Pages

Senin, 22 September 2014

Resume Makroekonomi Samuelson : CHAPTER 5 (Ch. 21 English Ed.) dan CHAPTER 6 (Ch. 22 English Ed.)

Mengukur Aktivitas Ekonomi
CHAPTER 5 (Ch. 21 English Ed.)


Produk Domestik Bruto : Ukuran Performa Perekonomian
PDB atau GDP (Gross Domestic Product) adalah total nilai pasar dari barang jadi dan jasa yang dihasilkan di dalam suatu negara selama satu tahun tertentu.
Ini merupakan angka yang anda dapatkan ketika kita menerapkan ukuran yang mengukur uang atas barang dan jasa. GDP merupakan pengukuran yang paling luas dari total output barang dan jasa suatu negara. Ini merupakan jumlah nilai dollar konsumsi (C), investasi bruto (I), pembelanjaan pemerintah atas barang dan jasa (G) dan ekspor netto (NX) yang dihasilkan suatu negara selama satu tahun tertentu. GDP digunakan untuk banyak tujuan, tetapi yang paling penting adalah mengukur keseluruhan performa suatu perekonomian.
Dalam simbol :
GDP = C + I + G + NX

Dua Ukuran Produk Nasional : Alur Barang dan Alur Penghasilan
Kita dapat mengukur GDP dengan dua cara ;
Ø  Pendekatan Alur Produk ( Pendekatan Produksi )
Dengan menghitung arus produk jadi, dapat dirumuskan dengan cara :
GDP = P1 + P2 + P3 + P4 + ... + P n
Ø  Pendekatan Penghasilan ( Pendekatan Pendapatan atau Biaya )
Dengan menghitung total biaya atau penghasilan dari input yang mneghasilkan output.
GDP = W + I + R + P
Laba adalah apa yang tersisa dari penjualan suatu produk setelah pembayaran biaya-biaya faktor lain.

Permasalahan “ Penghitungan Ganda ”
Suatu produk jadi adalah sesuatu yang dihasilkan dan dijual untuk konsumsi atau investasi. GDP tidak menyertakan barang antara atau barang setengah jadi yang merupakan barang-barang input yang digunakan untuk menghasilkan barang lain.

“ Nilai Tambah ” Pada Putaran Bagian Bawah
Nilai Tambah adalah selisih antara penjualan perusahaan dengan pembelian material dan jasa dari perusahaan lain.
Pendekatan nilai tambah :
Untuk menghidari penghitungan ganda, dengan berhati-hati kita harus memasukkan basrsng jadi saja dalam GDP dan tidak menyertakan barang-barang antara yang dipakai dalam pembuatan barang jadi.
Dengan mengukur nilai tambah pada masing-masing tahap, berhati-hati dalam mengurangi pengeluaran atas barang-barang antara yang dibeli dari perusahaan lain, pendekatan penghasilan putaran-putaran bagian bawah secara tepat menghindari semua perhitungan ganda dan mencatat upah, bunga, uang sewa, dan keuntungan persis hanya satu kali.

GDP Riil vs GDP Nominal
GDP Nominal
GDP Riil
Dihitung menggunakan harga yang berubah-ubah.
Dihitung menggunakan harga-harga yang konstan.

Ketika kita membagi GDP nominal dengan GDP Riil, kita mendapatkan Deflator GDP yang berlaku sebagai ukuran dari seluruh tingkat harga. Kita dapat menghitung GDP Riil dengan membagi GDP Nominal dengan Deflator GDP.

GDP Nominal (PQ) merupakan total nilai uang dan barang jadi dan jasa yang dihasilkan dalam satu tahun tertentu, dimana nilai-nilainya dinyatakan dalam harga-harga pasar setiap tahun.
GDP Riil (Q) menghilangkan perubahan-perubahan harga dari GDP nominal dan mneghitung GDP dengan harga-harga konstan. Deflator GDP tradisional (P) merupakan “harga GDP” dan ditetapkan sebagai berikut :
Q = GDP Riil = GDP Nominal = PQ
                          Deflator GDP       P
Untuk mengoreksi harga-harga relatif yang berubah dengan cepat, perhitungan nasional negara menggunakan timbangan rantai untuk menyusun GDP Riil dan indeks harga.
Produk Domestik Bruto adalah jumlah dari semua produk jadi. Bersama dengan barang-barang konsumsi dan jasa, kita juga juga harus memasukkan investasi bruto. Investasi netto sama dengan investasi bruto dikurangi depresiasi.
GNP merupakan total output yang dihasilkan dengan tanga kerja atau kapital yang dimiliki oleh oleh penduduk, dengan tenaga kerja dan kapital yang berlokasi dalam negara.
NDP sama dengan total output akhir yang dihasil di dalam suatu negara selama satu tahun, dimana output hanya meliputi investasi netto, atau investasi bruto dikurangi depresiasi :
NDP = GDP – Depresiasi
Indeks Harga dan Inflasi
Indeks harga merupakan suatu ukuran tingkat harga rata-rata. Inflasi merupakan kenaikan di dalam tingkat harga umum. Laju inflasi merupakan laju perubahan tingkat harga umum dan diiukur sebagai berikut :
Laju Inflasi :
Tingkat Harga (tahun t) – Tingkat Harga (tahun t-1) x 100
Tingkat Harga (Tahun t-1)
Suatu indeks harga merupakan rata-rata penimbangan harga dari sejumlah barang dan jasa. Yang terpenting dari indeks harga adalah Indeks Konsumen, deflator GDP, dan Indeks Harga Produsen.
Indeks Harga disusun dengan memberi bobot setiap harga menurut kepentingan ekonomi dan komoditas yang sedang dibicarakan.

