbuka.

Keraf, Gorys.1980. Komposisi. Ende: Nusa Indah. 
__________.1980. Tata Bahasa Indonesia. Ende: Nusa Indah.

“Kongres Bahasa Jawa IV Tahun 2006”. WWW-kbj42006.com.id. Diakses pada tanggal 27 Desember 2005. Pukul. 10.00 WIB.

Sumowijoyo, G.S.1980. “Ragam Bahasa Indonesia Baku”. Kompas.  5 Januari. hlm. 10, Kol. 4.

Selasa, 05 September 2006

CIRI-CIRI KALIMAT BAKU (STANDAR) BAHASA INDONESIA

Catatan dari Pak Tubiono : 
I. Sesuai dengan tata bahasa (Gramatikal)
   Ini berarti bahwa:
a)      Fungsi-fungsi suku kalimat yang meliputi subjek, predikat,  objek,
         dan keterangan terlihat dengan jelas. Ketidakjelasan fungsi-fungsi tersebut meragukan kebakuannya.         
          Misalnya   : Untuk mengetahui tinggi rendahnya pendidikan
                                seseorang dapat dinilai dari cara dia berbicara.
          Yang baku: Tinggi rendah pendidikan seseorang dapat dinilai        
                     dari cara berbicaranya.
b)      Kalimat itu paling sedikit terdiri atas subjek dan predikat,  kecuali kalimat perintah atau jawaban pertanyaan. Kalimat yang bersubjek saja atau berpredikat saja bukan kalimat yang baku
          Misalnya   : Demikian untuk dimaklumi.
                     (Demikian harap maklum)
          Yang baku: Demikian, Bapak/Ibu/Sdr. maklum hendaknya.
c)      Kalimat itu dapat kita tata kembali (kita permutasikan) atas dasar frasa-frasanya. Kalimat yang tidak dapat kita permutasikan bukan kalimat yang baku
Misalnya   : Soal itu saya kurang jelas.
Yang baku: Soal itu bagi saya kurang jelas.
                     (Bagi saya soal itu kurang jelas)
d)     Suku kalimat tidak dapat berdiri sendiri sebagai kalimat
Misalnya    : Peristiwa itu perlu mendapat perhatian kita.
                     Sehingga kita tidak menghadapi kesulitan pada  
                     masa yang akan datang.

        Yang baku: Peristiwa itu perlu mendapat perhatian, sehingga
                   kita tidak menghadapi kesulitan pada masa yang
                             akan  datang.
e)      Suku-suku kalimat yang terdiri atas kelompok-kelompok kata, tersusun menurut kaidah yang berlaku
Penggandaan subjek yang tidak berfungsi bukan kalimat  
         yang baku.
         Misalnya   : Penyusunan laporan ini kami mendapat bimbingan
                              bapak dosen.
         Yang baku: Dalam menyusun laporan ini, kami mendapat
                    bimbingan bapak dosen.
f)       Kalimat baku tidak mencampuradukkan dua pola struktur yang berbeda
          Misalnya   : Harga minyak dibekukan ataukah kenaikan   
                     secara luwes?
Yang baku: Harga minyak dibekukan ataukah dinaikkan  
                      secara luwes?
g)      Kontaminasi (perancuan) struktural merupakan kalimat yang tidak baku
Misalnya   : Dalam rapat itu membicarakan SPP.
          Yang baku: Rapat itu membicarakan SPP.
h)      Subjek tidak diawali: bagi, untuk, dengan, sebagai, pada, kepada, dalam, di dalam, di, ke, dan dari
Misalnya  : Bagi yang belum mengerti boleh bertanya.
                   Di tempat itu kekurangan beras.
                   Dengan naiknya gaji menyebabkan kenaikan  harga.
                   Kepada para pemenang diberi hadiah.
            Yang baku: : Yang belum mengerti boleh bertanya.
                   Tempat itu kekurangan beras.
                    Naiknya gaji menyebabkan kenaikan harga
                    Para pemenang diberi hadiah.
i)        Unsur-unsur gramatikal yang berasal dari dialek setempat dan bahasa daerah terhindari pemakaiannya
Misalnya   : Duduklah yang baik!
       Yang baku: Duduklah baik-baik!
j)        Pola frasa verbal “aspek + agens + verbal” terpakai secara tertib
Misalnya   : Surat itu saya sudah baca.
         Yang baku: Surat itu sudah saya baca.
k)      Hubungan antara kata kerja transitif dengan objek penderita tidak disisipi oleh kata depan (preposisi)
Misalnya   : Dengan ini, saya mengharapkan atas kehadiran
                            Bapak/Ibu.
            Yang baku: Dengan ini, saya mengharapkan kehadiran
                            Bapak/Ibu.
l)        Kata-kata Tanya: apa, apakah, di mana, siapa, yang mana, mana, yang berfungsi predikatif dalam kalimat tanya terpakai secara tepat
Misalnya   : Apa Anda sudah mengerti?
                             Kota itu dilanda banjir di mana saya pernah tinggal.
            Yang baku: Sudah mengertikah Anda?
                             Saya pernah bertempat tinggal di kota yang dilanda
                             banjir itu. 
m)    Unsur-unsur seperti yang, bahwa, tetapi, maka, terpakai secara tepat
Misalnya    : Siapa menyanyikan lagu itu?
                             Meskipun keadaannya terlalu parah, tetapi mereka
                             masih dapat tersenyum.
                             Karena gangguan alam, maka harga barang-barang
                             naik.
       Yang baku : Siapakah yang  menyanyikan lagu itu?
                             Meskipun keadaannya terlalu parah, mereka
                             masih dapat tersenyum.
                             Karena gangguan alam, harga barang-barang naik
n)      Awalan, akhiran, dan gabungan awalan dengan akhiran, terpakai secara tepat
Misalnya   : Atas perhatiannya diucapkan terima kasih.
                               Di Surabaya, Menteri Sosial memberi bantuan 5 juta
                               rupiah.
         Yang baku: Atas perhatian Saudara, saya (kami) ucapkan terima
                               kasih.
                               Di Surabaya, Menteri Sosial memberikan bantuan
                               5 juta rupiah.
o)      Kata benda yang sudah dijamakkan dengan kata-kata yang menyatakan banyak tidak memerlukan perulangan lagi.
         Misalnya   : Desember yang akan datang, para ibu-ibu akan
                              merayakan Hari Ibu di Istana Negara.
         Yang baku: Desember yang akan datang, para ibu (ibu-ibu) akan
                              merayakan Hari Ibu di Istana Negara