The Producer Price Index (PPI)
Timbangan tetap yang digunakan untuk menghitung PPI adalah penjualan netto dari setiap komoditas. Karena detilnya yang besar, indeks ini digunakan secara luas oleh bisnis.


Konsumsi dan Investasi
CHAPTER 6 (Ch. 22 English Ed.)

Konsumsi adalah pengeluaran oleh rumah tangga atas barang jadi dan jasa.
Tabungan adalah bagian dari pendapaatn pribadi setelah pajak yang tidak dikonsumsi.

Konsumsi, Pendapatan, dan Tabungan
Tabungan Pribadi adalah bagian dari pendapatan setelah pajak yang tidak dikonsumsi, tabungan sama dengan pendapatan dikurangi konsumsi. Kajian ekonomi telah menunjukkan bahwa pendapatyan merupakan penentu utama dari konsumsi dan tabungan. Hubungan ini ditunjukkan dengan :
ü  Fungsi Konsumsi menghubungkan Konsumsi dan Pendapatan
ü  Fiungsi Tabungan menghubungkan tabungan dengan pedapatan

Fungsi Konsumsi
Fungsi Konsumsi menunjukkan hubungan antara tingakat pengeluaran konsumsi dengan tingakat pendapatan pribadi yang siapa dibelanjakan. Kelebihan konsumsi atas pendapatan disebut dissaving.
Dalam grafik, pada titik manapun pada garis 45’, konsumsi sama persis dengan pendapatan dan rumah tangga memiliki tabungan nol. Keadaan ini disebut Break Even Point. Ketika fungsi konsumsi terletak diatas garis 45’, rumah tangga sendiri memiliki tabungan positif. Jumlah dissaving atau tabungan selalu diukur dengan jarak vertikal antara fungsi konsumsi dan gari 45’.

Fungsi Tabungan
Fungsi tabungan meninjukkan hunbungan antara tingkat tabungan dan pendapatan.


Kecenderungan Marginal Untuk Mengkonsumsi
Konsep ini disebut The Marginal Propensity to Comnsume atau MPC. MPC adalah jumlah ekstra yang dikonsumsi orang ketika mereka menerima dollar ekstra dari pendapatan setelah pajak.
Slope fungsi konsumsi, yang mengukur perubahan dalam konsumsi setiap perubahan dollar pada pendapata setelah pajak, merupakan kecenderungan marginal untuk mengkonsumsi.

Kecenderungan Marginal Untuk Menabung
Kecenderungan marginal untuk mengkonsumsi diiringi oleh bayangan cerminnya, The Marginal Propensity to Save atau MPS. Kecenderungan marginal untuk menabung didefinisikan sebagai bagian dari dollar ekstra dari pendapatan setelah pajak yang masuk ke tabungan ekstra.

Pada tingkat pendapatan berapapun, MPS dan MPC harus selalu berjumlah persis 1, tidak lebih tidak kurang. Dimanapun dan selalu MPS = 1 – MPC.

Perilaku konsumsi dan tabungan merupakan kunci untuk memahami pertumbuhan ekonomi dan siklus bisnis. Baik observasi maupun kajian statistik menunjukkan bahwa tingkat pendapatan setelah pajak saat ini merupakan faktor sentral yang menentukan konsumsi suatu negara.
Penentu lebih jauh yang penting dari jumlah konsumsi adalah kekayaan. Fakta bahwa kekayaan yang lebih tinggi menyebabkan konsumsi yang lebih besar disebut efek kekayaan.

Investasi
Investasi memainkan dua peran dalam ilmu ekonomi ;
¦ Sebagai komponen pembelanjaan yang besar dan mudah berubah, investasi seringkali mengarah pada perubahan dalam keseluruhan permintaan dan siklus bisnis.
¦ Sebagai akumulasi modal yang menambah output potensial dan mengembangkan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Revenue
Invesatasi akan memberikan perusahaan revenue tambahan jika investasi itu membantu perusahaan menjual lebih banyak produk.

Biaya
Karena barang-barang investasi dapat bertahan selama bertahun-tahun, maka mempoerhitungkan biaya invesati agak lebih rumit daripad amemperhitungkan biaya untuk komodiyas yang lain

Ekspektasi
Elemen ketiga dalam penentu investasi adalah ekspektasi laba dan kepercayaan bisnis. Investasi, tertama sekali, merupoakan spekulasi atas masa depan, suatu taruhan bahwa revenue dari suatu investasi akan melebihi biayanya.
Bisnis berinvesatasi untuk memperoleh laba. Karena barang modal dapat bertahan bertahun-tahun, keputusan investasi bergantung pada :
¨      Permintaan untuk output yang dihasilkan oleh investasi baru.
¨      Suku bunga pajak yang mempengaruhi biaya investasi
¨      Ekspektasi bisnis mengenai keadaan perekonomian.

Untuk menunjukkan hubugan antara suku bunga dan investasi, para ekonom menggunakan skedul yang disebut kurva penmintaan investasi.

Kamis, 18 September 2014

Resume Makroekonomi Samuelson : CHAPTER 9 (Ch. 26 English Ed.)

Uang, Perbankan, dan Pasar Finansial


Uang dan Suku Bunga
Uang adalah segala sesuatu yang berfungsi sebagai alat tukar yang diterima umum.

Evolusi Uang :
Barter à Uang Komoditas à Uang Modern

Uang Modern
Di zaman modern sekarang ini, kita tidak menginginkan untuk mengkonsumsi uang secara langsung, namun kita menggunakannya dengan membuangnya. Membuangnya maksudnya menggunakannya dengan membelanjakannya.
Syarat Uang :
Ø  Mudah dibawa dan disimpan
Ø  Bisa dilindungi dari pemalsuan
Ø  Dapat diterima sebagai alat pembayaran

Komponen-komponen suplai uang :
»        Uang Transaksi (Sempit) – M1
Terdiri dari hal-hal yang sesungguhnya digunakan untuk transaksi dalam peredaran di luar bank ditambah. Merupakan tender legal yang harus diterima untuk semua pembayaran, umum ataupun swasta.
Komponen-komponen M1 :
º        Koin, meliputi koin-koin yang tidak dipegang oleh bank.
º        Uang kertas
º        Rekening Cek, yaitu dana yang disimpan di bank atau institusi finansial lainnya.
»        Uang Luas (Uang dekat / Dana cair)– M2
Aset sejenis yang merupakan pengganti sangat dekat untuk uang sempit. Uang luas tidak dikategorikan dalam uang sempit karena :
1.      Mereka tidak dapat digunakan untuk setiap pembelian
2.      Dapat ditukar menjadi uang dengan cepat Tanpa kehilangan nilainya.
Contoh uang luas :
1.      Deposito dalam rekening tabungan di bak
2.      Reksa dana pasar uang yang dijalankan oleh pialang
3.      Deposito dalam rekening deposito pasar uang yang dijalankan bank komersial.

Suku Bunga : Harga Uang
Bunga adalah pembayaran yang dilakukan untuk penggunaan uang.
Suku Bunga adalah jumlah bunga yang dibayarkan per unit waktu yang disebut sebagai presentase dari jumlah yang dipinjamkan.

Suku Bunga Riil vs Suku Bunga Nominal
Suku Bunga Riil
Suku Bunga Nominal
ü  Mengukur pengembalian investasi dalam ukuran barang dan jasa sebenarnya.
ü  Dikoreksi karena inflasi dan dihitung sebagai suku bunga nominal dikurangi tingkat inflasi.
ü  Mengukur pendapatan dalam uang per tahun per uang yang diinvestasikan.
ü  Suku bunga atas uang dalam ukuran uang.



Fungsi Uang
ð  Sebagai alat tukar
ð  Sebagai satuan hitung
ð  Sebagai alat penyimpan nilai

Ekonomi Keuangan
Ekonomi finansial adalah cabang ilmu ekonomi yang membahas tentang bagaimana para investor rasional harus mengalokasikan dana mereka untuk mencapai tujuan mereka dengan cara sebaik mungkin.
Aset Finansial adalah klaim moneter oleh satu pihak ke pihak yang lain.

Jenis-jenis utama aset :
X       Uang
X       Rekening tabungan, meliputi deposito dari bank yang biasanya dijamin pemerintah.
X       Sekuritas pemerintah, yaitu surat dagang dan obligasi pemerintah.
X       Ekuitas adalah hak kepemilikan atas perusahaan.
X       Derivatif Keuangan adalah bentuk baru dari instrumen finansial yang nilainya berdasarkan pada atau diturunkan dari nilai aset lainnya.
X       Dana pensiun mewakili kepemilikan dalam aset yang dipegang perusahaan atau rencana pensiun.

Teori Pasar Efisien
Efisiensi maksudnya informasi yang cepat diserap.
Pasar Keuangan efisien adalah pasar dimana semua informasi baru cepat dipahami oleh peserta dan segera tergabung dalam harga pasar.

Strategi Keuangan Personal
  1. Kenali investasi
Bersikap realistis dan cermat dalam keputusan investasi.
  1. Diversifikasi
Menempatkan dana dalam sejumlah investasi yang berbeda untuk mengurangi resiko.
  1. Pertimbangkan dana indeks saham biasa
Dana indeks adalah portfolio saham dari banyak perusahaan.
  1. Minimalkan biaya pajak yang tak diperlukan
  2. Cocokkan investasi dengan preferensi resiko
Meningkatkan ekspektasi laba dengan resiko yang ditanggung secara keuangan dan psikologis.

Senin, 08 September 2014

Tugas Akhir Komunikasi Bisnis : PENGARUH CITRA MEREK PADA PERILAKU KONSUMEN


I.`Pendahuluan

Sebuah produk hendaknya memiliki suatu image yang dicerminkan oleh sebuah merek sehingga menggambarkan karakteristik dirinya dengan mengandalkan kemodernan dan meninggalkan paradigma kuno. Dengan image tersebut, maka produk tersebut diharapkan dapat setidaknya masuk dalam benak konsumen yang tentunya dapat dijadikan kekuatan perusahaan untuk bersaing di kancah persaingan global (Tandjung, 2004:144).

Era globalisasi yang telah mempengaruhi segala aktivitas ekonomi di dunia memberikan peluang yang besar dan tantangan yang tinggi pula bagi semua perusahaan. Keadaan ini menciptakan pasar yang lebih luas bagi pelaku ekonomi, namun di sudut pandang berbeda keadaan ini juga menciptakan persaingan yang semakin kuat dan kejam, mengingat para konsumen juga mendapatkan informasi dan komunikasi yang semakin canggih (Tony dan Tumpal, 2005).

Merek yang paling kuat menyajikan lebih daripada sekedar daya tarik rasional: merek tersebut mengandung kekuatan emosional (Kotler,2005:83). Maksudnya, pada saat merek menyentuh emosional konsumen dan membawa konsumen jauh ke dalamnya, bukan hanya sekedar memperlihatkan atribut-atribut tertentu saja. Selain itu, brand equity dapat menciptakan nilai bagi pelanggan maupun perusahaan. Dengan image yang positif, pelanggan akan merasa puas karena produk yang dibelinya memiliki kualitas dan asosiasi merek yang unggul.