II. Cermat
     Pengertian cermat meliputi:
       (a). Tepat dalam pemilihan kata-kata
              Misalnya   : Bibit padi itu diangkut dengan pesawat terbang
                                   ke NTT.
              Yang baku: Benih padi itu diangkut dengan pesawat terbang
                                   ke NTT.
           (b).  Tidak menimbulkan tafsiran ganda.
                Misalnya   : Istri karyawan yang rajin itu mendapat                                    
                                     penghargaan.   
                Yang baku: Istri - karyawan yang rajin itu mendapat
                           penghargaan.   
        (c). Tidak boros
               Misalnya   : Dokter menasihati pasien agar supaya makan
                                    bubur halus.
               Yang baku: Doklter menasihati pasien agar makan bubur
                                    halus.
       (d).  Tidak berlebihan.
               Misalnya   : Saya mengucapkan beribu-ribu terima kasih.
               Yang baku: Saya mengucapkan (banyak) terima kasih
               (banyak).

III. Masuk akal (logis).
       Karena berbahasa itu mengemukakan logika, kalimat-kalimat yang         mendukungnya haruslah dapat diterima akal.
       Misalnya   : Sekarang acara sambutan Ketua Panitia. Waktu
                            dipersilahkan.
       Yang baku: Sekarang acara sambutan Ketua Panitia. Waktu kami
                            berikan (sediakan).
                            (Ketua Panitia, kami silakan.)

IV. Tidak bertele-tele.
       Kalimat yang bertele-tele mencerminkan cara berpikir yang tidak sistematis dan jalan pikiran yang berbelit-belit.
       Misalnya  : Menurut keterangan polisi Surabaya aksi protes                                      tersebut ditujukan kepada seorang dosen dengan di bawah pimpinan seorang mahasiswa yang mempunyai maksud tidak setuju dengan tindakan tersebut yang dalam pengantar perkuliahannya bertindak tidak wajar terhadap mahasiswa-mahasiswanya dengan cara  memukul dan melempar anak kunci dan memprotes metode yang dilakukan dalam laboratorium bahasa.
     Yang baku: Polisi Surabaya menerangkan bahwa protes yang ditujukan kepada seorang dosen itu bermaksud tidak menyetujui sikapnya yang tidak wajar terhadap                 mahasiswa dalam perkuliahannya. Ketidakwajaran tampak pada saat memukul dan melempar mahasiswa dengan anak kunci. Selain itu, aksi juga bermaksud                 memprotes metode yang diterapkan dalam Laboratorium Bahasa.

  V. Sesuai dengan ejaan yang berlaku.
       Kalimat yang baku tertulis secara konsekuen dengan ejaan yang berlaku.
VI. Sesuai dengan lafal Indonesia.
      Lafal Indonesia ialah lafal yang sudah disepakati kebenarannya oleh mayoritas penutur BI.