Persaingan global sudah diambang pintu dan tiap perusahaan dituntut untuk semakin profesional dan kreatif supaya tidak tersisih dalam kompetisi. Maka dari itu, studi ini bertujuan untuk membahas pengaruh brand image terhadap perilaku konsumen, penjualan maupun nama serta nilai perusahaan di mata pelanggan. Kerangka berpikir studi ini adalah sebagai berikut : Bagian kedua akan menjelaskan tentang pengertian merek, brand equity maupun asosiasi merek. Kemudian bagian ketiga akan memaparkan sikap konsumen terhadap merek dan image produk tersebut. Lalu di bagian keempat akan mendiskusikan perlunya perusahaan memperhatikan imagenya dan pentingnya masyarakat lebih cerdik dalam memilih produk berdasarkan brand imagenya. Dan kesimpulan yang disajikan pada bagian terakhir akan menjadi penutup dalam tulisan ini.

Referensi

Kotler, P., 2003. Marketing Management. Eleventh edition, New Jersey, Prentice Hall Inc.

Tandjung, Jenu. ‘Marketing Management : Pendekatan Pada Nilai-Nilai Pelanggan’ Edisi Kedua, Malang, Bayu Media Publishing.

Toni, S. dan Tumpal, S., ‘Pengaruh Citra Merek dan Sikap Merek Terhadap Ekuitas Merek, Jurnal Ekonomi Perusahaan, 12(2):166-182.



Persaingan global sudah diambang pintu dan tiap perusahaan dituntut untuk semakin profesional dan kreatif supaya tidak tersisih dalam kompetisi. Maka dari itu, studi ini bertujuan untuk membahas pengaruh brand image terhadap perilaku konsumen, penjualan maupun nama serta nilai perusahaan di mata pelanggan. Kerangka berpikir studi ini adalah sebagai berikut : Bagian kedua akan menjelaskan tentang pengertian merek, brand equity maupun asosiasi merek. Kemudian bagian ketiga akan memaparkan sikap konsumen terhadap merek dan image produk tersebut. Lalu di bagian keempat akan mendiskusikan perlunya perusahaan memperhatikan imagenya dan pentingnya masyarakat lebih cerdik dalam memilih produk berdasarkan brand imagenya. Dan kesimpulan yang disajikan pada bagian terakhir akan menjadi penutup dalam tulisan ini.

Merek adalah nama, istilah, tanda, simbol atau rancangan atau kombinasi hal – hal tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari seseorang atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing (Kotler, 2005:82).

Sebuah merek juga bisa berupa nama, merek dagang, logo atau simbol lain. Merek menjadi alat untuk mengidentifikasikan penjual atau pembuat merek. Selain itu, merek sebenarnya merupakan janji penjual untuk secara konsisten memberikan gambaran, manfaat dan jasa tertentu pada pembeli. Merek – merek terbaik memberikan jaminan kualitas, lebih dari sekedar simbol. Merek mempunyai enam pengertian, yakni (Kotler, 2005:82) :
  1. Merek mengingatkan pada atribut atribut tertentu, contoh mercedes menyatakan sesuatu yang mahal, terancang baik, tahan lama, bergengsi tinggi, nilai jual kembali yang tinggi, cepat dan lain-lain.
  2. Merek menggambarkan manfaat suatu produk, merek lebih dari atribut, karena pelanggan tidak membeli atribut melainkan membeli manfaat. Contoh atribut tahan lama pada produk Mercedes menunjukkan manfaat fungsional untuk tidak perlu membeli mobil baru dlm periode tertentu.
  3. Menyatakan sesuatu tentang nilai produsen, Mercedes berarti kinerja tinggi, keamanan, gengsi, dan lain-lain.
  4. Mewakili budaya tertentu, Mercedes mewakili budaya Jerman : terorganisai, efisien dan kualitas tinggi.
  5. Mencerminkan kepribadian tertentu, jika Mercedes diumpamakan seseorang, maka Mercedes mencerminkan seorang pimpinan yang masuk akal.
  6. Merek menunjukkan jenis konsumen yang membeli atau menggunakan produk tersebut. Pemakainya adalah orang-orang yang menghargai nilai, budaya, dan kepribadian produk tersebut.

2 . 5 Pengertian Brand Awareness
Menjelaskan tentang sikap konsumen terhadap sebuah citra produk, tidak dapat lepas dari brand awarness atau kesadaran merek. Brand Awareness adalah kemampuan pembeli potensial untuk mengenali atau mengingat merek untuk kategori produk tertentu. Berikut merupakan tahap kesadaran terhadap suatu merek :
  1. Top of Mind,
Merek yang disebut pertama kali untuk produk tertentu. Misalnya, dari 100 orang yang ditanya tentang merek televisi, mayoritas menyebut Sony untuk peringkat pertama. Maka Sony adalah Top of Mind produk televisi.
  1. Brand Recall
Merek yang disebut untuk kelas produk tertentu, misalkan untuk televisi adalah Sony atau Toshiba. Sedangkan untuk sepeda motor adalah Honda atau Suzuki. Pada umumnya pelanggan hanya bisa mengingat dan menyebut paling banyak tujuh merek.
  1. Brand Recognition
Pelanggan dapat mengingat merek tapi ingatannya tidak terlalu kuat. Brand Reconition adalah tingkat minimum dalam proses menciptakan kesadaran terhadap merek. Paling tidak, suatu merek pernah didengar oleh masyarakat. Hal ini menjadi lebih penting lagi kalau merek tersebut sudah didisplay pada etalase-etalase supermarket.
  1. Unaware of Brand
Merupakan kontradiksi Top of Mind, dimana masyarakat tidak pernah menyebut merek produk untuk kategori tertentu. Dampaknya tentu saja tingkat penjualan tidak terlalu bagus dan produk tersebut tidak dikenal oleh masyarakat.
3 . Hubungan antara Image dengan Sikap Konsumen
Sangat penting bagi perusahaan untuk memperhatikan citranya di mata konsumen. Karena hal ini berkaitan dengan segala aspek yang dimiliki perusahaan terutama pada penjualan. Sebagai contoh, dalam kasus Kartun Nabi Muhammad yang diterbitkan harian dari Denmark memicu protes dari berbagai penjuru dunia. Akhirnya seluruh belahan dunia terutama dari pihak negara Islam sepakat menghentikan konsumsi segala barang dari Denmark. Padahal produsen-produsen Denmark tersebut tidak ikut mencela Nabi Muhammad namun terkena dampaknya.

5 . Kesimpulan
Dari berbagai penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa konsumen sangat terpengaruh pada citra merek yang terbentuk sejak awal. Citra tersebut dapat dibangun seiring dengan tumbuh dan berkembangnya produk, namun dapat runtuh seketika akibat kesalahan kecil atau Dimana akan menjadi sangat sulit bila sebuah perusahaan menghapus citra buruk yang sudah melekat padanya.

REFERENSI

Kotler, P., 2003. Marketing Management. Eleventh edition, New Jersey, Prentice Hall Inc.

Tandjung, Jenu. ‘Marketing Management : Pendekatan Pada Nilai-Nilai Pelanggan’ Edisi Kedua, Malang, Bayu Media Publishing.
  
PENGARUH BRAND IMAGE
PADA PERILAKU KONSUMEN

Pada dasarnya, iklan memiliki tiga fungsi yaitu memberi informasi, mengingatkan, mempersuasi masyarakat terhadap image sebuah merek. Merek yang paling kuat menyajikan lebih daripada sekedar daya tarik rasional: merek tersebut mengandung kekuatan emosional (Kotler,2005). Istilah loyalitas pelanggan menunjukkan pada kesetiaan pelanggan pada objek tertentu, seperti merek, produk, jasa, atau toko. Pada umumnya merek seringkali dijadikan sebagai objek loyalitas pelanggan. Loyalitas merek mencerminkan loyalitas pelanggan pada merek tertentu (Rully,2006). Pelanggan selaku konsumen juga dapat memberikan sebuah kontribusi yang sangat penting untuk perusahaan. Maka dari itu, perusahaan memang dituntut untuk selalu menjaga citranya dengan sangat baik demi kelangsungan perusahaan di masa mendatang dan nama baik di mata masyarakat. 
Referensi
Kotler, P., 2003. Marketing Management. Eleventh edition, New Jersey, Prentice Hall Inc.
Rully, A.T.,2006. ‘Brand Trust Dalam Konteks Loyalitas Merek: Peran karakteristik Merek, Karakteristik Perusahaan, Dan Karakteristik Hubungan Pelanggan-Merek’, Jurnal Manajemen, 6(1):63-76.

Senin, 01 September 2008

Ringkasan Manajemen Keuangan 1 : Sumber Dana

Macam-Macam Sumber Dana
®  Modal Asing
            - Berbagai Jenis hutang
®  Modal Sendiri
            - Saham
®  Laba yang ditanam kembali
Optimasi Modal
Kegunaan:
            Untuk menentukan apakah sebaiknya mengambil kredit jangka pendek atau jangka panjang
Faktor-faktor yang diperhatikan dalam menentukan jangka waktu kredit
®  Bunga kredit jangka pendek
®  Bunga kredit jangka panjang
®  Bunga simpanan bank
®  Jangka waktu pemakian modal
®  Jangka kritis
            jangka waktu dimana penggunaan modal asing jangka pendek biayanya (beban bungtanya) sama besar dengan apabila perusahaan menggunakan modal asing jangka panjang
 





X         = Jangka kritis
Kpj      = Bunga kredit jangka panjang
Kpd     = Bunga kredit jangka pendek
BS       = Bunga simpanan di bank
Keberlakuan rumus:
Kpd > Kpj > Bs
Kreteria-kreteria yang bisa dipakai untuk menentukan jangka waktu kredit
®  Jangka Kritis
            Jangka waktu Penggunaan modal lebih lama daripada jangka kritisnya, maka lebih menguntungkan menggunakan kredit jangka panjang. Sebaliknya apabila jangka waktu penggunaan modal lebih pendek daripada jangka kritisnya, maka lebih menguntungkan menggunakan kredit jangka pendek
®  Beban Bunga
            Beban bunga yang lebih rendah yang dipilih
Contoh:
            Sebuah perusahaan membutuhkan tambahan dana sebesar Rp. 10.000.000,00 untuk jangka waktu 150 hari (5 bulan). Bunga kredit jangka panjang 15% per tahun; bunga kredit jangka pendek 18% dan bunga simpanan bank sebesar 12% per tahun.

Pertanyaan:
            Manakah yang lebih baik bagi perusahaan, menggunakan kredit jangka pendek atau kredit jangka panjang?
 




 







Jangka waktu pemakaian lebih panjang dari jangka kritis
®  Jangka waktu pemakaian 210 hari
®  Jangka waktu kritis 6 bulan
Rentabilitas
            Kemampuanmenghasilkan laba dari sejumlah dana yang dipakai untuk menhasilkan laba tersebut.

Macam Rentabilitas:
®  Rentabilitas Ekonomis
®  Rentabilitas Modal Sendiri
Rentabilitas Ekonomis
Merupakan kemampuan untuk menghasilkan laba dari keseluruhan modal, baik modal asing maupun modal sendiri, yang di gunakan untuk menghasilkan laba tersebut.
 