      Misalnya    : memberiken      Yang baku: memberikan
                            proqram                                 program
                            yunit                                        unit
                            semangkin                               semakin

                            temen                                       teman

Senin, 04 September 2006

PENUTUP

Kepuasan konsumen memang tidak dapat dipisahkan dari kualitas produk. Dengan adanya mutu yang berkualitas tinggi, akan membuat berbagai dampak baik positif maupun negatif tergantung dari produk itu sendiri.
Apabila produk itu baik, bermutu dan berkualitas tinggi, maka dapat dipastikan masyarakat akan mengakui keunggulan produk tersebut dibandingkan dengan produk lain yang sejenis. Dengan kepastian itu, otomatis akan terbangun image produk dan perusahaan yang berkembang di kalangan masyarakat. Image tersebut dapat digunakan untukekspansi produklain ataupun hal-hal yang berhubungandengan pemasaran produk maupun perusahaan, sehingga perusahaan dapat menjadi lebih tangguh dan kompetitif. Image tersebut membuat kepercayaan masyarakat semakin tinggi, sehingga dapat membuat penilaian yang baik terhadap perusahaan, produk itu sendiri, dan tidak menutup kemungkinan produk lain yang juga diproduksi juga oleh perusahaan.
Image yang baik, kepercayaan yang tinggi dari masyarakat memberikankontribusi yang tidaksedikit terhadapperilakukonsumen. Konsumen,cenderung membeliterus-menerus produk yang dihasilkan apa bila sudah merasa cocok dengan sebuah barang. Terutama bila produk tersebut memberikan hasil yang melebihi apa yang diharapkan oleh konsumen. Mereka bahkan tidak segan-segan membeli lebih dari satu unit barang sekali beli atau bahkan mengajak konsumen lain untuk turut menggunakan barang tersebut. Loyalitas konsumen pun tidak perlu diragukan lagi.
Semakin baik kuailtas yang dimilikioleh produk,maka akan memicukompetityor untuk berinovasi meningkatkan kualitas yang lebih tinggi lagi untuk menaklukkan produk yang paling digemari masyarakat.Produk tersebut akan diteliti dan dicari kelemahannya. Setelah ditemukan kelemahannya, akan dihasilkan sesuatu yang menutup kelemahanproduk tersebut dan dipasang sebagai keunggulan produk kompetitor.Persaingan tersebut akhirnya menguntungkan konsumen karena semakin banyak persaingan, maka produsen cenderung berinovasi menghasilkan produk yang berkualitas dengan harga yang semakin murah sehingga konsumen dapat mendapatkan barang yang bermutu tinggi namun terjangkau secara harga.
Mengenai adanya peningkatan permintaan dan penjualan terhadap peroduk itu, tergantung pada setinggi apa kualitas barang tersebut dan sesuai tidaknya dengan harga yang dipatok di pasar. Walau bagaimana pun,permintaan masyarakat terhadap produk yang bersangkutan tetap tergantung pada harga barang tersebut (Terutama di Indonesia,  yang notabene masyarakatnya lebih mementingkan jumlah kuantitas dan harga).
Namun, apabila kualitas produk tersebut dianggap buruk oleh masyarakat, secara otomati akan terjadi hal-hal yang berkebalikan dengan apa yang ada pada perusahaan dengan mutu tinggi. Dapat dimungkinkan terjadi penurunan image atau kehancuran perusahaan. Penurunan image membuat nama perusahaan tidak terhitung dalam persaingan pasar. Sekali terjadi kesan buruk, maka akan sulit untuk pembersihan nama perusahaaan. Pengembaliannama baikperusahaan hanya dapat dilakukan oleh perusahaan-perusahaan tertentu yang benar-benar kompeten atau beruntung. Sulit sekali menghapus paradigma maupun pandangan yang buruk dari masyarakat daripada menghapus kesan baik dari benak masyarakat. Kepercayaan konsumen turun dan akhirnya berimbas pada penurunan volume penjualan.
Tidak hanya terjadi penurunan penjualan. Kualitas buruk yang dimiliki produk dapat membuat perusahaan kebanjiran kritik terutama bagi perusahaan besar yang telah memiliki kepercayaan konsumen sebelumnya. Lambat laun, apabila perusahaan tidak segera memperbaiki kualitas produk atau pun mengganti barang dengan kualitas yang lebih bermutu, konsumen tidak akan puas akan berpindah ke produk pesaing yang berarti kepailitan bagi perusahaan.


 

Blogroll

Ini adalah aneka tugas kuliah yang saya kerjakan dan saya dapatkan saat kuliah Manajemen tahun 2006 hingga lulus. Hampir sepuluh tahun yang lalu. Koreksilah dahulu, cocokkan dulu dengan bahasannya dan jangan asal kopi-paste, karena bisa saja edisi bukunya berbeda sehingga soal-soalnya berbeda dan akhirnya jawabannya juga berbeda. Adanya gini, jangan minta lebih. Kalau mau perfect ya kerjakan sendiri. Tugas-tugas saya ini hanya sebagai penunjang yang fungsinya supporting, bukan sebagai tulang punggungnya. Gunakan dengan bijak, semoga bermanfaat.

About