Rentabilitas Modal Sendiri
Merupakan kemampuan untuk menghasilkan laba dari sejumlah modal sendiri yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut
 



Keterangan:
RMS = Rentabilitas modal sendiri
Lb     = Laba bersih (sesudah bunga dan pajak)
MS = Modal sendiri (modal saham)
Kreteria yang dapat dipakai untuk mengambil keputusan
®  Apabila RE< bunga modal Asing, maka lebih baik menggunakan modal sendiri
®  Apabila RE> bunga modal asing, maka lebih baik menggunakan modal asing.
Contoh:
PT. Tsunami pada tahun 1979 telah memiliki modal sebesar Rp 20.000.000 yang terdiri dari atas Rp 10.000.000 sebagai modal sendiri dan Rp 10.000.000 sebagai modal asing. Tahun 1980 perusahaan merencanakan akan memperluas usahanya. Untuk itu diperlukan modal tambahan sebesar Rp 10.000.000 dengan harapan laba dapat meningkat menjadi Rp 4.500.000
Pertanyaan:
Dari sumber manakah tambahan modal akan diambil bilamana diketahui bunga modal asing 12% dan pajak perseroan 45%
Jawab :

Rabu, 16 Juli 2008

Pengaruh Budaya Terhadap Organisasi Perusahaan

Abstrak
Budaya memang sangat berpengaruh pada organisasi.Bila penerapannya baik dan benar akan meningkatkan kinerja karyawan sehingga perusahaan akan mencapai target yang diharapkan atau nilai perusahaan akan meningkat.Namun bila terjadi salah penerapan maka bisa dipastikan perusahaan tersebut akan mengalami kegagalan dalam mencapai tujuan organisasinya.Hal ini dikarenakan budaya tersebut dapat memotivasi karyawan atau sebagai pengikat dalam pencapaian kinerja optimal.Peran pemimpin sangat diperlukan dalam mensosialisasikan budaya dan juga memberi pemahaman kepada karyawan tentang pendeskripsian tugas-tugasnya.Hal ini dilakukan agar karyawan dapat termotivasi dalam pelaksanaan tugas yang diberikan oleh perusahaan.

Kata kunci: budaya, motivasi, kinerja

I Pendahuluan
Indonesia dikenal dengan semboyan Bhineka tunggal ika.Semboyan itu memang benar-benar mewakili keragaman budaya yang ada dinegara ini.Kebudayaan dapat dilihat dari perilakunya yang dapat dibedakan dengan kepribadiannya karena kepribadian adalah latar belakang perilaku yang ada dalam individu(soekanto,1990,hal 171-5).

Namun bagaimana jika unsur budaya masuk kedalam lingkungan organisasi perusahaan?Menurut Richard(2002,hal87-95) budaya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan organisasi karena merupakan bagian dari lingkungan internal tentunya selain karyawan dan manajemen.Masih menurut Richard,konsep budaya membantu para manajer memahami aspek-aspek kehidupan organisasi yang rumit dan tersembunyi.

Setiap individu memiliki karakteristik tertentu, organisasi juga berada pada lingkungan yang berbeda-beda, maka sebagai akibatnya adalah terjadinya perbedaan budaya(Tayeb,1998 dalam jusuf,2006).Perbedan-perbedaan inilah yang kiranya menarik untuk dipelajari.
Nah, apakah perbedaan budaya ini bisa mendorong atau justru merobohkan keberlangsungan organisasi?Untuk itu kerangka berfikir dari essay ini adalah pada bagian awal akan dibahas mengenai pengertian budaya pada organisasi,peranan manajerial dalam budaya organisasi akan mengisi pembahasan berikutnya,dilanjutkan uraian mengenai pengaruh kekuatan budaya,dan pembahasan akan ditutup pada kesimpulan yang terdapat di akhir tulisan ini.


II.                Pengertian budaya  pada organisasi

Para ahli telah banyak mendefinisikan budaya diantaranya adalah E.B.taylor(1871,dalam soekanto,1990 171-5) menurutnya kebudayaan adalah keseluruhan yang didalamnya terdapat pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, kemampuan serta kebiasaan diri masyarakat.Lain lagi dengan selo dkk(dalam soekanto, 1990 171-5)”kebudayaan adalah semua hasil karya , rasa, dan cipta masyarakat”.Pengertian-pengertian diatas hanya mencakup budaya dalam arti luas.

Adapun pengertian budaya pada organisasi menurut Daft(2002:106) adalah nilai-nilai yang dapat dipelajari dalam organisasi.Budiyono(2003) dalam penelitiannya menyebutkan budaya pada organisasi itu adalah nilai-nilai penting yang dimiliki anggota organisasi sebagai pegangan organisasi .Dari kesemuanya dapat kita simpulakan bahwa budaya pada organisasi adalah segala sesuatu yang dapat dipelajari berdasarkan kesepakatan bersama antar anggota yaitu nilai-nilai dalam organisasi yang dipelajari dan dipahami sebagai pedoman sehari-hari untuk mencapai tujuan organisasi.

Budaya organisasi muncul dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah struktur organisasi, jenis organisasi, kebiasaan-kebiasaan dalam organisasi yang ada dikarenakan adanya sejarah perusahaan, serta faktor kepemimpinan.Namun demikian, sebenarnya diawal berdirinya sebuah perusahaan, sengaja atau tidak pendiri perusahaan sudah meletakkan dasar budaya organisasi(firman,2004).Hal ini dikarenakan adanya aturan-aturan serta kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan pendiri perusahaan pada saat perusahaan mulai berjalan.Tidak lain tujuan dari aturan-aturan serta kewajiban-kewajiban itu adalah utuk menyarankan anggota organisasi agar tetap terfokus pada tujuan organisasi.Tanpa adanya ketetapan itu, pelanggaran atau bahkan kegagalan pencapaian tujuan organisasi akan terjadi sebagai akibatnya.

Budaya organisasi perlu beradaptasi terhadap laju pertumbuhan organisasi(firman, 2004).Tentu saja, bayangkan bila perusahaan terus menerapkan budaya lama yang sudah usang dan tidak sesuai jaman.contohnya penggunaan struktur organisasi atau bahkan pemberlakuan keputusan otoriter yang mungkin saja kurang cocok dengan gaya berfikir  para anggota perusahaan .Selain itu perusahaan merugi karena ide-ide segar yang seharusnya dapat dikembangkan perusahaan jadi tidak berguna bahkan dalam jangka panjang hal itu bisa mematikan kreatifitas.

Ada yang disebut dengan budaya positif.Budaya ini berisi nilai tantangan agar memiliki keunggulan bersaing.Kriteria budaya positif diantaranya adalah bukan hanya berupa mission statement jadi harus ada visi yang jelas.Kedua, nilai organisasi harus sesuai dengan tujuan organisasi.Ketiga, setiap karyawan memiliki nilai yang sama  tingginya.Keempat, budaya yang berlaku bersifat adaptable sehingga mudah menyesuaikan diri(sadri&lees, 2001 dalam Irianto, 2006).


II. Peranan manajerial dalam budaya organisasi

Keadaan telah berubah tenaga kerja kini cenderung lebih susah diatur seperti tenaga kerja generasio lalu .Titik pekerjaan berubah dari tenaga manual dan clerical ke knowledge-worker.Knowledge-worker cenderung kurang suka bila dipimpin secara otoriter(tarumingkeng, 2000).Oleh karena itu pihak manajemen harus cepat tanggap terhadap perubahan ini.

Disinilah peran penting manajer  terlihat.Bukan hanya sebagai misi untuk mencapai kinerja tertentu.Tapi bagaimana caranya  agar dapat membentuk budaya positif bagi karyawan .Blake&mouton(1964;1968) telah memperkenalkan “The managerial grid, sebagai alternatif bagi manajer untuk bisa mencapai produksi melalui bawahan, menentukan prilaku yang dipersyaratkan mengubah gaya kepemimpinan sesuai kebutuhan dan untuk mengubah budaya organisasi demi kebaikan”(dalam dongoran, 2004).Dari uraian diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa pencapaian produksi harus bisa seimbang dengan prilaku yang ditampakkan sebagai wujud kepemimpinan sehingga bawahan tidak merasa pekerjaannya sebagai suatu kewajiban yang memaksa/menekan mereka tetapi sebagai suatu hal yang bernilai bila dikejakan dengan baik.
Pembentukan budaya tidak bisa lepas dari peranan pemimpin.Pemimpin membentuk budaya dengan cara merencanakan/memantau kegiatan karyawan dengan kata lain pemimpin harus memperhatikan kinerja karyawan.Yang kedua adalah pemimpin harus bereaksi kritis artinya emosionalitas lingkungan dapat meningkatkan potensi untuk mempelajari nilai-nilai perusahaan.pemimpin juga haus memberikan teladan/contoh terhadap karyawan melalui tindakan mereka sundry.Alokasi bentuk penghargaan seperti peningkatan upah/promosi juga sangat berpengaruh (schein,1992 dalam yukl,1998,300-1).

faktor kepemimpinan ini dinilai berhasil karena para atasan diperhatikan oleh bawahan.Bawahan akan mempelajari nilai-nilai dalam perusahaan dengan melihat perilaku atasan seerta imbalan yang akan mereka dapat (daft,2002,115).

Namun dalam uraian diatas kepemimpinan bukanlah faktor utama dalam penentuan budaya perusahaan.Faktor lain yang berpengaruh yaitu sosialisasi budaya perusahaan serta perancangan sistem dan struktur yang sesuai dengan budaya perusahaan.wigjoseptina (2006) menyatakan bahwa sosialisdasi budaya perusahaan mempunyai pengaruh positif terhadap peningkatan penghayatan budaya, pelayanan yang baik kepada konsumen, kreatifitas dan kerjasama dalam tim.Penyediaan sarana yang digunakan untuk memperlancar pelaksanaan budaya perusahaan.

III.             Pengaruh kekuatan budaya

Budaya-budaya positif bila diterapkan dengan baik dan benar tentu akan berdampak baik bagi karyawan maupun seluruh elemen perusahaan.Karyawan bisa bekerja dengan kebersamaan yang artinya nilai produktifitas akan naik.Oleh karena itu perusahaan harus menciptakan budaya perusahaan yang lebih baik untuk mempertahankan produktifitas karyawan (budiyono, 2003).

Penerapan pemahaman karyawan terhadap budaya p            erusahaan menempati kedudukan penting.Pemahaman ini merupakan pendeskripsian tugas-tugas yang jelas yang diberikan perusahaan.Apabila karyawan diberikan pemahaman secara rinci apa-apa yang harus dilakukan maka setiap karyawan akan termotivasi dan bersemangat untuk melakukan setiap tugas yang diberikan perusahaan. Semakin tinggi pemahaman tentang budaya maka semakin tinggi pula kinerja karyawan (Firman, 2004)

Kekuatan budaya perusahaan memotivasi karyawan untuk bekerja dalam tim yang kompak.Secara tidak langsung budaya ini dapat menjadi tali pengikat karyawan.Ikatan karyawan sangat berguna untuk meningkatkan kinerjanya.

Wigjoseptina (2006) menyatakan bahwa kekuatan budaya perusahaan dapat membuat karyawan bergerak menuju satu tujuan yang sama, memotivasi serta memberikan struktur dan kontrol yang diperlukan tanpa birokrasi atau aturan formal.Artinya kerjasama yang bagus akan mendorong karyawan dalam pencapaian target perusahaan tanpa paksaaan(otoriter)dari atasan sebagai ikatan atasan-bawahan tapi lebih kepada kepuasan kerja.Sehingga nilai perusahaan dapat tercapai secara maksimal.

 Dengan adanya budaya organisasi yang kuat dan sehat disetiap perusahaan akan berdampak positif diperusahaan yang dapat difungsikan sebagai tuntutan yang mengikat karyawan karena diformulasikan secara formal kedalam berbagai peraturan dan ketentuan perusahaan.Dengan demikian perusahaan akan mengalami peningkatan produktivitas dan kinerja.

Seperti yang sudah dibahas pada bagian kedua, salah satu ciri budaya positif adalah adaptable (mudah menyesuaikan diri), untuk menghasilkan kinerja yang tinggi sifat adaptable ini sangat diperlukan dalam penerapan budaya organisasi.Perusahaan selalu berinteraksi dengan lingkungan.hal inilah yang menyebabkan terjadinya pengembangan organisasi maka nilai-nilai tertentu yang dirasa kurang sesuai perlu untuk dirubah.

IV.            Kesimpulan

Budaya pada organisasi adalah segala sesuatu yang dapat dipelajari berdasarkan kesepakatan bersama yaitu nilai-nilai dalam organisasi yang dapat dipelajari dan dipahami sebagai pedoman sehari-hari untuk mencapai tujuan organisasi.Budaya organisasi dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain struktur organisasi, jenis organisasi, kebiasaan-kebiasaan dalam organisasi, serta faktor kepemimpinan.Peranan pemimpin dalam pembentukan budaya sangat penting.Yakni bagaimana caranya agar dapat membentuk budaya positif bagi karyawan.Faktor kepemimpinan dinilai efektif karena para atasan lebih mendapat perhatian dari bawahan.meskipun demikian faktor lain yang berpengaruh yaitu sosialisasi budaya perusahaan serta perancangan sistem dan struktur yang sesuai dengan budaya perusahaan.Kekuatan budaya perusahaan memotivasi karyawan untuk bekerja dalam tim yang kompak.Secara tidak langsung budaya ini dapat menjadi tali pengikat karyawan.Ikatan karyawan sangat berguna untuk meningkatkan kinerjanya. Kerjasama yang bagus akan mendorong karyawan dalam pencapaian target perusahaan tanpa paksaaan (otoriter) dari atasan sebagai ikatan atasan-bawahan tapi lebih kepada kepuasan kerja.Sehingga nilai perusahaan dapat tercapai secara maksimal.Tak hanya itu  pemimpin juga harus bisa mengkomunikasikan budaya positif, budaya yang dinilai sebagai budaya kuat dan sehat yang dapat diterapkan diperusahaan.
  
Referensi

Richard L.daft, 2002, Manajemen, Edisi 5, Erlangga, Jakarta

Soekanto, Soeryono, 1990, Sosiologi:suatu pengantar, PT.Raja grafindo persada, Jakarta

Budiyono, 2003, pengaruh budaya perusahaan terhadap produktifitas kerja karyawan pada perusahaan mebel lindah pasuruan jawa timur, JIPTUMM dept.of management, <www.librarygunadarma.ac.id>

Cita Wigjoseptina, 2006,  pengukuran kekuatan budaya  perusahaan dan identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya , digilib ITB , <http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&node=4503>

Firman, 2004, Dalam interaksi organisasi(sebagai sistem terbuka)dengan lingkungan , acrobat distiller 5.0 windows , <http://www.adobe.com/acrobat/>

Rudy C Tarumingkeng , Kuliah Perdana Manajemen Sumber Daya Manusia, Program Pasca Sarjana – Magister Manajemen, Universitas Kristen Krida Wacana, 14 Februari 2000. Antologi UKRIDA 7:1-9 (2000).
<www.tumoutou.net/strat_psdm.htm>

Yukl, Gary, 1994, kepemimpinan dalam organisasi, prentice hall, New Jersey

Dongoran, Johnson, 2004, siklus hidup organisasi dan gaya kepemimpinan, dian ekonomi, jurnal ekonomi dan bisnis, vol X.no 1 hal 129-57

Junaedi, Sulyana  dan Fandi tjiptono, 2003, pengaruh perilaku pemimpin terhadap inspirasi, kekayaan dan pemberdayaan bawahan:suatu model kepemimpinan transformasional, jurnal riset ekonomi(ISEI), vol 3 no 2 hal 181-96


Irianto, Jusuf, 2006, peran budaya organisasi & komitmen organisasional dalam upaya pencapaian kinerja optimal, vol XVI NO 2 hal 82-91
 

Blogroll

Ini adalah aneka tugas kuliah yang saya kerjakan dan saya dapatkan saat kuliah Manajemen tahun 2006 hingga lulus. Hampir sepuluh tahun yang lalu. Koreksilah dahulu, cocokkan dulu dengan bahasannya dan jangan asal kopi-paste, karena bisa saja edisi bukunya berbeda sehingga soal-soalnya berbeda dan akhirnya jawabannya juga berbeda. Adanya gini, jangan minta lebih. Kalau mau perfect ya kerjakan sendiri. Tugas-tugas saya ini hanya sebagai penunjang yang fungsinya supporting, bukan sebagai tulang punggungnya. Gunakan dengan bijak, semoga bermanfaat.

About